Oh My Love

Oh My Love
Hal Memalukan


__ADS_3

Liburan yang hanya sebentar dari kepala sekolah pelit pun telah terlalui. Meskipun memasuki sekolah belum benar-benar memulai pembelajaran, tapi setidaknya kebosananku akan sering mendekam di apartemen telah usai. Sebenarnya, aku selalu melantunkan doa agar hari memasuki sekolah cepat-cepat hadir.


Aku berdiri sendirian di depan mading pada pagi-pagi buta dan sekolah masih terdatangi sedikit penghuni. Setelah mencari-cari di seluruh daftar, ketemulah namaku yang tertera wajib memasuki kelas XII A IPA. Rasanya, aku ingin menari karena terlalu senang saat diletakkan pada kelas terfavorit!


Namun, kesenanganku hanya sampai di situ. Kepalaku otomatis memalingkan pandangan ketika Sasha muncul dan berjalan mendekat ke arahku. Dengan memasukkan kedua tangan ke saku celana, sangat terlihat keren. Akan tetapi, bagiku justru sungguh mengerikan.


Oleh karena itu, kakiku langsung berlari terbirit-birit menuju tangga ke lantai atas dan ke kelas baru.


Nilai olahragaku tidak maksimal, maka tidak heran jika berlari sedikit seperti ini saja sudah membuat napasku terengah-engah. Tapi, rasanya senang untuk pertama kalinya masuk ke kelas baru dan bisa lebih dulu memilih bangku terdepan.


"Jangan menghalangi jalan."


Bagaikan tersetrum dan langsung mematung. Kepalaku menoleh ke belakang, meski tahu siapa pemilik suara tersebut yang sungguh membuatku tegang. Yeah, siapa lagi jika bukan Sasha.


Ugh, kenapa dia harus sekelas denganku lagi? Aku muak melihat wajahnya setiap hari, jam, menit, dan detik!


Secepatnya, aku melangkah maju ke bangku dekat jendela terdepan. Tapi, lagi-lagi aku dibuat terkejut dengan Sasha yang ikut duduk di belakangku. Ah ya, aku lupa jika dia suka pada posisi dekat jendela seperti di kelas XI kemarin. Aku tidak mau terlihat konyol hanya dengan hal ini harus berpindah tempat duduk dan begitu berkesan jika benar-benar sedang mengindari laki-laki tanpa wajah dosa tersebut.


"Lia ..."


"Stop!" perintahku seraya melangkah ke luar bangku berdiri tegap layaknya tentara sigap. "Jangan ajak aku bicara. Aku ... aku ingin ke kantin, jadi sampai jumpa."


Mataku melirik dan terlihat Sasha sedang setengah menunjuk ke arahku. Namun, aku tidak mempedulikannya dan langsung pergi ke luar dengan langkah kaku ala robot rusak. Sungguh canggung! Kepalaku tidak bisa berpikir jernih, padahal kantin tidak buka sepagi ini. Alasanku untuk menghindar benar-benar terlihat bodoh!


Sepanjang perjalanan, otakku terus menerus teriang-iang bagaimana kenangan memalukan dalam masa liburan kemarin.


Saat itu, kebosanan melandaku. Tristan pun tidak menghubungiku sama sekali dan rasanya sedikit sedih. Aku juga tidak berani berpergian sendiri ke mana pun. Akhirnya, kuputuskan untuk menonton televisi yang di mana menayangkan sebuah film keren.


Sasha yang mengenakan jaket terresleting rapat telah hadir dengan duduk di sampingku, tepat pada pertengahan film. "Apa yang kamu tonton?"


Jarang sekali dia bertanya hal tidak berfaedah. Seharusnya, dia cukup melihat ke televisi dan menyimpulkan sendiri.


"Hanya film fantasy biasa," balasku, dan mulai berinisiatif untuk balik bertanya, "Kamu mau ke mana?"


Dari saku bajunya, keluar sebuah bungkusan kecil dan kedua jarinya mencapit sebuah permen berbentuk kopi. Itu adalah biji kecil pahit yang digemari oleh Sasha, sedangkan aku tidak. Kemarin, dia pernah menawarkan itu, tetapi dengan terang-terangan aku memuntahkannya saat menyentuh indra pengecap.


"Beberapa menit lagi, aku akan pergi untuk GYM," kata Sasha seraya memasukkan permen pahit itu ke mulutnya.


Setelah mendapatkan jawaban, aku kembali fokus menonton film yang lumayan membosankan di bagian pertengahan. Hingga akhirnya, mataku menjadi berkedip-kedip perlahan dan kesadaranku pun sirna.


Entah berapa lama aku menghabiskan waktu untuk memejamkan mata, tiba-tiba saja aku terbangun dalam keadaan menatap ke arah langit-langit. Awalnya mengira jika leherku akan pegal-pegal karena menjadikan atas punggung sofa sebagai bantal. Justru, aku melonjak kaget ketika terlihat wajah Sasha yang tertidur dalam keadaan terduduk, sedangkan posisi kepalaku berada di atas pahanya. Rasanya, aku benar-benar menggila sampai nyaris menjerit panik setelah dia membuka mata dan melihatku.


"Baguslah, kamu sudah bangun," ucap Sasha yang membuatku sontak bangkit dan berdiri menjauhi sofa.

__ADS_1


"Kamu, kamu pasti iseng nidurin kepalaku di posisi itu, 'kan?" tanyaku dengan intonasi tinggi.


Dahinya mengerut dan menjawab, "Tidak. Kamu yang terjatuh di pahaku dan tertidur begitu pulas sampai sulit kubangunkan."


Urat maluku mungkin saja akan mencelus sebentar lagi, terlebih saat ekspresiku tidak bisa terkontrol.


"Aku berangkat," lanjutnya sembari bangkit dan pergi ke pintu ke luar. "Sudah satu jam lewat dalam terbukanya gymnamsium."


Wajahku pasti tambah memerah setelah ditambahkan fakta itu. Sasha adalah murid pintar dan pasti ingatannya kuat, maka mustahil untuknya melupakan hal memalukan bagiku itu untuk sirna dari pikirannya.


Omong-omong, dahiku sedikit terasa dingin. Ah ya, bibirku terasa sedikit pahit, dan perisa ini seperti tidak asing.


Aku langsung menderap ke kulkas dengan niat menyantap satu coklat untuk mencuci mulut. Namun, aku justru membuka bagian kulkas bawah dan mendapati sebuah botol tidak teransparan yang tidak pernah kulihat selama ini. Karena penasaran, aku mengambil dan membuka penutupnya. Tercium aroma sedikit wangi khas yang membuatku tertarik untuk meminumnya. Siapa tahu saja rasanya manis.


"Lia .... Tunggu, itu bukan ..."


BYUR!


Sedikit amis dan membuatku tidak kuat menelannya. Rasanya jauh lebih menakutkan daripada jamu tradisional tanpa madu. Tanpa pikir panjang, aku menyemburnya dengan keras dan tidak peduli lantai kotor karena hari ini adalah jadwal piketku untuk bersih-bersih. Sayangnya, selain terkena lantai, wajah Sasha pun ikut menjadi korban semburanku.


"Bukan sembarang minuman ...," katanya dengan wajah pasrah yang basah. "Itu whey protein."


"Maaf!" Kepalaku berkali-kali menengok ke botol di tanganku dan Sasha. "Aku tidak tahu jika minuman tidak enak ini milikmu."


Sudah dua hal yang memalukan pada diriku sendiri. Ingin sekali aku mengucapkan mantra sulap, kemudian menghilang dari bumi dalam sekejap mata. Mulutku hendak berteriak frustrasi, tetapi masih terjaga akibat tidak mau ditegur oleh Sasha dan terjadilah tiga hal memalukan.


Seketika, terlintas di benakku mengenai bibir yang pahit. Kondisiku sebelum tidur tidak memakan apa pun selain sereal saat sarapan dengan rasa manis yang tinggi. Bukankah aneh jika seluruh bibirku mendadak tertempel benda pahit, mungkin seperti alas sepatu bekas menginjak tanah liat? Aku memberi perumpamaan begitu konyol.


Selang beberapa menit, Sasha muncul dari kamarnya. Namun, mataku justru fokus ke tangannya yang sedang memasukkan sebiji permen berbentuk kopi. Pahit, iya rasanya sangat pahit! Hanya ada Sasha di dekatku. Maka karena itu, pastilah dia pelakunya.


Tunggu dulu, apakah dia menjahiliku dengan ... menciumku dengan mulut bekas permen itu? Tidak bisa dipungkiri lagi, semua laki-laki itu sama saja, tidak bisa menahan diri dalam mengambil kesempatan terhadap gadis yang lengah!


Bagaikan kilat, aku menderap dan berdiri menghalangi pintu unit apartemen hingga menghalangi jalan Sasha bak kiper.


"Aku sudah memaafkanmu, menyingkirlah," ucapnya dengan menyatukan alis tanda sedikit jengkel.


"Bukan itu yang mau kudengar!"


Alisnya pun berubah menjadi hanya satu yang naik ke atas. Gayanya benar-benar sombong, meski sudah berbuat salah.


"Ayo kita main truth or dare," kataku dengan ketus. "Wajib menjawab jujur!"


Terdengar konyol dan di antara permainan ini pasti bisa saja ada kebohongan. Tapi, aku bisa membaca ekspresi jujur atau tidak. Jadi, permainan ini menguntungkanku.

__ADS_1


"Konyol," cibir Sasha yang mulai melangkah. "Menyingkir."


"Tidak mau." Aku menatapnya dengan sinis. "Satu permainan saja, maka aku akan pergi."


Embusan napas berat terkeluarkan dengan bertanda pasrah akan perintahku.


"Baiklah, ayo kita suit!" Tanganku terangkat satu bersamaan dengan Sasha, dan turunlah antar gunting bersama batu, alias aku yang kalah. "Aku pilih truth, ayo beri aku pertanyaan!"


Kedua tangan Sasha terlipat di depan dada. "Tujuan konyol apalagi yang sedang kamu lakukan ini?"


"Pertanyaan bagus!" balasku dengan menunjuk-nunjuknya. "Jawabannya adalah, mencari tahu jawaban darimu."


"Jawaban?"


Baiklah, inilah penantianku untuk membuatnya merasa ketahuan akan kejahilannya.


"Saat bangun tidur, bibirku terasa pahit, dan rasanya seperti permen di kantongmu itu." Jariku mengubah arah ke kantong Sasha.


"Menthol ini?" Dia pun menunjukkan bungkusan permen pahit tersebut.


"Benar!" jawabku antusias. "Dan hanya kamu yang memakan itu! Tidak mungkin bibirku mendadak mencium pahit-pahitan selain itu!"


"Maksudmu, ingin meminta menthol ini?"


"Bukan!"


Menyebalkan, dia tidak paham dengan arus pembicaraan yang kubawa. Otaknya pintar, tetapi kepekaannya minus.


"Rasa pahitnya sangat menempel. Maka karena itu, kamu pasti ..." Kalimatku melambung sejenak, melirik ke kiri dan melanjutkan, "Diam-diam mencium bibirku?"


Ugh, apa yang telah kukatakan! Itu adalah kalimat super memalukan untuk ke sekian kalinya! Bahkan, reaksi Sasha pun menjadi terkejut seolah sedang disetrum oleh tiang listrik.


"Tidak," ucap Sasha dengan nada ketus biasa sembari melanjutkan langkahnya dan membuatku sontak menghindar dari pintu. "Tanganku tidak sengaja menyentuh mulutmu, maaf jika terasa pahit karena menthol ini."


Setelah itu, dia pergi dengan meninggalkan segudang kegilaan padaku yang sedang membeku di tempat.


Rupanya, aku benar-benar patut digelari sebagai gadis yang hobi mempermalukan diri sendiri sedunia. Ucapanku berkesan terlalu percaha diri jika ada laki-laki tampan rela menggunakan bibirnya untuk menyentuhku. Apa-apaan ini? Dunia bukanlah dongeng putri tidur yang akan dicium oleh pangeran tampan! Apa yang telah kupikirkan dan katakan tadi, benar-benar di luar nalar!


Andai saja waktu bisa diputar kembali, maka aku tidak akan memainkan truth or dare atau melemparkan pertanyaan mengenai berciuman tersebut. Memikirkan hal ini membuatku loncat-loncat kegilaan dan berteriak untuk melampiaskan kebodohan tadi.


Begitulah hari menyebalkanku berakhir, tetapi terus melekat di otak sampai masa memasuki sekolah telah hadir. Untung saja Sasha bukan penggosip hingga aku tidak perlu khawatir jika tingkah lakuku terekspos pada dunia.


- ♧ -

__ADS_1


__ADS_2