
Kepalaku penuh dengan memikirkan hal kemarin yang semakin membuat urat pelipis berkedut-kedut. Menjadi orang yang berhati lemah, terlalu membuatku terus menerus merasa bersalah apabila tidak mendapatkan pernyataan dalam dimaafkan secara langsung.
Aku memulai pagi hari dengan suasana hati jenuh. Menghela napas berkali-kali, memandangi langit dan berharap bahwa ketika mengunjungi rumah orang tua Sasha, maka mereka mau melupakan kesalahanku.
"Pagi, Lia! Kenapa kamu tampak murung?" sapa Hana ketika kami memasuki halaman sekolah dan intonasi tingginya membuatku sedikit terkejut.
"Pagi, Hana," balasku dengan senyuman tipis. "Aku ... aku lupa sarapan."
Wajah kekhawatiran terpasang sembari memegangi dada dan gadis lembut ini tidak menyadari kebohonganku.
"Bagaimana bisa? Tenang-tenang, Lia! Aku membawa roti pisang di tasku." Tangannya buru-buru merogoh ransel ungu dan mengeluarkan sepotong roti. "Padahal, hari ini adalah jadwal piket kita. Jangan ceroboh seperti ini lagi, Lia."
Kepalaku mengangguk dan menerima roti itu meskipun di apartemen tadi sudah sarapan dengan semangkuk sereal.
"Omong-omong ..." Hana memandangiku dengan jahil. "Kamu terlihat akrab sekali dengan ketua OSIS kita. Apa jangan-jangan ..."
"Hana," selaku dengan wajah pasi. "Jangan lanjutkan ucapanmu lagi."
Sebelah tanganku tergenggam pelan oleh Hana dan matanya membulat dalam menatapku. "Ada apa, Lia? Jika ada sesuatu, berceritalah padaku. Jangan memendam seperti ini."
Terdengar menyentuh perkataannya. Terlebih lagi, aku tidak kuat dalam menatap wajah memelasnya itu.
"Kamu kenal dengan Putri Karin?" Aku bertanya yang membuat Hana menimpal-nimpal jawaban.
"Anak kelas XI yang OTW menjadi model? Aku tahu dari gosip yang beredar, tapi tidak tahu bagaimana wajahnya. Katanya, dia jarang masuk kelas." Pandangannya kembali menatap ke depan. "Lantas, kenapa dengannya?"
Aku terdiam sejenak, lalu menjawab, "Dia adalah pacar Kak Kaivan, Hana."
Kami sama-sama tersenyum pahit dalam membahas kenyataan ini. Hana pasti memahami perasaanku dan tidak melanjutkan topik tersebut sampai memasuki kelas.
Tibanya kami di kelas, aku sontak mematung saat semua penghuninya terdiam dan menjadikanku pusat perhatian mereka. Sasha pun sama halnya. Begitu banyak pertanyaan di otakku mengenai apa yang mereka lihat dariku.
"Ada apa ini?" bisik Hana yang ikut kebingungan bersamaku.
"Entahlah."
CUP!
Baru saja ingin melangkah menuju bangku, tubuhku kembali membeku ketika pipiku terkecup secara sekilas oleh bibir seseorang. Kepalaku spontan menoleh dan tangan ini ikut bergerak untuk melayangkan tamparan.
"Eits .... tidak kena!"
Rasa terkejutku lebih bertambah, bukan saat pelaku itu berhasil berkelit dengan gesit dari tamparanku. Melainkan aku sadar bahwa dia adalah ....
"Tantan?!" teriakku tidak percaya.
"That's my name, sweetie," jawab cowok itu alias pelaku ponodaan pipiku.
Matanya yang memiliki lensa berwarna hazel tersebut berkedip sebelah dengan sekejap padaku. Aku terperangah hebat akan kehadirannya, bahkan seisi kelas ikut terkesiap karena ulahnya.
__ADS_1
"Lia!" Tristan memelukku dengan cepat dan wajahnya menatapku seperti anak anjing yang meminta tulang. "Aku kangen sekali padamu!"
"Hei-hei, lepaskan dulu. Aku merasa tidak enak dengan seisi kelas," bisikku ketus.
Dia menuruti permintaanku dan memberi reaksi kesal yang dibumbui keimutan. "Dirimu juga sama galaknya seperti dahulu. Kenapa? Takut dengan manusia-manusia di ruangan ini?" Kepalanya pun menoleh ke anak-anak sembari berkacak pinggang. "Hei kalian, jangan memasang wajah kaku dan menakuti Lia! Ayo, bersikap normallah!"
Serentak semua anak bernapas lega dan kembali melakukan hal normal seperti biasa.
"Gue kira, bakal ada sesuatu yang terjadi."
"Mencekam banget hawanya."
"Syukurlah sudah usai."
Desas-desus suara kelas pun membuatku tambah bertanya-tanya.
Tristan menggedik bahu ke arahku. "Sudah, bukan? Ayo, peluk aku Lia!"
"Hei, kalian yang berada di depan."
Aku, Hana dan Tristan otomatis menoleh ke asal suara yang di mana dia adalah Sasha. Wajah dingin dan tatapan sinisnya terarah ke kami.
"Kembali ke tempat duduk kalian. Lia dan Hana, kalian memiliki tugas piket hari ini. Cepatlah untuk melaksanakan tugas," perintah Sasha selaku ketua kelas.
Dengan sigap, Hana menaruh tas dan langsun mengambil sapu untuk membersihkan lantai kelas. Sedangkan aku hanya menatapnya lelah dan mengambil kemoceng untuk membersihkan tempat guru. Di kala membersihkan papan kapur hijau ini, aku melihat kerusakan dalam bentuk retakan yang sudah pasti disebabkan oleh anak-anak nakal.
Aku menoleh dan melihat Ashley atau teman satu piketku berada di depan pintu dalam membawakan bangku baru.
"Minggirlah, biar aku sendiri yang membawanya," kataku sembari mendekat dan mengangkat meja sekaligus kursi di atasnya tanpa menyeret-nyeret yang membuat lantai kelas rusak.
"Wow, kamu kuat juga dalam mengangkat sekaligus," puji Ashley setelah aku meletakan dua benda tersebut di pojok kelas.
Tanganku mengibas-ngibas dari debu yang berterbangan di udara dan nyaris membuatku bersin.
"Aku dahulu sering mengangkat karung hasil panen kebun dan sekarang menjadi terbiasa mengangkat benda-benda berat." Setelah mengucapkan hal itu, Ashley menjadi kagum padaku.
"Kamu pasti anak yang mandiri," balasnya dan kembali duduk ke bangku karena tugas piket telah habis.
Aku ikut duduk pada bangkuku. Di saat yang sama, Tristan berdiri di bangku sebelahku dan membungkuk ke arah gadis yang di hadapannya.
"Hai, bolehkah aku duduk di sini dan dirimu di bangku belakang saja?" ucap Tristan dengan suara bassnya dan mengeluarkan tampang menggoda.
"Tentu saja!" jawab gadis itu dengan girang dan langsung berpindah ke bangku yang tadi kubawakan.
Wajahku memberi reaksi datar dalam memandangi tingkah Tristan. Rupanya, dia menjadi salah-satu penghuni kelas ini tanpa memberitahuku sebelum ini.
"Hei, dia itu siapa?" Hana memutar tubuhnya dalam bertanya mengenai Tristan. "Kalian sudah saling kenal?"
Kepalaku mengangguk sebentar. "Dia adalah teman dekatku. Bisa dikatakan ... kami sepasang sahabat kecil."
__ADS_1
Mataku melirik ke arah orang yang sedang kami bicarakan dan dia menopang wajahnya sembari terus menerus menatapku.
"Begitu, ya." Hana kembali pada posisinya.
Selanjutnya, penghuni kelas pun lengkap dan wali kelas hadir dengan mengawali pagi dalam mengabsen.
"Siapa yang merusak papan tulis kebanggaan kita? Ayo mengaku!" ucap Pak Guru dengan suara lantang. "Apakah kamu, Kai?"
Kepalaku reflek menoleh dan melihat Kai yang sedang bersandar santai menjadi terperangah.
"Kok saya sih, Pak?" Dia memprotes dengan wajah panik. "Meskipun saya adalah anak badung Pak, saya mustahil merusak fasilitas sekolah."
Semua anak pun menyoraki kepongahan Kai.
"Perasaan baru kemarin, kamu ngerusak wastafel WC," celetuk salah-satu anak.
Kai melotot ke arah anak tersebut karena telah membocorkan rahasianya.
"Ya sudah. Jika bukan kamu, siapa yang melakukan ini?" tanya Pak Guru lagi.
Semua kepala saling menoleh dan akhirnya Tristan mengangkat tangan dengan satu tangan lagi menggaruk kepala belakangnya.
"Sorry, sir! Itu ulahku," ujar Tristan. "Jangan salahkan aku sepenuhnya, Pak. Ketika aku memasuki kelas, mendadak dikerumuni gadis-gadis. Udah kubilang untuk menjauh, tapi telinga mereka auto tuli. Jadi, agar mereka diam hanya dengan cara memukul papan sampai semua kembali hening akibat terkejut."
"Hei," bisikku pada Tristan. "Gunakan kata 'saya' bukan 'aku' karena kurang sopan."
"Ups ...." Tristan tersenyum keki, lalu kembali menatap Pak Guru. "Properti sekolah akan aku ... eh saya. Iya, akan saya bayar melalui kepala sekolah."
"Bukankah kamu adalah anak baru di kelas ini?" Pak Guru menatapnya tajam.
"Betul!" seru Tristan dengan santai dan tidak tahu bahwa wali kelas kami termasuk pengajar yang galak.
"Anak-anak, mungkin kalian sudah mengetahuinya bahwa kita sedang kedatangan murid baru," ucap Pak Guru seusai mengabsen. "Baiklah, ayo majulah dirimu si rambut kuning."
Seketika terdengar bisikan-bisikan terdengar ke telingaku saat Tristan maju ke depan kelas dengan gaya kedua tangan dalam saku.
"Dia tampan sekali. Tidak kalah dengan Sasha!"
"Gayanya lumayan keren. Bagaimana jika aku menirunya dan mungkin akan dianggap cool juga!"
"Tampan sih, tapi galak. Aku tidak terlalu suka."
Awalnya, laki-laki di depan itu memasang wajah sinis seperti malas untuk memperkenalkan diri. Kemudian, ekspresinya berubah saat menatapku dan kembali menjadi manis seperti semula.
"Ah, bagaimana caranya perkenalan di sini?" Dia mengibaskan bagian depan rambut berwarna pirangnya tersebut sembari berpikir. "Tunggu dulu, aku lupa .... Oh ya, maaf-maaf. Perkenalkan, aku Tristan Alexander, anak pindahan dari Aust."
Dia berbicara dengan perkenalan yang tidak begitu niat. Ketahuilah, sedari dulu atau sampai sekarang aku tidak melihat perubahan pada sifatnya. Kekanakan, sedikit kurang ajar, humoris dan patut disebut sebagai laki-laki menyebalkan tingkat dewa. Meskipun begitu, Tristan benar-benar beruntung sudah diberkati dengan wajah yang berkesan polos. Jadi, meski bertingkah kurang ajar yang tidak begitu menyenangkan, sulit sekali bagi semua orang untuk membencinya. Itu pun justru berkesan lucu dan asik.
- ♧ -
__ADS_1