Oh My Love

Oh My Love
Perpustakaan


__ADS_3

Pada jam istirahat, aku enggan untuk berleha-leha. Misiku hanya satu, yakni meminta penjabaran dalam materi bahasa pada Hana.


"Ayo, Lia. Kita ke kantin bersama," ajak Tristan yang berdiri di sebelah bangkuku, lalu menjadi berjongkok hingga wajah kami saling bertatapan. "Ada apa? Kamu tidak lapar?"


Tanganku reflek mencubit pipi Tristan yang mulai memasang wajah ala anak kelinci sedang memelas. "Tidak. Aku hanya ingin ke perpustakaan untuk belajar."


Tristan yang pasrah dengan pipinya hanya bisa berusaha menjawab secara terbata-bata, "Ayo ... lah. Bela-jar ... bisa di-dilakukan nanti ... dan lebi-bih baik kita ke kan ... tin lebih dulu."


"Kantin pasti ramai dengan para penggemarmu, Tantan," balasku seraya tertawa kecil. "Aku pasti akan terdesak-desak."


"Maka karena itu ..." Tristan kembali berdiri hingga tanganku terlepas dari wajahnya. Satu tangannya berdiri di mejaku seraya menopang badannya, lalu sebelah tangannya lagi memegangi daguku dan berkata, "Jadilah kekasihku secepatnya. Maka para penggemar gila itu akan enggan mendekatiku dan tidak membuatmu terdesak saat didekatku."


Wajahku hanya bisa memberi reaksi datar akibat diberi godaan garing olehnya.


"Jangan berkata yang tidak-tidak, Tantan," tukasku seraya menepis pelan tangannya dari daguku. "Baiklah, kita ke kantin. Lalu, pergi ke perpustakaan."


Hana membalik badannya dan menyahuti, "Kamu tidak mau mengajakku?"


"Aku sedari tadi sudah berniat mengajakmu, Hana." Mataku melirik ke arah Tristan. "Kamu juga harus belajar untuk try out dan ujian akhir semester, Tantan. Ayo, kita pergi sekarang agar waktu tidak terpotong."


Hana dan aku serentak bangkit, kemudian Tristan langsung merangkulku dan tanganku menepisnya.


"Aku langsung ke perpustakaan saja untuk booking bangku kita bertiga sebelum dipenuhi anak-anak lain," ujar Hana yang mendapatkan persetujuan dengan anggukan dari aku dan Tristan. "Aku pergi dulu."


Kami berdua berlanjut pergi dan sampailah di area luar gedung sekolah. Sebelum melangkah menuju kantin, terdengar kehebohan dari gerbang depan yang di mana muncul kehadiran seorang gadis. Kakinya terbaluti dengan banyak perban dan harus berjalan menggunakan alat bantu. Di sekitarnya terdapat anak-anak yang bertanya akan keadaannya lebih lanjut, dan sepertinya aku mulai merasa familier dengan wajahnya.


"Aku tidak tahu jika dia kembali secepat ini," kata Tristan dengan kepala manggut-manggut. "Mungkin, ingin mengurusi pengunduran diri dari sekolah."


Belum sempat aku menggubris ucapannya, gadis yang mengalami sakit kaki tersebut berdiri sejajar dengan kami. Matanya memandang ke arah Tristan, seolah-olah memiliki permusuhan abadi. Dalam seperkian detik, teringat olehku bahwa dia adalah salah-satu penggemar Sasha. Ya, aku baru sadar jika dialah yang pernah menyiramku bersama teman-temannya.


"Ada apa?" tanya Tristan dengan menyeringai lebar ke arah gadis tersebut yang mulai berdecak kesal dan pergi tanpa meninggalkan sepatah kata. "Seharusnya, satu kakinya lagi ikutan patah hingga tidak bersikap kurang ajar seperti tadi."

__ADS_1


"Apa maksudmu?" Aku melontarkan pertanyaan karena tidak memahami ucapan Tristan.


Aku merasa, mereka berdua memiliki hubungan atau masalah tertentu satu sama lain sampai memandang dengan reaksi berbeda.


"Tidak ada, Lia. Mari kita lanjut untuk pergi ke kantin." Tristan menyangkal sembari merangkulku lagi untuk berjalan lanjut menuju kantin.


"Apa kamu serius? Sepertinya kalian saling ..."


"Hei," Dia menatapku dengan sayu, tetapi bibirnya tetap tersenyum. "Lia .... Jika aku berkata tidak, itu mengartikan tidak. Iya, berarti iya. Kamu bisa mempercayaiku, 'kan?"


Kenapa hawa di antara kami menjadi mencekam seperti ini? Aura yang diberikan dari Tristan seperti membuatku nyaris ketakutan. Pada akhirnya aku hanya bisa mengangguk kecil dalam memberikan respons.


"Baguslah. Ayo, lanjut berjalan."


Sesampainya kami ke kantin, seketika para penggemar laki-laki di sebelahku ini. Sikapnya begitu menyambut gadis-gadis ini dengan menerima berbagai hadiah, menggubris segala pertanyaan dan tawa riang.


Karena Tristan peka dengan rasa risihku, dia menyelipkan uang pada genggaman tanganku seraya berbisik, "Aku juga sedang berpikir untuk pergi dari mereka tanpa merusak imej baikku, Lia. Pergilah duluan dan berbelanja dengan uang ini. Anggap saja aku menraktirmu bersama Hana."


Setelah mendengar hal itu, aku menyeruak ke luar dari lautan gadis histeris ini, kemudian pergi ke sang empu kantin dengan perasaan lega. Di perpustakaan sudah pasti tidak diizinkan membawa makanan berat. Oleh karena itu, aku hanya membeli beberapa makanan kecil yang sekiranya tidak membuat suara ketika dikunyah, dan air mineral. Setelah itu, aku menyerahkan uang yang berada di tangan dan baru tersadar bahwa lembaran tersebut berwana merah.


Meskipun ujung-ujungnya akan kesulitan dalam menerima pecahan uang, aku merasa tidak masalah dan langsung pergi menuju perpustakaan.


Tibalah aku di sebuah perpustakaan yang tidak terlalu besar dan begitu sepi meskipun penghuninya dapat dikategorikan banyak. Mataku melihat ke segala arah, tetapi tidak menemukan keberadaan Hana di mana pun. Namun, aku melihat sebuah kotak pensil berpita violet pada salah satu bangku yang di mana itu adalah milik Hana.


Secepatnya, aku menduduki bangku yang terletak di dekat jendela tersebut, lalu meletakkan belanjaan dari kantin pada kolong meja. Di tempo bersamaan, terdengar suara bisikan Hana yang lumayan dekat denganku. Tubuhku mencoba berputar ke belakang, dan langsung tidak percaya mengenai apa yang terlihat.


Hana tengah berbicara dengan riang dan berintonasi rendah pada seorang laki-laki yang tengah bersandar di salah satu rak buku, dia adalah Sasha. Selama beberapa saat, Hana sadar akan kemunculanku dan dia pun langsung menarik tangan Sasha untuk mendatangi bangku belajar.


"Hei, Lia," panggil Hana yang duduk di seberangku bersama Sasha.


Laki-laki itu memalingkan pandangannya, seolah menolak untuk melihatku. Sedangkan Hana begitu terlihat antusias dalam berbicara padaku.

__ADS_1


"Aku berhasil," lanjutnya yang membuatku paham bahwa dia berhasil mengutarakan perasaannya pada Sasha.


Jadi, apakah sekarang mereka menjadi sepasang kekasih? Apakah gelar pelakor akan tercap pada Hana, lalu perselingkuhan adalah makna yang tepat untuk Sasha? Kurasa semua pertanyaan itu tidak akan terjawab dengan kata 'iya' karena aku tidak merasa terugikan.


"Selamat," ucapku yang membuat Hana tambah ceria, sedangkan Sasha mengerutkan dahinya. "Kalau begitu, kalian bersenang-senanglah berduaan. Aku akan belajar materi bahasa sendirian."


"Tunggu," sela Sasha di kala aku hendak bangkit dari kursi. "Belajar saja, tidak perlu merasa terganggu."


Sepertinya, dia paham dan ingat akan perkataanku semalam bahwa maksudku pergi ke perpustakaan adalah meminta penjelasan materi pada Hana. Jika aku berlajar sendirian, maka tujuanku tidak terpenuhi.


"Baiklah kalau begitu," jawabku dan langsung kembali memandangi Hana. "Hana, bisakah kamu memberiku penjelasan mengenai materi ini?"


Kepalanya mengangguk dan langsung mengambil pena. "Oke, mari aku jelaskan."


Aku dan Sasha menyimak penjelasan panjang lebar dari Hana. Metode yang digunakannya dalam menjabarkan tidak jauh beda dengan Sasha semalam. Sesekali Sasha melirikku, seperti mengkode untuk mengatakan 'apakah sudah paham?' dan aku hanya menggeleng pelan.


"Aku menjadi mengantuk karena penjelasanmu." Suara menguap terdengar yang baru aku sadari bahwa Tristan sedari tadi berada di sebelahku. "Hei, jika kamu menjadi guru dan cara menjelaskanmu begitu, maka semua murid yang berada di kelas akan tertidur sampai bermimpi buruk. Aku yakin jika Lia sebenarnya tidak paham sama sekali."


Kami bertiga menatap Tristan yang menopang wajahnya dengan sebelah tangan setelah memberi kalimat ejekan pada Hana. Tidak sampai di situ, dia berganti menjadi guru penjabar materi bahasa dengan singkat dan padat dengan bantuan gambar-gambaran tabel pengelompokkan.


"Lia, bahasa bisa kamu observasi sendiri dengan hanya membaca," ujar Tristan dengan melipat tangan di atas meja dan meletakkan kepala di atasnya. "Jadi, bacalah minimal satu novel. Maka ilmu kebahasaanmu akan meningkat dan beberapa materi yang sudah kamu hafalkan akan otomatis menjadi bahan praktik ketika kamu membaca."


Inilah yang aku butuhkan! Daripada mendengar penjelasan, lebih baik langsung pada praktiknya.


"Apa mau kubelikan novel?" Bibirnya menampilkan senyum dalam menawarkan pemberian.


"Tidak perlu." Sasha menyela. "Perpustakaan tidak hanya berisikan buku pelajaran. Carilah novel di rak khusus buku fiksi."


Tristan berdecak kecil setelah mendengar perkataan tersebut. Kurasa, dia sedikit tidak menyukai orang yang gemar menampilkan wajah datar seperti Sasha. Sifat mereka begitu berkebalikan, bagaikan air dan api.


- ♧ -

__ADS_1


__ADS_2