Oh My Love

Oh My Love
Siuman


__ADS_3

Secara perlahan, aku menarik kesadaran dan menerima cahaya yang masuk ke sela-sela kelopak mata. Tanganku sontak memegangi belakang kepala akibat ada rasa nyeri di dalamnya. Setelah memerhatikan sekitaran, aku telah berada di ranjang UKS. Tunggu dulu, bukankah ini tempat yang ditiduri Hana?


"Syukurlah kamu sudah sadar, Lia!"


Mataku melirik ke sebelah yang baru kusadari bahwa ada kehadiran Kak Kaivan. Wajahnya begitu ceria dalam memandangi kesadaranku. Perlahan aku bangkit dengan terduduk, lalu Kak Kaivan memberikanku teh hangat yang tentunya kuterima senang hati.


"Astaga, Lia. Baguslah jika kamu sudah sadar!" ucap Hana yang mendadak muncul di balik tirai dengan wajah berseri-seri. "Aku khawatir sekali saat Sasha membawamu ke sini dalam keadaan panik."


Rupanya, benar tebakanku. Tapi, mengapa laki-laki cuek itu mampu mempedulikan keadaanku tadi? Bukankah seharusnya dia melangkahi tubuhku yang tengah pingsan tadi, lalu bersikap seolah-olah tidak ada manusia di sekitarnya?


Pakaianku sudah mengering. Akan tetapi, ini bukanlah seragamku. Pasti Hana menbantu menggantikan seragam basahku dengan seragam cadangan dari gudang sekolah.


"Lia, coba ceritakan lebih detail mengenai apa yang terjadi padamu," ucap Kak Kaivan seraya memegangi satu tanganku. "Aku sudah tahu semuanya. Tapi, aku ingin mendengarkannya lebih jelas darimu."


Hana yang ikut duduk di sebelahku langsung mengangguk tanda berantusias dalam menyetujui permintaan Kak Kaivan.


"Para penggemar Sasha ..." Aku menghela napas berat. "Mereka menyiram tubuhku dan melemparkanku menggunakan penghapus papan di bagian belakang kepala. Dendam adalah motif mereka karena aku menolong Hana yang awalnya menjadi target perudungan mereka."


Mereka berdua mengangguk setelah memahami perkataanku.


"Sepertinya, bukan hanya aku dan Hana yang menjadi korban," lanjutku dengan tangan yang mengepal dalam menggenggam cangkir teh hangat ini. "Pasti ada anak-anak lain yang bernasib sepertiku, namun mereka lebih memilih tutup mulut."


"Apakah kamu sudah dengar apa yang dikatakan Lia?" tanya Kak Kaivan, bukan padaku atau Hana.


Kepalaku spontan mendongak saat tirai tergeser dan menghadirkan keberadaan Sasha. Wajahnya yang menampilkan ekspresi dingin tengah menatapku, lalu ke arah Kak Kaivan. Di sebelah tangannya terdapat ponsel yang terlihat sebuah perekam suara telah dimatikan pada layarnya.


"Aku akan tindaklanjuti masalah ini," ujar Sasha pada Kak Kaivan.


"Seharusnya dirimu sadar jika kamu sendiri yang menyebabkan masalah," jawab Kak Kaivan sembari melipat kedua tangannya dan menatap Sasha dengan sinis. "Apa masalah ini akan mudah jika dilaporkan dengan bukti seperti itu?"


"Maksudmu?" Sasha tidak kalah menatap dengan sinis.


"Gadis-gadis penggemar tanpa otak itu adalah anak-anak kaya." Kak Kaivan menggertakkan gigi. "Apa matamu tidak melihat jika hadiah yang selalu mereka berikan padamu adalah brand mahal? Mereka pasti akan menggunakan uang untuk menutupi masalah. Terlebih lagi, kepala sekolah kita juga mata duitan."


Aku meraih tangan Kak Kaivan dan mengatakan, "Jangan berbicara kasar seperti itu, Kak."


"Maaf, Lia." Kak Kaivan menuruti permintaanku.

__ADS_1


Selama beberapa saat, aku melihat Sasha memandangi tanganku yang menyentuh Kak Kaivan. Kemudian, dia berecak kecil dan memasukkan ponselnya ke dalam saku celana.


"Dirimu juga berperan penting di sekolah sebagai ketua OSIS. Bertindaklah sesuai kekuasaanmu," balas Sasha.


Hana mengangguk-angguk. "Jika Sasha yang bertindak untuk menegur gadis-gadis itu atau memarahi mereka terang-terangan, sudah pasti Lia akan mendapatkan balasan dendam lebih mendalam dari mereka."


"Aku sebagai OSIS tidak ada hak untuk mengeluarkan anak-anak." Kak Kaivan mendengus kesal. "Jika Sasha yang menjadi idola mereka saja tidak bisa menegur, maka aku yang dapat menghukum mereka juga mungkin sewaktu-waktu akan terluka karena dendam mereka."


"Sudahlah," sergahku untuk menengahi perdebatan mereka. "Mereka hanya sekumpulan gadis nakal. Jangan terlalu berpikir berlebihan."


Kak Kaivan terdiam sejenak. "Iya juga. Apa yang kita khawatirkan terlalu berlebihan. Aku cukup memperingati mereka dan menghukum berat sekaligus memberi ancaman."


"Iya. Itu sudah cukup, Ketua," jawab Hana dalam memandangiku.


BRAK!


Terdengar bantingan pintu terbuka dan kembali tertutup dengan sedikit keras. Kami semua sontak menoleh ke asal suara tersebut.


"Mana mungkin itu cukup!"


Suara bass telah terdengar menggema di UKS. Kemudian, hadirlah laki-laki dengan wajah tidak gahar dengan Kak Kaivan atau Sasha.


Seperti perkiraan, Tristan muncul dan menyergapku dengan ribut. Dia melewati Hana dan Kaivan, kemudian memelukku sejenak lalu menggoncang-goncangkan kedua bahuku dengan brutal. Ah, aku tambah menjadi pusing olehnya.


"Astaga Lia! Bagaimana kondisimu? Masih pusing? Bagaian mana yang sakit? Perlu kupanggilkan dokter pribadiku? Apa kita harus ke rumah sakit terdekat?" kata Tristan dengan pertanyaan beruntun yang membuatku tidak dapat menjawab karena terlalu cepat.


"Aku akan tambah sakit karena darah tinggi disebabkan olehmu, Tantan ...." keluhku yang mulai berkunang-kunang. "Diamlah, kumohon."


"Ups, maaf!" Tristan menjadi panik dan langsung pergi mundur dengan bokong yang nyaris mencium wajah Kak Kaivan.


Dia pun berdiri di sebelah Hana, kemudian berkata, "Siapa di antara kalian yang mengunci pintu UKS dan mencegahku masuk untuk menjenguk Lia?"


Serta merta Hana mengangkat tangannya perlahan dan tertawa canggung. "Aku ...."


Berawal mengobarkan emosi, Tristan menjadi lesu saat melirik Hana yang menjawab pertanyaan tadi.


"Kenapa UKS-nya dikunci?" tanyaku kebingungan.

__ADS_1


"Tadi, penggemar lain Sasha pada heboh di luar sana. Sedangkan, Sasha kebingungan dalam menegur mereka semua. Lalu, Ketua datang dengan meminta semua orang jangan membuat keributan di depan orang-orang sakit." Hana menatapku lekat-lekat. "Ketua langsung tahu jika kamu ada di sini, Lia dan berinisiatif mengunci UKS agar istirahatmu tidak menganggu."


Tristan mulai bergumam dan bibirnya yang sedang menyinyirkan tanpa suara sudah terlihat sedang misuh-misuh meskipun sudah diberi penjelasan oleh Hana panjang lebar.


"Jika kalian berdua ada di sini ..." Aku melirik Kak Kaivan dan Sasha. "Bagaimana caranya aku ganti pakaian ini?"


Seketika mereka berdua menjadi salah tingkah. Bahkan, Sasha yang sedari tadi bertampang datar menjadi memerah dan memalingkan wajahnya dariku.


"Mereka aku minta untuk menempel dan menatap ke dinding saat aku menggantikan pakaianmu," jawab Hana yang membuatku lega.


"Sialan," umpat Tristan yang tidak mempedulikan pelototanku. "Kalian pasti mencuri kesempatan di saat seperti itu. Menjengkelkan sekali."


"Jangan bicara sembarangan!" ucap Sasha dan Kak Kaivan secara serentak hingga membuat Tristan keder.


"Hei-hei! Relax, bro!" Tristan mengerutkan dahinya dalam merespons bentakkan kedua orang tadi. Kepalanya kembali menoleh ke arahku dan melipat kedua tangannya di bawah dada. "Tenang Lia, aku bisa mengurusi budak-budak cowok jelek ini."


Jarinya menunjuk ke arah Sasha yang sedang melirik dengan sinis.


Kak Kaivan ketawa kecil. "Apa yang kamu bisa, pirang?"


Tanoa diduga-duga, Tristan langsung menarik kerah Kak Kaivan dan menatapnya dengan penuh permusuhan.


"Jaga mulutmu, Sialan. Kau kira sedang berbicara dengan siapa, huh?" ucap Tristan dengan amarah yang menyulut.


Itulah Tristan yang sesungguhnya. Begitu sensitif dengan ejekan yang merujuk ke arahnya, terutama mengenai rambut indahnya tersebut.


"Kau tahu? Aku berhasil membuat lawan sparringku menggunakan gigi palsu hanya dalam sekali tinju dikarenakan telah memanggilku persis sepertimu," ucap Tristan dengan intonasi rendah, namun berkesan dingin.


"Tantan, cukup!" Aku menengahi dan dia langsung menatapku dengan wajah memelas.


"Ah, Lia." Tangannya terlepas dari kerah Kak Kaivan dan memanyunkan bibir ke arahku. "Apa kamu marah padaku?"


"Tidak. Hanya saja, jangan membuat pertengkaran."


"Siap!" Satu tangannya ditempel pada dahi dengan gaya ala tentara yang sedang hormat. "Oh ya, serahkan saja urusan fan girl itu padaku."


Kepalaku mengangguk dan tahu bahwasannya Tristan mustahil mengucapkan hal itu sungguhan. Jika Kak Kaivan dan Sasha merasa pesimis, kurang memungkinkan bagiku jika Triatan turun tangan.

__ADS_1


- ♧ -


__ADS_2