Oh My Love

Oh My Love
Persiapan Festival Sekolah


__ADS_3

Hari di mana festival sekolah akan diadakan seusai ujian dan sebelum diliburkan secara nasional dalam waktu seminggu. Ada pun tujuan acara ini untuk memberi hiburan terakhir kali pada anak kelas XII yang sebenarnya sudah dipersilakan untuk keluar dari sekolah dan bersiap ke kehidupan baru, seperti berkuliah atau bersiap untuk kerja.


Sekarang, waktunya bersiap-siap untuk itu.


Keributan akan berdiskusi bersama dalam merekomendasikan stan apa yang dijalankan pada kelasku. Beberapa ada yang menyarankan sebagai stan rumah berhantu, tapi sayangnya para gadis menolak. Ada pula yang merekomendasi tempat bermain dindong atau permainan kecil-kecilan layaknya festival umumnya.


Semuanya pun berakhir dalam pemungutan suara dan diputuskan bahwa stan kafe akan diambil.


"Ayo anak-anak, ambil undian ini agar dapat adil menentukan posisi kalian dalam bekerja untuk mempersiapkan hari esok." Pak Guru membawakan kotak beriskan banyak lipatan kertas. "Satu orang ambil satu. Tidak boleh curang seperti saling bertukar atau mengambil dua."


Satu per satu anak mengambil undian, kemudian langsung membukanya dengan berbagai macam reaksi. Beberapa ada yang mengeluh dan jingkrak-jingkrak akibat senang atau bahkan berdiam diri pasrah.


Hana berbalik badan ke arahku. "Lia, kamu dapatkan peran sebagai apa?"


"Sebagai pendekor ruangan," jawabku dengan tersenyum lebar. "Kalau kamu, apa?"


"Aku menjadi maskot." Wajahnya menampilkan kekecewaan tanda tidak menyukai peran tersebut.


"Tidak apa, menjadi maskot lumayan lucu kok."


Seketika terdengar erangan keras dari sebelahku, tidak lain adalah suara Tristan.


"Yang benar saja! Aku menjadi maid? Mengenakan kaos lusuh dan kain lap di bahuku?" Tristan melempar kertas undiannya dan memasang tampang marah, tetapi berkesan lucu. "Lebih baik aku bercossplay sebagai tiang listrik daripada ini."


Hana dan aku tertawa kecil setelah mendengar racuan tersebut.


"Enak saja! Kostum maid-mu akan aku berikan super bagus, tau?" celetuk salah satu gadis kepada Tristan. "Aku adalah bagian pembelian kostum dan akan kubelikan gaya ala barat seperti servant-servant di film hollywood!"


Semua orang tampak kagum dengan saran gadis itu.


"Tenang saja, Tantan. Pasti keren untukmu," ucapku seraya mengacungkan jempol ke Tristan.


Bibirnya menyeringai lebar, lalu mengibaskan rambut bagian depan. "Baiklah, jika Lia yang mengatakan hal itu."


Pak Guru mulai menepuk tangan sekali untuk meminta perhatian seisi kelas.


"Akan ada dua maid pembawa pesanan, dua penyiap pesanan, lima orang mengurusi dekorasi, dua orang pengurus kostum, satu maskot, satu koordinator ..."


Penyebutan dalam masing-masing tugas dan penyetoran nama dalam undian yang didapatkan sudah berjalan baik.


"Hei kalian, siapa yang berpasangan denganku sebagai maid?" Tristan meletakkan kedua tangannya di belakang leher dengan wajah bersemangat. "Ayolah, mengaku. Cepat-cepat. Kuharap, Lia yang menjadi pasanganku."

__ADS_1


Aku tertawa kecil. "Sayangnya, bukan, tantan."


Tanpa diduga-duga, Sasha mengangkat tangannya dan berkatan, "Aku."


Sontak aku menahan tawa ketika melihat Tristan menjadi terperangah dan kembali menatapku.


"Tidak! Aku tidak mau berpasangan dengan si datar itu!" racaunya, lalu menderap ke arahku. "Lia, aku tidak mau berpasangan dengannya!"


Tidak bisa menyetujui permintaan tersebut, karena aku bukanlah guru. Malangnya, dia harus menerima lapang dada keputusan ini. Siapa tahu saja mereka berdua akan berdamai karena hal ini.


"Lia, kumohon." Mata Tristan menjadi berbinar seperti anak kecil yang meminta permen gratisan.


Gawat, wajah memelasnya sungguh imut dan aku tidak tega menolak permintaannya.


Tangannya pun membentuk teropong ke telingaku dan mendekatkan mulut untuk berbisik, "Lia, kau jadi maid juga dan berpasangan denganku. Nanti, akan kubeli seragam maid khusus untuk kita berpasangan. Mau ya?"


Tidak tega bagiku mendengar suara rengekan ini.


"Baiklah, baiklah, baiklah," ucapku sambil mencubit pipinya lagi.


Tristan meletakkan satu telunjuknya di depan bibir seraya berdesis. "Rahasiakan hal ini dari guru, ya."


Ya, tentu saja akan kurahasiakan karena aku membantunya dalam melakukan kenakalan.


"Lia, ayo keluar dari sekolah diam-diam untuk berbelanja kostum kita," ucap Tristan yang mengendap-endap berdiri di sebelahku saat aku menunggu tim pembeli aksesoris di depan kelas.


"Mana boleh begitu," jawabku kesal. "Jangan bolos, Tantan. Itu tidak baik."


Tristan memanyunkan bibirnya. "Baiklah. Aku terpaksa memesan melalui pelayan rumahku."


Rasanya lucu jika dia menjadi maid, lalu menghubungi pelayan rumahnya yang notabenenya mereka sama-sama pembantu.


Seluruh waktu belajar dihabisi dengan mendekor kelas sebaik mungkin. Aku pun iseng pergi ke kelas-kelas lain yang sedang menghias stan mereka begitu warna-warni dan memukau. Bahkan di area lapangan sudah dipasangkan panggung dan kedai-kedai dari tenda kecil yang masih kosong.


"Lia!"


Kepalaku menoleh dengan panik saat aku mencoba menyentuh sound speaker di dekat panggung dan ada seseorang memanggilku seakan-akan sedang memergokiku.


Rupanya, Kak Kaivan.


"Sepertinya, kamu terlihat sibuk dengan barang-barang itu," katanya dengan menahan senyum.

__ADS_1


Kedua tanganku sontak berada di belakang punggung dan menyeringai lebar. "Aku cuma check-check saja kok."


Kak Kaivan menggeleng dengan tawa kecil, lalu memberi kode tangan untuk mengajak pergi.


"Setelah festival ini, sepertinya aku akan sedih karena berpisah denganmu."


Aku menggenggam tangannya untuk menghibur dan berkata, "Kenapa harus sedih? Kak Kaivan bisa kapan saja menghampiri sekolah ini setelah lulus kok."


"Sepertinya kesibukanku nanti jauh lebih padat dari sekadar ketua OSIS," balasnya. "Omong-omong, kelasmu mengadakan stan apa?"


Perubahan alur topik. Aku tahu jika Kak Kaivan mengartikan tidak akan bisa lagi kembali ke sekolah ini saat menginjak kehidupan barunya.


"Stan kafe. Aku sebagai pendekor dan juga maid karena temanku yang meminta tolong," ucapku bersemangat dan membayangkan betapa asyiknya stan kelasku nanti.


Kak Kaivan menaikkan kedua alisnya tanda tertarik dengan apa yang kuucapkan. "Pasti bagus sekali. Esok aku akan datang untuk melohat adik tersayangku menggunakan kostum imut."


Di sela-sela saling memandang satu sama lain dengan tersenyum, wajahku langsung berubah murung karena teringat perihal tadi.


Sebelum Kak Kaivan bertanya, aku lebih dulu berkata, "Kak ... apakah Kak Kaivan sungguh tidak akan berkunjung setelah lulus?"


Kami yang berada di tengah-tengah lapangan dan banyaknya anak-anak sibuk mulai berhenti melangkah.


"Di masa-masa aku terpuruk, Kak Kaivan selalu ada untukku." Wajahku memalingkan pandangan. "Tanpa meminta, Kak Kaivan dengan senangnya memberiku ini dan itu." Aku pun menunduk. "Jika tidak ada Kak Kaivan, bagaimana jika aku sedih dan tidak ada yang di sisiku lagi?"


Orang pertama yang menerima kisah hidupku, menghiburku dari segi ucapan dan pemberian, bahkan memberi kasih sayang yang sangat hangat. Aku jadi teringat bagaimana dia memelukku dengan erat di hari-hari berkabungku pada kematian nenek.


"Maaf, Lia." Kalimat Kak Kaivan sedikit mengejutkan. "Aku sudah berhasil mendapatkan beasiswa ke negara tetangga dan aku tidak mampu untuk meninggalkan kesempatan itu."


"Aku mengerti." Kepalaku mengangguk, lalu mendongak. "Semangat, Kak! Aku selalu ingat dengan Kak Kaivan. Oh ya, mungkin kita harus sering mengirim pesan teks atau telepon nantinya."


Kak Kaivan mengelus rambutku. "Wah-wah, adikku ini sudah memiliki ponsel. Baiklah, nanti akan kuberikan nomorku."


Hening sejenak.


"Ada satu hal yang ingin kukatakan," kataku yang membuat Kak Kaivan merespons dengab dehaman. "Rasanya, berkomunikasi jarak jauh ... kurang ... efektif." Membicarakan hal ini membuatku sedikit gugup dan canggung. "Jadi, mungkin ... kita harus membangun hubungan yang lebih jauh?" lanjutku.


"Maksudnya?" Kedua alis Kak Kaivan terangkat dan satu tangannya menutup mulut, seolah sedang berpikir matang-matang.


Aku memalingkan wajah.


"Maksudku, bagaimana jika kita jadian?"

__ADS_1


- ♧ -


__ADS_2