Oh My Love

Oh My Love
Kesalahpahaman Lagi


__ADS_3

Seharian penuh kuhabiskan dengan membaca novel yang begitu membawa perasaan dalam setiap kalimatnya. Tidak lupa juga memerhatikan setiap poin penting sebagai pembelajaran seperti menelaah bagian mana kalimat verba yang benar, majas yang sulit dipahami dan kosakata baru yang bisa jadi harus kuhafalkan.


Berada di sofa, duduk bersantai dengan satu buku paket materi bahasa apabila ada sesuatu yang bisa kutemukan pembahasannya di novel kubaca.


Tiba-tiba, aku mematung ketika sebuah penjepit pita menjempit poniku yang sedikit menghalangi bacaan. Kepalaku sontak mendongak dan melihat Sasha yang berdiri di belakang sofa setelah memasangkan jepitan tadi.


"Mana tutup penaku?"


Baru saja aku mengira akan ada suasana romantis yang menggelikan dan mengherankan, tahu-tahu saja eksptasi tersebut dihancurkan oleh pertanyaannya.


"Baiklah, tunggu," kataku sembari meletakkan novel di atas meja.


TAK!


"Haish ...."


Saat hendak berdiri, aku lupa jika Sasha masih di dekatku sehingga dagunya membentur kepalaku. Ah, itu pasti sakit.


"Ups, maaf," ucapku, lalu buru-buru pergi ke kamar dan mengambil tutup pena yang untungnya langsung kutemukan di dekat kasur.


KRING!


Ponselku berbunyi dan tertera sebuah panggilan bernama 'Lia's Soulmate' di layarnya. Ini sudah pasti telepon dari Tristan, dan dia menyimpan nomornya di ponsel ini dengan nama 'jodohnya Lia' dengan kesan menjengkelkan.


Serta merta aku mengangkatnya dan langsung disambut dengan sapaan riang dari laki-laki hiperaktif itu.


"Ada apa, Tantan?" tanyaku sembari membuka pintu ke luar kamar.


"Ya ampun. Aku hanya ingin mengobrol denganmu. Haruskah aku memiliki alasan penting sampai diberi pertanyaan seperti itu?"


Seketika suara erangan muncul yang membuatku terkejut. Sasha menyeka bibirnya dari setetes darah dengan ibu jari. Astaga, bibirnya pasti tergigit secara tidak sengaja saat kepalaku menyundul dagunya!


"Apa kamu ada obat-obatan untuk luka itu?" Aku menderap pada Sasha dan melihat bibirnya yang malang itu. "Maaf, maaf banget!"


Kepalanya menggeleng. "Lupakan."


"Lia, kamu bersama siapa?"


Mataku dan Sasha saling menatap dengan melotot. Aku baru ingat jika sedang berbicara di telepon bersama Tristan.


"Aku mendengar suara laki-laki. Siapa yang sedang bersamamu, Lia?" tanyanya dengan nada tinggi yang membuatku tidak bisa berkata-kata di hadapan Sasha.

__ADS_1


Secepatnya, Sasha melangkah menjauh dariku.


"Aku berada di luaran. Maka karena itu ada suara laki-laki yang berbincang bersamaku," dustaku dengan berharap Tristan akan mempercayai kalimat tadi.


"Jadi ... kamu bersama si muka datar itu?"


Napasku terasa tercekat di saat dia sadar akan kehadiran Sasha. Bahkan, laki-laki yang tadi disebut pun tengah berwajah panik di sudut ruang apartemen.


"Dan tadi suara menutup pintu? Kamu berada si luaran mana, Lia."


Untuk ke sekian kalinya, terasa seperti terhujam ribuan pisau saat disudutkan seperti ini. Bodohnya aku dalam melakukan kecerobohan! Oke, aku menjadi sedikit panik.


Mendadak, Sasha merampas ponselku dan mematikan panggilan tersebut dengan air muka bete. Menjengkelkan, sepertinya kami harus tidak berkomunikasi atau berdekatan kapan pun dan dimana pun agar tidak menimbulkan masalah seperti ini.


Akhirnya, kekhawatiran kami berdua terkabulkan ketika keesokan harinya dalam memasuki sekolah.


Tristan memandangi Sasha dengan tatapan permusuhan terus menerus. Di sisi lain, dia terus menerus bertanya untuk memastikan keberadaanku kemarin dan mengapa panggilan teleponnya selalu kubiarkan setelah kejadian sial itu. Sungguh, aku tidak ada bakat untuk menyampaikan alasan dusta yang indah untuk meyakinkan Tristan.


"Hei, berhentilah memandangiku seperti itu. Kau seperti stalker," cibir Sasha saat merasa muak dalam dipandangi terus menerus oleh Tristan sampai jam pelajaran ke dua.


"Kau yang stalker, sialan. Bagaimana bisa Lia bersamamu, huh?" jawab Tristan dari bangkunya dan posisi tubuh menghadap ke Sasha.


Telingaku terasa panas dalam mendengarkan kedua orang yang berbicara kasar dengan aku di tengah-tengah mereka.


Tanganku mengibas pelan dan melirik ke kiri. "Hanya kesalahapahaman kecil. Jangan dipikirkan."


"Aku rasa ... tidak." Dia menyangkalku dengan lirih.


BRUK!


Aku dan Hana menoleh serentak saat Tristan bangkit, lalu menendang kursinya ke belakang.


"Sinting, kau kira sedang berbicara dengan siapa?" Tristan berjalan ke luar dari area bangkunya dan pergi ke arah Sasha.


"Siapa yang kau bilang sinting, Sinting?" balas Sasha dengan senyuman miring seolah menantang kemarahan Tristan.


Spontan, aku menahan Tristan dengan memeluk tubuhnya. Sedangkan Hana bergerak cepat menahan lengan Sasha yang hendak melangkah maju untuk menerima keributan.


"Kalian ini, sebenarnya meributkan apa?" Hana membelalak dalam menatap kedua laki-laki menyeramkan ini.


TOK! TOK! TOK

__ADS_1


Suara ketukan pintu terdengar dan membuat seisi kelas yang tengah asik menonton pertengkaran ini menjadi menoleh secara serentak. Kak Kaivan, matanya memicing dalam menatap kondisi kelas kami.


"Ada apa? Tadi, aku mendengar keributan," ucap Kak Kaivan seraya melangkah masuk dan meletakkan lembaran-lembaran kertas di atas meja guru. "Yang berdiri, kembalilah ke tempat duduk kalian masing-masing."


Sontak aku menarik tangan Tristan untuk kembali ke bangkunya. Di saat yang sama, mataku tetap melihat ke Kak Kaivan yang memandangi terus tanganku dan Tristan.


"Semua lembaran ini adalah kisi-kisi untuk ujian akhir semester kalian setelah try out. Pelajari dengan baik dan jangan sampai terlihat terremas, lalu terbuang di tong sampah," cetus Kak Kaivan dengan tegas pada seisi kelas. Kemudian, jari telunjuknya menunjuk ke arahku seraya berkata, "Lia, jangan lupa bagikan semua ini, ya."


Mengapa aku yang harus menjalani amanah tersebut? Tanpa mengucapkan kalimat protes yang ada dipikiranku, kepalaku mengangguk tanda patuh.


"Dih. Aku kan mau dibagiin sama Sasha! Kenapa harus Lia sih, Ketua?" celetuk salah satu gadis yang duduk di paling belakang.


"Diamlah, atau namamu akan masuk ke dalam black list OSIS," balas Kak Kaivan tidak senang dalam menanggapi.


Baiklah, ucapan Kak Kaivan membuat kami semua keder.


Dia pun keluar dari kelas dan aku langsung maju ke depan untuk mengambil lembaran kisi-kisi, kemudian secepatnya aku melaksanakan perintah.


"Sepertinya aku salah menebak orang," racau Tristan seraya menaikkan kedua kakinya di atas meja.


Karena aku memuja kesopanan, kaki tersebut kutarik sampai menginjak lantai dan membuat sang empu tertawa parau.


"Apa maksudmu?" tanyaku kebingungan.


"Ya, sepertinya yang bersamamu bukanlah si wajah datar itu. Karena, mustahil jika Lia begitu betah dengan spesies manusia sepertinya," sambung Tristan dengan memegangi dagunya dan bertampang tidak kalah datar denganku. "Kamu pasti bersama si Kaivan itu, bukan?"


Seisi kelas pun terkesiap dalam menyimak obrolan kami. Mengapa kesalahpahaman ini sampai mengalir ke mana-mana? Aku ingin sekali mengamuk sejadi-jadinya dan menggobrak-gobrak Tristan untuk menyangkal semua tebakannya.


Mataku langsung melirik ke Sasha yang sedang mengurut dahinya akibat ketidakjelasan pernyataan Tristan.


"Lia pacaran dengan ketua OSIS?"


"Kalian sunmorry ke mana seperti kata Tristan?"


"Kirain, Lia dan Kaivan cuma sekadar kakak-adik."


Seketika desas-desus dalam kelas memasuki telingaku. Mengapa aku harus menerima akhir dari secuil kerebohan sampai seperti ini? Benar-benar parah.


"Jika kalian tidak diam, maka kursi yang aku duduki akan melayang ke kepala kalian," tegur Tristan dengan leher yang di letakkan pada ujung punggung kursi dan menatap ke arah belakang dalam keadaan kepala mengarah ke bawah. "Jika ingin bergosip, katakan saja jika aku dan Lia yang berpacaran."


Aku hanya bisa mengembuskan napas berat dalam menghadapi cobaan ini.

__ADS_1


- ♧ -


__ADS_2