
Akibat demam tinggi, terlalu kecapekkan, dan badan sedikit terasa sakit semua, aku bersama Sasha dilarang ikut aktivitas study tour yang katanya kegiatan baru akan lebih asyik. Karena merasa tidak berfaedah jika mendekam di penginapan hanya berdua dan dijaga oleh satu guru, kami memutuskan untuk pulang lebih dulu dengan alasan palsu, yakni periksa kondisi tubuh ke rumah sakit.
Namun, syukurlah kami tidak ditemani karena aku yang menolak untuk diantarkan bersama guru-guru.
Dalam perjalanan pulang menggunakan taksi yang tergolong bayarannya lumayan mahal, aku dan Sasha hanya berdiam diri tanpa adanya topik pembicaraan. Setiap kali aku mencoba bicara, dia selalu memberi tanggapan tanpa suara, seperti mengangguk atau melakukan pergerakan tubuh dan isyarat wajah yang tidak jelas maknanya.
Kami seperti orang asing yang saling bertemu.
TLING!
Ponselku berbunyi dan menampilkan notifikasi berisikan suatu pesan yang membuatku meminta sang sopir taksi untuk menghampiri mini market terdekat.
Inbox || Tristan Alexander: Lia! Aku mencari-carimu, dan rupanya kamu sudah pulang lebih dulu, jangan hilang dadakan seperti itu lagi! Aku ingin menyusulmu, tetapi guru-guru resek ini melarangku. Ah ya, kebetulan hari ini adalah hari coklat sedunia (walaupun di negara ini tidak dirayakan juga, hehe) aku sudah meminta pelayan rumahku untuk mengirimkanmu coklat!
Your dearest - Tristan~
Isi pesan yang lucu.
Ketika sampai di mini market, aku turun dari mobil dan diikuti oleh Sasha. Aku juga akan membelikan sepotong coklat untuknya, dan siapa tahu dia senang hingga bersikap seperti biasanya. Meskipun seharusnya berupa kejutan, mungkin ketika tiba nanti tidak akan menyempatkan diri untuk berbelanja.
"Ini untukmu," kataku seraya menyodorkan sebatang coklat almond pada Sasha setelah pergi dari kasir.
"Bukankah di apartemen banyak coklat yang bisa kita makan?" Tangannya mendorong pelan pemberianku tanda menolak. "Makanlah."
"Hei, ini hari coklat sedunia. Aku juga harus memberikan ini padamu, tau?"
"Kalau begitu, bukankah seharusnya aku yang memberikanmu?"
Benar juga, seharusnya pihak laki-laki yang memberi. Akan tetapi, aku membantah, "Memangnya, aku tidak seharusnya memberimu ini?"
Embusan napas berat, memijat kening dan menatap ke langit, semua itu respons yang ditampilkan untukku. Apakah perbuatanku salah?
"Kamu tidak perlu bersikap seperti ini," ucapnya seraya ke luar dari mini market dengan membukakan pintu untukku. "Aku salah saat kemarin, dan seharusnya kamu tidak perlu bersikap selayaknya pasangan denganku. Bebaslah, aku tidak mau kamu terkekang hanya karena ulahku."
__ADS_1
Dia mengira, aku sedang memaksakan diri untuk bersikap senormalnya istri. Padahal, aku begitu senang karena dia mengungkapkan perasaannya dan aku tidak ingin menghilangkan hawa kehadirannya seperti dulu lagi.
"Aku tidak terbebani dengan status pernikahan kita," balasku seraya menarik tangan kanannya, dan meletakkan coklat tadi. "Kamu menyukaiku, 'kan? Coba katakan, sejak kapan?"
Wajahnya tampak salah tingkah dan tidak berani menatapku. "Apa yang kita lakukan di gubuk itu, hanya spontanitas pubertasku secara tidak sadar. Jangan anggap serius."
Bibirku menyunggingkan senyum, sedikit melangkah mundur, dan menatapnya dengan pasi. Aku tahu dia malu, bahkan jika sesuatu yang spontanitas pasti benar-benar keinginannya yang dipendam. Mana mungkin dia mengucapkan kalimat berbohong dalam keadaan setengah sadar.
"Jadi, itu sekadar spontanitas tanpa perasaan, ya?" Aku menurunkan nada bicara. "Berarti ... sama saja jika aku telah di ..."
"Bukan ... bukan begitu," sergah Sasha yang mulai kebingungan dalam menjelaskan. "Maksudku ..."
"Maksudmu, kamu tidak sengaja melampiaskan keinginanmu?"
"Bukan!"
"Lantas, apa? Bicara yang benar, Sasha."
Melihatnya yang selalu memasang tampang jutek dan dingin, kini terlihat lucu saat merah padam dan kebingungan dalam menjawab seperti sedang terpojokkan.
Sepertinya, dia beranggapan bahwa sikapnya tidak beda jauh dengan Ricky dan aku pantas memarahinya.
Aku menelengkan kepala. "Tidak juga."
"Tapi, kenapa?"
"Coba ingat-ingat dengan perkataanku pada saat itu," kataku, lalu berjalan pergi menuju taksi di parkiran. "Simpulkan sendiri dan tidak perlu merasa bersalah jika paham akan situasi kita berdua. Aku juga tidak terpaksa karenamu."
Seketika tanganku diraih oleh Sasha dan ketika menoleh ke arahnya, dia berkata, "Sungguh?"
"Apanya?" Kedua alisku terangkat akibat tidak paham.
"Perkataanmu saat itu, sungguhan?"
__ADS_1
Lagi-lagi kurespons dengan senyuman tipis. Apakah dia benar-benar tidak percaya bahwa aku mulai menyukainya?
"Bukankah kamu sedikit membenciku?" tanyanya lagi.
Sebenarnya, aku ingin menyetujui pertanyaan itu karena dahulu rasa tidak nyaman selalu hadir karenanya. Akan tetapi, aku lebih memilih jawaban yang lain agar dia tidak bertanya lagi.
"Apa kamu tahu, jika seorang gadis bisa luluh karena sekadar acts of service? Seperti menemaniku di saat-saat aku terpuruk, merawatku, bersikap seolah-olah pasangan yang sebenarnya." Mataku melirik ke kiri akibat sedikit malu dalam membicarakan hal ini. "Gadis sepertiku memang tidak ada bedanya dengan para penggemarmu. Tapi percayalah, aku benar-benar terbawa perasaan akhir-akhir ini dengan sikapmu."
Sasha terdiam, seperti sedang mencerna ucapanku.
"Jadi ... maksudmu ..."
Ah, dia pasti melemparkan pertanyaan lagi. Benar-benar sulit memahamiku.
"Kamu ini!" Aku mulai kesal dan menatapnya dengan pasrah. "Harusnya bukan seperti ini ..."
"Seperti ini bagaimana? Lia, ada apa denganmu?" Reaksi Sasha mulai khawatir dengan perubahan suasana hatiku.
"Intinya, aku tidak menyalahkanmu. Tidak ada pemaksaan, terpaksa atau pemberontakan. Jado, tidak perlu merasa bersalah lagi. Jika kamu bersikap seperti ini terus, justru aku yang akan merasa bersalah karena membuatmu terus-terusan salah tingkah begini." Aku melepaskan tangannya dariku, lalu kembali melangkah pergi dan melanjutkan, "Ayo kembali, sopir taksi kita benar-benar sudah menunggu."
"Lia ...."
Kepalaku menoleh ke arah Sasha yang sedang mengibas bagian depan rambutnya ke belakang dan menatapku dengan tawa kecil. Aku pun ikut tertawa dan kembali pergi, lalu memasuki taksi. Bagus, dia pasti paham dengan perkataanku.
Saat kami berdua sudah memasuki taksi, mendadak sang pria tua paruh baya yang sebagai sopir memprotes, "Wah, wah, wah ... kalian lama sekali hanya untuk berbelanja. Apakah kalian menyempatkan diri untuk berkencan? Dasar pasangan serasi."
Rasa malu mulai melanda dan ketika aku ingin menyangkalnya, Pak sopir itu langsung melanjutkan, "Anak-anak zaman sekarang. Menjalin kasih sangat terang-terangan, tidak seperti Bapak dahulu yang harus sembunyi-sembunyi bersama wanita yang sudah bapak nikahi."
Ah ya, sebenarnya kami berdua juga sedang bersembunyi-sembunyi dalam menjalankan hubungan pernikahan.
"Saya penasaran, apakah pernikahan Bapak bahagia?" tanyaku akibat penasaran.
Mobil mulai dijalankan dan suara tawa lepas terdengar dari beliau. "Tentu saja. Menikah dengan orang yang dicintai adalah salah satu kebahagiaan, Nak."
__ADS_1
Jika begitu, bukankah aku termasuk mendapatkan salah satu kebahagiaan juga?
- ♧ -