Oh My Love

Oh My Love
Kebaikan Sekitar


__ADS_3

Sudah sebulan lebih aku menghabiskan dalam mendekam, menenangkan, mengobati diri sepenuhnya sebelum kembali menginjak tempat yang berawal dari segala ketakutanku. Terapi, obat-obatan dan kepedulian dari seseroang yang mengurusku cukup membuatku membaik. Meski hanya sedikit, setidaknya aku harus kembali ke sekolah.


Aku berani memasuki tempat kesialan tersebut karena mendapatkan kabar baik dan buruk. Kabar buruknya, Ricky, si bajingan itu telah terlepas dari tuntutan memasuki lapas anak dengan membawa pembelaan yang hebat. Sedangkan kabar baiknya, ibunya selaku kepala sekolah memutuskan untuk memberinya diskors agar menjaga nama baik sekolah.


Setidaknya, aku merasakan sedikit kebebasan tanpa jelmaan iblis seperti laki-laki tersebut yang kini mendapatkan hukuman walaupun tidak setimpal.


Jaket hitam pun kugunakan, karena membuatku berpikir setidaknya tubuh ini harus memiliki pelapis lebih dari satu. Meskipun terlihat cupu, aku tidak mempedulikan.


Sasha begitu baik hati dan aku tidak menyangka jika dia sanggup mengurusiku tanpa menampakkan kekesalan. Sekarang, dia pun berani mengantarkanku ke sekolah tanpa menjaga jarak sedikit pun. Rasanya, seperti dijaga dan dilindungi, begitu tenang sekaligus bahagia. Aku menjadi terharu karena segala perbuatannya untukku. Untuk tolak ukur sifatnya yang asli, sikapnya padaku sudah termasuk berlebihan baginya.


"Apakah kamu tidak takut dikerumuni penggemarmu jika berangkat di waktu normal?" tanyaku ketika kami berada dalam bus.


"Jika ada kamu, mereka akan berpikir dua kali," balas Sasha yang menatapku dengan sendu.


"Bagaimana jika ada desas-desus yang mencurigai hubungan kita?"


"Aku tidak peduli." Senyuman lebih lebar telah tergambarkan. "Selagi bisa melindungimu, akan kulakukan apapun resikonya."


"Lalu, jika ..."


Seketika Sasha memotong ucapanku dengan desisan dari bibirnya yang dihalangi satu jari telunjuk. "Jangan bertanya yang membuat keputusanku goyah."


Begitu bersyukur, karena mendapatkan pendamping yang tidak kusangka-sangka sepeduli ini padaku. Terkadang aku berpikir jika dia hanya sekadar bersandiwara sebagai suami yang baik demi menjaga harga dirinya pada kedua orang tuanya. Namu, perilakunya apabila sampai sejauh ini, sudah pasti murni dari ketulusannya.


Tibanya kami di sekolah, semua pandangan menjadi tersorot ke arah kami. Para gadis-gadis menjadi terperangah hebat, dan ada pun yang mengenakan kacamata mulai melepaskannya untuk memastikan apakah penglihatan mereka tidak salah. Sesuai ekspetasiku dan aku sudah menyiapkan wajah menahan malu sekuat mungkin.


"Tidak apa, ada aku di sini," kata Sasha yang membuatku tenang kembali.


Saat memasuki kelas, mendadak seseorang menderap kepadaku dan memeluk dengan erat. Selama seperkian detik, aku baru sadar bahwa dia adalah Hana, sahabatku.


"Aku ... aku sangat kangen ... kangen sekali padamu, Lia!" ucap Hana dengan tangisan kebahagiaan. "Aku sudah mendatangi alamat rumahmu, sesuai data sekolah yang diam-diam aku cari tahu demi menjengkukmu. Akan tetapi, justru tiada keberadaanmu. Aku berpikir jika kamu dirawat di tempat khusu terapi."

__ADS_1


Kami melepaskan pelukan dan aku menepuk-nepuk bahunya. "Aku sudah membaik. Tenang saja, Hana."


Tangannya menyeka air mata tersebut dan mulai tertawa pahit. "Lihatlah, kamu terlihat pucat. Pasti nafsu makanmu berkurang. Aku membawa roti isi daging, lho. Kamu pasti mau, 'kan?"


Aku tersenyum lebar. "Ya, aku mau. Mungkin, Sasha juga mau."


Tanganku menunjuk Sasha yang sedang menggedik bahu kepada Hana dan tersenyum kecil.


Kami bertiga duduk pada bangku masing-masing, kemudian Hana mengeluarkan dua roti berisikan daging tebal. Satu untukku, dan satunya lagi dia bagi setengah untuk Sasha.


"Isinya ada acar jepang yang sangat menyegarkan dan lezat. Bahkan dagingnya wagyu A5 lho!" ujar Hana yang membuat Sasha tersedak.


Aku yang tidak tahu apa-apa dan hanya bisa menikmati kelezatannya pun cukup terdiam karena bingung dengan reaksi kaget laki-laki ini.


"Ini makanan mahal, kenapa membaginya untukku?" Sasha memprotes dengan mengerutkan wajah dan membuatku ikut terkejut juga.


"Makanan mahal?" Jiwa kemisikinanku mulai melonjak kaget.


Hana memberi isyarat tangan untuk kami berdua diam seraya mengatakan, "Seharusnya kalian berterima kasih, bukan menodongku dengan pertanyaan begitu!"


Sementara itu, Sasha berlanjut memakan roti isi tersebut meski dalam keadaan wajah yang masih masam.


"Sama-sama. Oh ya, Lia." Kepala Hana sedikit menunduk dengan muram. "Maaf jika aku terlambat meminta bantuan saat itu."


Otakku juatru teringat lagi kejadian kelam tersebut. Tanganku mulai bereaksi dalam mencengkram roti isi ini dan berusaha menahan diri untuk mengamuk.


"Awalnya, aku mencari Tristan karena mungkin hanya dia yang mau membantuku. Setelah pusing tidak menemukannya, aku memutuskan untuk menghampiri Sasha," lanjutnya menggunakan intonasi lambat. "Aku sedikit takut berbicara padanya setelah kejadian yang kita ketahui bersama. Karena itulah kami terlambat."


Kepalaku mengangguk tanda memahami. Belum saja aku ingin menjawab, mendadak anak-anak lain menghampiriku dengan heboh.


"Astaga, Lia. Kamu sudah bersekolah lagi? Ya ampun, aku selalu khawatir dengan keadaanmu!"

__ADS_1


"Aku membawakanmu teh botol sebagai menyambutmu kembali ke sekolah. Kamu pasti mengalami masa-masa yang lelah, ya? Haduh, semangat ya!"


"Hai, Lia. Bagaimana kabarmu? Kamu terlihat kurus sekali saat kulihat di gerbang tadi. Ini, aku membelikan susu untukkmu."


Beberapa anak-anak memberiku makanan dan tidak kusangka jika mereka memikirkan nasibku selama ketidakhadiranku. Rupanya, banyak sekali orang yang peduli di sekitar, tetapi tidak kusadari.


"Woi, Hana!"


Semua orang sontak menoleh saat mendengar suara memanggil Hana dengan keras, dan orang itu adalah Kai.


"Seharusnya kau menyewaku lagi untuk menjadi bodyguard Lia. Maka akan kuhajar si ketua OSIS brengsek itu," ujar Kai sembari meninju-ninju angin dengan gaya sok keren. "Maka kejadian yang menimpa Lia tidak akan hadir."


Padahal, Kai tidak sekelas lagi bersama kami. Namun, dia ikut menghampiriku karena ingin memeriksa keadaan.


"Iya, deh. Mungkin, mulai esok aku akan menyewamu lagi," jawab Hana dengan tawa kecil diiringi tawa anak-anak lainnya.


"Jika membantu, haruslah ikhlas! Jangan pamrih begitu!" sahut gadis lain yang memukul bahu Kai.


"Iya deh, iya!" jawab Kai dengan pasrah, kemudian menatapku dan merubah ekspresinya menjadi kocak kembali. "Tenang, Lia. Kami semua ada padamu."


Entah kenapa, aku mencoba menoleh ke belakang untuk melihat Sasha dan dia pun tersenyum atas kebahagiaanku. Betapa senangnya di kelilingi orang-orang seperti ini.


"Hei, bagaimana jika kita memboikot si Ricky? Suruh saja dia turun jabatan!" usul salah satu laki-laki. "Sikapnya sama sekali tidak mencerminkan pemimpin."


Seisi kelas langsung manggut-manggut. Bahkan yang sedang tertidur mulai terbangun dan menyetujui saran tersebut.


"Setuju!" teriak anak yang duduk di paling pojok kelas.


"Gas saja!"


"Ayo, aku ikut juga jika mendemo!"

__ADS_1


Sistem pemilihan OSIS ditiadakan dan bahkan ketuanya saja memiliki sikap super berandal sekaligus mampu melecehkan seorang gadis. Aku yakin jika korbannya bukan hanya aku seorang.


- ♧ -


__ADS_2