
Seisi sekolah mulai merasa bingung, entah ingin sedih atau bahagia, termasuk diriku juga.
Hari ini, pembelajaran ditiadakan dikarenakan adanya acara duka. Anehnya, ini adalah kematian dari anak kepala sekolah, yakni Ricky. Meski dia tergolong murid meresahkan anak-anak sekolah, tapi rasanya aneh jika kami berpesta akibat kepergiannya.
Sebenarnya, aku sudah curiga bahwa ini pasti ulah dari Tristan yang tidak tahu pasti bagaimana caranya dia dalam beraksi. Akan tetapi, aku tidak ingin buka mulut dalam melaporkan teman sendiri, bahkan tanpa bukti kuat. Ekspetasiku sudah terbayang sesudah kukeluarkan segala isi otak yang berkecamuk saat dia mencoba melakukan hal tidak senonoh. Mulutku mengucapkaj kalimat frontal akibat kecemasan dan kepanikkan mulai melanda untuk melindungi diri sendiri.
Tristan adalah definisi manusia tergila yang pernah kuketahui. Tidak hanya menyakiti, bahkan dia berani melakukan pelecehan atas dasar mengeklaim kepemilikan seorang gadis. Dia kira, apakah aku sebuah barang yang bisa diperlakukan seperti itu?
Setelah kejadian itu, meledak sebuah gosip yang dibaeakan oleh Ricky menenai pernikahanku bersama Sasha. Tentunya, kami berdua tidak tinggal diam dan terus meminta keadilan pada kepala sekolah untuk menindaklanjuti kelakukan anak semata wayangnya. Kami bisa saja menuntut atas pencemaran nama baik, karena umur kami sudah termasuk legal dalam menikah. Meskipun pernikahan kami dilaksanakan secara tidak hukum dan saat di bawah umur, kami bisa mengatasinya dengan menikah ulang secara sah, demi menghukum Ricky.
Sayangnya, solusi itu kurang disetujui oleh orang tua Sasha.
"Bagaimana caranya kira mengantisipasi gosip di sekolah? Aku tidak mau dikeluarkan saat sebentar lagi akan lulus!" isakku pada pelukan Sasha di sofa depan.
Tangannya mengelus rambutku untuk menenangkanku. "Tidak apa. Aku bisa menyelesaikannya."
"Bagaimana caranya?" Kepalaku mendongak dan menatapnya tidak percaya.
"Lihat saja nanti," balas Sasha dengan ekspresi meyakinkan. "Kita tetap akan berangkat ke sekolah bersama. Jangan pikirkan hal ini lagi, hapus air matamu."
Awalnya, aku merasa tenang dengan ucapan Sasha yang begitu bisa dipercayai. Sebaliknya, keesokkan harinya sungguh berbeda dari ekspetasiku.
Kami berangkat pada waktu normal ke sekolah, dan berakhir dengan pandangan-pandangan aneh dari semua anak yang sudah pasti memikirkan perihal gosip tersebut. Lirikan dan bisikan-bisikan mereka bisa kurasakan. Rasanya, aku inhin menghilang dari bumi secepatnya.
Demikian juga dengan para penggemar Sasha yang berani menghampiri kami hanya untuk memastikan agar edaran gosip itu adalah kebohongan. Mereka begitu ribut melemparkan Sasha pertanyaan dan sesekali memberiku tatapan sinis karena berada di sisi kekasih pujaan mereka.
"Sasha, katakanlah. Apakah kau dan Lia sungguhan menikah seperti kata Ricky?" tanya salah satu gadis dengan sungguh-sungguh.
__ADS_1
Tanpa disangka-sangka, Sasha menggenggam tanganku dengab mengisi sela-sela jarinya. Lalu, dia mengangkat tangan kami dan menunjukkan secara terang-terangan pada mereka semua yang membuat detak jantungku melonjak cepat.
"Tentu tidak," ucap Sasha dengan ketus. "Namun, kami pacaran."
Secara serentak, semua orang yang mendengar pernyataan tersebut menjadi terperangah hebat. Bahkan, aku tidak kalah terkejut dengan hal ini.
"Jangan menggosipkan hal berlebihan. Kami hanya pacaran," lanjut Sasha sembari mengibaskan tangan satunya dengan isyarat mengusir. "Pergilah kalian semua. Jangan ganggu aku dan Lia."
Pada akhirnya, cara ekstream Sasha berhasil dengan mulus. Gosip pernikahan tersebut sirna, beserta penggemar-penggemarnya yang kecewa. Tapi baguslah, setidaknya kami tiada dipandang dengan kecurigaan saat selalu bersamaan seperti ini.
Selain itu, terpikirkan olehku mengenai Hana yang sudah pasti sedih dengan aksi kami berdua.
"Lia, apakah kamu benar-benar pacaran dengan Sasha?" tanya Hana ketika kami berada di pinggir lapangan futsal, sedangkan Sasha tengah membawakan bangku panjang untuk kami duduk.
Dengan terpaksa, aku menunduk dan menjawab, "Maaf. Itu benar, Hana."
Dia tersenyum pahit, seperti berusaha menerima kenyataaan di hadapanya. "Selamat, ya. Semoga, hubungan kalian terus membaik."
Di sisi lain, mendadak aku menjadi populer hanya karena kebohongan dalam berpacaran dengan Sasha. Para gadis mulai mendekatiku dan selalu bertanya akan cara mendapatkan laki-laki supet tampan layaknya Sasha. Meskipun semua ini terlihat merepotkan, tetapi aku merasa mulai mengalihkan pikiran dari trauma gelap dahulu.
Akhir-akhir ini, aku mencoba menjauhi Tristan sebisa mungkin yang sebenarnya sudah tahu kenyataan semua tentangku. Dia berkali-kali mengucapkan maaf, memberi hadiah, merengek dan hal-hal lainnya untuk membuatku memaafkannya. Hana dan Sasha pun membantuku agar kecemasanku tidak timbul mendadak dengan ikut menjauhi Tristan dariku.
Sela semua itu, hal mengejutkan hadir dengan kasus baru yang didapatkan Ricky. Laki-laki itu terduga melecehkan wanita dewasa dan anak kecil yang membuat tuntutnnya diperkuat. Sasha pun mengabarkan hal pada orang tuanya, dan mertuaku itu langsung menambahkan tuntutan pada Ricky agar memperkuat keadilan hingga dia tidak akan terlepas dari jeratan hukuman. Karena jumlah laporan lumayan banyak, berakhirlah dia memasuki lapas anak setelah sekian lama kutunggu-tunggu.
Namun, hal mengerikan terjadi. Telah dikabarkan, Ricky tewas dalam lapas anak dengan motif bunuh diri.
Sekarang, di rumah duka yang mewajibkan seluruh anak SMAN 26 menghadiri acara ini membuatku sedikit tidak nyaman.
__ADS_1
"Lia, bagaimana?" Tiba-tiba, Tristan muncul di sebelahku saat aku berdiri di depan figura foto mayat untuk melakukan salam penghormatan. "Penganggu hidupmu sudah tiada. Apakah kamu senang?"
Perkataan inilah yang membuatku curiga bahwa dia adalah pelaku dari pembalasan dendamku. Sudah kuduga bahwa akhir yang mengerikan akan hadir jika masalah-masalah seperti ini telah dibicarakan dengan Tristan. Manusia sadis dan bisa tidak berperasaan sepertinya telah membuatku ketakutan.
Aku tahu bahwa dia sangat menyayangiku. Akan tetapi caranya sangatlah salah, dan itulah membuatku enggan untuk menerima cintanya yang berlebihan.
"Tantan, aku memafkanmu," balasku dengan lirih seraya meletakkan bunga krisan di fepan figura foto mayat duka. "Jadi, tolong hentikan aksi gilamu."
Sungguh, aku mulai muak dengn segala tingkah lakunya hanya demi menerima maaf dariku.
"Apakah aku berbuat salah dalam memberikan sesuatu demi dimaafkan?" tanyanya dengan tampang polos saat kami berjalan pergi ke luar area salam penghormatan.
Tentu, aku tidak akan membicarakan kecurigaanku mengenai kasus Ricky ini. Itu bisa menjadi tuduhan karena aku tidak memiliki bukti kuat.
"Apakah aku salah memberi hadiah?" Tristan memasang wajah memelas dalam menatapku dari samping.
"Tidak," jawabku dengab intonasi rendah.
Dia pasti mengharapkan ucapan terima kasih karena telah menyingkirkan benalu hidupku. Tapi, aku tidak akan melakukan hak tersebut.
"Lia, ayo kita pergi."
Kepalaku mendongak dan langsung melihat Sasha yang berdiri dengan setelan hitam super keren. Memandanginya, membuat mataku sejuk dan merasa lega. Serta merta aku menghampiri dan Tristan tidak lagi mengikutiku.
"Sasha, ayo antarkan aku pulang," ucapku dengan nada semanis mungkin.
"Baiklah."
__ADS_1
Sasha pasti berpikir bahwa aku sedang bersandiwara dalam menjadi kekasih tipuannya. Padahal, aku sungguh-sungguh mentayakn tersebut dengan kebahagiaan dalam menerima sikap baik dan pedulinya kali ini.
- ♧ -