
Pada saat ini, Sasha sedang mengurut keningku, sedangkan aku tidur di atas pahanya dan sofa panjang. Kepalaku lumayan pusing, mungkin karena terpapar sinar matahari terlalu lama dan hari ini lumayan panas.
Aku menatap wajah Sasha dan berkata, "Sasha, apa kamu sudah kehilangan ketampananmu?"
"Bicara apa kamu ini?" Matanya memicing dalam merespons. "Sudah bosan melihatku?"
"Kini aku melihatmu, rasanya ingin muntah." Ini bukan bercanda, aku sungguh-sungguh mengatakannya dan sekarang rasa mual mulai hadir, tetapi kutahan.
Sasha mengibas rambutnya ke belakang dengan tangan sebelahnya dan terkekeh. "Jangan dilihat kalau begitu."
"Tapi aku ingin melihatmu terus," jawabku seraya mengelus pipinya dengan satu tangan. "Aku sungguh-sungguh ingin muntah."
"Bangunlah dulu."
Setelah diperintah, Sasha bangkit dan mengambil kotak P3K pada laci di bawah TV. Diambilnya obat sachet herbal untuk masuk angin, lalu diberikan padaku. Ketika mencoba meminumnya, sontak aku berlari ke dapur dan muntah di tempat cucian piring.
Sesuatu terbesit di otakku. Akhir-akhir ini aku tidak datang bulan dan rasanya cepat kelelahan, tidak seperti biasa aku begini. Setelah dipikir-pikir, aku pun membersihkan mulut dan berjalan pergi ke kamar tanpa mempedulikan Sasha yang tengah khawatir. Kuambil ponsel sembari menggigit jari telunjuk, dan membuka web berbelanja online untuk membeli barang kecil yang seharusnya tidak kubeli terang-terangan.
Beberapa menit berlalu dan pintu keluar apartemen terketuk. Sebelum Sasha pergi untuk membukakan, aku melesat secepat mungkin untuk menerima sebuah paket kecil dari kurir yang datang.
"Tadi itu apa?" tanya Sasha tanpa mendapatkan jawaban dariku.
Tentunya, aku pergi ke kamar mandi dan memenuhi panggilan alam. Terduduk di atas toilet dan meratapi sebuah benda yang menunjukkan dua garis merah telah membuatku menjambak rambut sendiri. Bukankah ini tergolong begitu cepat? Rasanya aku ingin menendang setiap prabotan rumah karena mendapatkan kenyataan ini.
Aku melihat ke arah perut yang masih berbentuk normal, langsing dan kecil karena belum waktunya makan. Apakah nanti akan membesar begitu cepat? Sepertinya aku butuh korset. Akan tetapi, bisa saja membuatku sendiri terasa sakit. Bagaimana caranya aku menyembunyikannya?
Ke luar dari kamar mandi dan aku langsung berdiri di depan cermin besar yang biasanya kugunakan untuk melihat saat memperbaiki penampilan seragam. Aku menarik baju ke atas dan tetap melihat ke arah perut yang tidak ada bedanya dengan triplek.
Apakah tadi hasil tesnya salah? Sepertinya iya. Ah, tapi tidak mungkin benda seperti itu rusak atau berbohong. Apa yang sedang kupikirkan? Seolah sedang membohongi diri sendiri untuk menolak apa yang terjadi.
Sesudah semua itu, aku tidak bisa menggambarkan ekspresi natural di mana pun dan kapan pun.
Di apartemen, sekolah, depan teman-teman atau Sasha, rasanya seperti patung berwajah masam. Sesekali banyak orang yang bertanya mengenai masalahku yang tergambarkan di wajah, tetapi aku hanya bisa bersikap keki. Belajar tidak fokus, makan terasa hambar, mulai menjauhi Sasha sebisa mungkin meski dia sekadar mengajakku bicara.
__ADS_1
Apakah aku benar dalam bersikap seperti ini? Kegelisahanku terlalu berat dan mulut selalu terbungkam karena enggan menyatakan hal yang sebenarnya.
"Lia, kamu ada apa?"
Di saat memakan sarapan sebelum berangkat ke sekolah, ucapan Sasha membuatku tersentak kaget. Buru-buru menghabiskan roti dengan coklat dicairkan ini, kemudian langsung pergi tanpa meresponsnya. Lagi-lagi reaksi burukku membuat orang-orang di sekitar menjadi peka dan mungkin khawatir.
Aku harus bagaimana? Apakah ini bisa disebut kesialan?
"Kalau ada masalah, ceritalah."
Lamunanku pecah akibat Sasha muncul mendadak dengan duduk di kursi bus sebelahku. Wajahku benar-benar sulit dikontrol untuk menyembunyikan kekhawatiran.
Pilihanku hanya satu, yakni menjawab, "Tidak ada."
"Kamu tidak ahli menyembunyikan perasaan," balas Sasha seraya mengeluarkan buku catatan mini dari sakunya, lalu membaca setelah berkata, "Memangnya, aku tidak bisa dijadikan tempat bersandar untukmu saat ada masalah?"
"Tidak ada masalah." Kepalaku menatap ke jendela dan berusaha memasang reaksi sedatar mungkin.
Terdiam dan mulut menolak untuk mengiyakan pertanyaan itu. Bukan, aku juga salah di situasi ini. Tidak juga, apa yang kudapatkan bukanlah kesalahan atau kesialan. Jika aku beranggapan seperti itu, sudah pasti kuhilangkan saja yang menganggu ketenanganku ini.
"Sepertinya iya," lanjutnya dan tanganku otomatis mengepal di atas paha.
Sesampainya kami di sekolah, Sasha tidak melemparkan pertanyaan lagi meski Hana dan Tristan menanyakan kondisiku terus menerus. Terlebih lagi ketua kelas menegurku untuk pergi ke UKS karena katanya wajahku terlihat pucat. Aku jadi stres karena secuil hal ini.
Masalahku mulai bertambah ketika jam istirahat akan usai, Sasha menarikku pergi ke area belakang sekolah. Lalu, kedua tangannya dilipat seperti seorang bos yang menunggu pengakuan bawahannya.
"Sudah seminggu kamu seperti ini." Tanpa menatapku, dia melanjutkan, "Kamu kira, dengan seperti ini aku tidak merasa terbebani?"
Dahiku mengerut dan merasa kesal dengan ucapannya. Emosiku menjadi berantakan dan tahu seharusnya tidak perlu marah.
"Tahu apa kamu tentang bebanku? Merasakannya saja tidak!" sergahku dengan melotot. "Sial, jangan bicara jika tidak tahu apa-apa."
Gawat, aku tidak sengaja berbicara kasar.
__ADS_1
"Bagaimana bisa kurasakan jika kamu tidak cerita, Lia?"
Bel tanda perintah memasuki kelas telah berbunyi. Baguslah, aku memiliki alasan untuk menghindar.
"Meskipun tahu, kamu juga tidak akan merasakannya," balasku ketus. "Aku ingin balik ke kelas."
Di kala hendak melangkah pergi, Sasha spontan menahan tanganku. "Memangnya sopan memberhentikan pembicaraan seperti ini?"
Tanganku menyentak keras sampai terlepas darinya, lalu berjalan pergi menuju kelas yang untungnya para OSIS belum berpatroli. Aku sedikit merasa bersalah karena berbicara ketus pada Sasha. Apa sebaiknya aku meminta maaf? Namun, emosiku menolak keras untuk melakukan itu.
Saat pulang sekolah, aku menyengajakan diri untuk memperlambat dalam membereskan atas meja, sampai-sampai anak-anak yang piket akan usai mengerjakan tugas. Akan tetapi, Sasha justru berdiam diri di kursinya seolah menunggu untuk pulang bersamaku.
Aku merasa detak jantungku semakin cepat ketika melihat sekeliling menjadi semakin buram dan samar. Pikiranku yang tengah kacau mulai menganggu dan aku merasa seperti ada angin yang menerbangkan seluruh tubuhku.
"Hei, Lia," panggil gadis di belakangku ketika aku bangkit dari bangku. "Tutupi rokmu dengan tas. Cepat, sebelum yang lainnya melihatmu."
Spontan aku melirik dengan begitu fokus ke rok belakang dan mendapati warna merah yang membentuk lingkaran kecil. Rupanya menstruasi, maka hasil testpack itu salah.
"Butuh pembalut? Aku ada nih," sahut gadis yang lainnya tengah menyapu di belakang kelas
Tiba-tiba aku merasa terhuyung dan keseimbanganku kurang stabil. Sesaat kemudian, aku merasa pandangan mataku kabur dan gelap. Akhirnya, aku terjatuh dan kepala membentur meja di sebelahku. Terdengar suara-suara panik menggema dan kesadaranku perlahan terkikir. Terasa juga seseorang menggendongku hingga goncangannya sangat tidak nyaman.
"Sepertinya dia anemia dan karena datang bulan, jadinya pingsan!"
"Kayaknya ini bukan datang bulan yang sehat. Pasti darah bersih yang dia keluarkan dan bukan darah kotor, makanya jadi begini."
"Jangan bawa ke UKS, rumah sakit aja langsung. Anak yang piket UKS mustahil ngurusin pasien begini."
"Pesan taksi, cepat!"
Akhirnya, semua suara itu sirna, bersamaan dengan kesadaranku.
- ♧ -
__ADS_1