Oh My Love

Oh My Love
Petaka


__ADS_3

Pagi dalam keberangkatan menuju sekolah dan seperti biasanya, aku pergi bersama Sasha. Tidak urung juga dengan Hana yang menghampiri kami saat tiba di gerbang sekolah. Rasanya, sedikit kurang tanpa adanya Tristan.


Hari ini adalah mata pelajaran olahraga dan seisi kelas XII A berganti seragam. Kelas akan digunakan sebagai tempat berganti bagi perempuan, sedangkan para laki-laki di WC.


Seusai itu, semuanya pergi ke lapangan dan aku menjadi berpikir mengenai kelelahan. Teringat olehku akan perkataan dokter di rumah sakit kala itu, tidak memperbolehkanku terlalu kelelahan. Mungkin, tidak perlu memikirkannya karena saat aku di GYM kemarin tidak ada apa-apa bila kelelahan.


Mengawali pembelajaran, senam diadakan dengan lantunan lagu ceria. Barisan dibagi menjadi enam dan tentunya aku berada di depan dalam kategori super semangat.


"Setelah senam, lakukan undian dengan kertas dan bagi empat kelompok. Kita akan bermain bola tembak untuk mengambil nilai harian!" ucap Pak Guru ketika senam hendak berakhir.


Selanjutnya, ketua kelas mulai membuat nomor undian dan semua anak mengambilnya satu persatu. Hasil dari pembagian kelompok, sayang sekali aku dan Sasha tidak bersama, tetapi untunglah Hana ada padaku. Sesi permainan diberikan masing-masing dua babak dan giliran pertama adalah antara kelompok satu melawan kelompok dua.


Guru meniupkan peluit, lalu berkata, "Sebutkan peraturan dalam bolak tembak!"


Salah-satu anak mengangkat tangan. "Apabila terkena area kepala, maka tidak terhitung point!"


"Lalu, babak tersebut diselesaikan!" sahut anak lainnya.


"Bagus sekali!" balas Pak Guru. "Intinya, strategi tetap diperlukan. Baiklah, cepat atur posisi kelompok satu dan dua! Waktu kalian dua puluh menit!"


Sebuah garis telah dibuat dengan tali pada tengah lapangan untuk memisahkan wilayah kelompokku dengan kelompok lawan. Permainan ini pasti tidak terlalu melelahkan karena aku hanya perlu menghindar saja, tidak perlu ikut-ikut menembak.


Suara peluit terdengar dan bola dilemparkan ke atas oleh Pak Guru di tengah lapangan, lalu perwakilan kelompok mulai berebut sebagai pemain pertama. Pemenangnya pun kelompokku dan perwakilan tersebut langsung melemparkan bola karet itu ke laki-laki di depannya, tapi tidak terkena target.


Lempar-melempar dengan bola dimulai. Dua anak dari kelompok lawan berhasil tereliminasi, sedangkan kelompoknya baru satu orang. Banyak yang berlari-lari histeris dalam menghindar dan pemain hebat di barisan depan begitu antusias dalam menangkap bola agar bisa menembakkan ke lawan. Di sisi lain, Hana berada di depanku dan dia berinisiatif bahwa aku harus dilindungi dengan serius. Aku merasa sangat bersyukur memiliki teman sebaik dirinya.


"Lemparnya biasa aja, dong! Kamu kira ini permainan voli?!" serang gadis di pihak lawan yang tidak terima dirinya dilemparkan bola begitu keras ke bagian dada.


Lenganku reflek melindungi dada dan berharap tidak ada yang menargetkanku.

__ADS_1


"Kena kepala, tuh! Babak pertama telah berakhir!" teriak pemimpin kelompokku saat satu anggotanya terpukul oleh bola pada dahinya. Pasti sakit sekali, lihatlah rona merah di atas alisnya itu!


Babak kedua dimulai dengan kembalinya point kosong. Kelompokku sudah banyak berkurang akan anggota, sedangkan aku yang berada di barisan belakang hanya bisa merasa tegang.


BUG!


"Ouch!" Hana merintih saat pinggangnya tertembak bola, sedangkan laki-laki yang melemparkan mulai merasa terkejut dan malu pada targetnya. "Untung saja bukan area sensitif!" Tangannya menepuk pundakku. "Aku pergi dulu, Lia. Jika mau, terkena bola dengan sengaja saja agar tidak terasa sakit."


Aku mengangguk dan permainan dimulai lagi.


"Jangan menghindar terus! Ikut tembak juga!"


"Lemparnya jangan terlalu bertenaga, jika kena kepala akan gawat!"


"Targetkan ke kaki saja, pasti akan berhasil!"


Permainan akan berakhir, sedangkan tersisa dua orang di kelompokku, dan salah-satunya adalah aku. Jelas-jelas hanya permainan kecil, tapi aku merasa seperti sedikit terancam.


BUG!


Kepalaku terkena bola dan rasa sakit menjalar membuatku berkerut-kerut.


"Kena kepala! Permainan berakhir!" teriak Hana yang mendekatiku dari pinggir lapangan dalam menonton.


"Nanggung! Sekalian aku libas saja!" balas Kai yang tadinya melemparku, kini bola tersebut terpental ke arahnya dariku, dan dia justru mengambilnya.


Sebelum sempat fokus, lagi-lagi bola terlempar, tetapi tidak mengenaiku. Justru Hana yang hendak mendatangiku telah terkena bola pada punggungnya. Tubuhnya terjerembab ke arahku hingga tidak sengaja sikunya mengenai perutku. Laki-laki itu sudah gila drastis dan tidak puas menargetkanku setelah kepala ini terpukul dari bola lemparannya! Apa dia mau membuatku pingsan dengan dua kali serangan!


"Wow! Kelompok dua menang!"

__ADS_1


Sorakan terdengar kurang meriah dan justru beberapa dari semua anak memandang ke arah Hana bersamaku yang terjatuh. Setengah tubuh Hana menimpaku. Awalnya, semua orang bersikap biasa saja dan justru tertawa kecil karena menganggap posisi kami lucu. Akan tetapi, aku justru merasakan sedikit nyeri dan kepala belakangku terbentur ke tanah.


"Lia!" Suara Sasha mendekat dan semua anak menjadi hening hingga beberapa bisa kulihat ada yang mendekat.


Rasa sakit dan malu tidaklah seberapa, tapi rasanya aku begitu ingin melampiaskan perasaanku sampai menggertakkan gigi kuat-kuat. Di kala Hana buru-buru bangkit dan membantuku untuk bangun, air mataku menetes dan kedua tangan ini langsung memegangi perut yang terlihat begitu normal.


"Lia, kamu kenapa? Sakit sekali, ya? Perutmu tertimpa kepalaku, ayo bangun. Kita ke UKS!" ucap Hana dengan sedikit panik dan tidak berhasil dalam membantuku bangkit. Dia pun menoleh ke arah laki-laki yang melemparkan bola ke kami. "Hei, astaga! Lihatlah ini gara-gara dirimu, kami justru menjadi begini! Tanggung jawablah!"


Orang tersebut hanya terkekeh garing.


"Sasha!" rintihku saat dia mendatangiku, lalu kucengkram lengan baju yang hanya seatas sikunya. "Sasha ...."


"Iya, aku ada di sini. Kita harus ke UKS," balasnya sembari memegangi kedua bahuku untuk membantuku berdiri saat kedua kaki ini terkulai lemas. "Bangunlah, Lia."


Pak Guru mulai mendekat dan memerhatikanku dengan menggeleng kepala. Rengekkanku menghasilkan pandangan-pandangan heran sekaligus iba pada anak-anak. Beberapa dari mereka pasti berpikir bahwa aku sedang mencari perhatian dengan menggelikan.


"Hanya terlempar bola, berlebihan sekali! Dasar drama queen."


"Dia memanfaatkan situasi ramai untuk dipandang dalam sikap sok imut sebagai pacar laki-laki terkeren di sekolah."


"Menjijikkan sekali, apa kalian tahu definisi pick me girl? Lihatlah gadis itu yang merengek."


Ucapan mereka semua selayaknya angin lewat. Aku justru lebih mengkhawatirkan diri sendiri.


"Aku ... aku takut jika ada apa-apa denganku ....," ucapku spontanitas, seolah rem di lidah tiada lagi. "Sakit sekali."


Sasha berhasil merangkulku sampai aku berdiri.


"Jika kenapa-napa dengan anak kita di perutku, bagaimana?" kataku. "Aku ... takut ...."

__ADS_1


Suara terkesiap dari segala arah terdengar setelah aku lontarkan perkataan tanpa kejernihan otak. Sasha melotot hebat ke arahku, sedangkan tingkat kecemasanku semakin bertambah.


- ♧ -


__ADS_2