Oh My Love

Oh My Love
Tindakan Terakhir


__ADS_3

Berkali-kali tanganku mengepal keras, mengembuskan napas panjang, menatap ke arah langit, merasa tidak bersemangat untuk beraktifitas, mendadak menjadi sangat sedih dan gelisah.


Lia tidak mau berbicara padaku. Sejak pagi di sekolah, aku menyapanya dengan riang, tetapi tanggapan yang kudapatkan hanyalah anggukan dan senyuman tipis. Setiap kali aku mendekat, dia menjauh dengan tanpa alasan. Sesekali aku mengajaknya berbicara, tapi ujung-ujungnya selalu menghindariku. Bahkan dua dayang alias Hana dan Sasha yang selalu berada di sampingnya mendukung jarak jauh di antara kami.


Kami seperti ... tidak saling mengenal. Ada hawa canggung yang selalu menyertai dan ketidaknyamanan baginya. Apakah ucapan maafku begitu kurang? Apa yang harus kulakukan agar Lia mau bersikap baik kembali padaku?


"Lia, kumohon ... jangan jauhi aku," rengekku sembari mengeluarkan air mata sandiwara, tetapi kesedihan yang kugambarkan tetap saja nyata.


Aku membawanya  ke koridor sepi agar tidak ada yang menganggu kami. Namun, tetap saja Lia hanya mengeluarkan sepatah dan dua kata untuk merespons, lalu melangkah pergi meninggalkanku.


Beberapa hari ke depan, aku selalu memberikannya banyak hadiah. Entah itu boneka kecil yang imut, aneka aksesoris, gantungan kunci untuk ranselnya, kipas mini dan masih banyak lagi. Tentu aku tidak akan memberikan Lia barang mahal, karena itu akan membuatnya merasa rendah dan sudah pasti menolak mentah-mentah.


Pesan teks dalam menanyakan berbagai hal sudah kulakukan, meskipun mendapatkan balasan begitu lama dan sangat singkat. Ada pun, aku juga meminta para gadis-gadis gila yang hobi menyatroniku untuk menjauh beberapa saat. Akan tetapi, hal ini justru membuatku tambah kesepian.


Semua usaha ini sudah kukerahkan, tetapi Lia tidak mau memandangku lagi dengan keceriaan seperti dulu. Yeah, ini salahku karena sudah terbawa emosi lebih dulu daripada memikirkan secara kepala dingin. Menyebalkan, aku menjadi frustrasi atas kesalahan diri sendiri.


Di sisu lain dalam masa sebulan, kasus berencana yang sudah kupinta telah sukses. Ricky, si bajingan kelas tersebut berhasil tertuduh dengan bukti-bukti buatan dengan motif melecehkan gadis. Jika bertanya, mengapa tidak menggunakan permasalahan Lia, maka jawabannya adalah ini hanyalah sebagai fondasi membantu tuntutan Lia. Jika dia sekadar melaporkan si bajingan itu tanpa bantuanku, maka kepala sekolah tetap saja memiliki backingan kuat. Bukankah Lia harusnya mengucapkan terima kasih padaku? Namun, seharusnya tidak. Aku tak mau dia mengetahui tangan kotorku untuk membantunya dari belakang.


Inti akhirnya, laki-laki itu berhasil kulemparkan ke dalam lapas anak. Seharusnya penjara lebih cocok untuknya, tetapi umurnya masih belum pantas.


Ketika sekolah usai dan berangkat pulang dengan mobil seperti biasa, kukeluarkan ponsel dari saku celana untuk menelepon pemimpin perusahaan yang menaungiku.


"Selamat siang," sapaku sembari bersandar di punggung kursi.


"Selamat siang, Tristan Alexander. Saya wakil Tuan Near. Apa ada yang ingin anda sampaikan?"


Sial, rupanya hanya perwakilan. Padahal, aku ingin sekali berbicara dengan pemimpin perusahaan tersebut yang notabenenya umur kami tidak terlalu jauh.

__ADS_1


"Berikan aku konfirmasi untuk menyelundup ke lapas anak esok," ucapku malas. "Infokan dalam waktu singkat."


"Baik. Kru pada divisi keamanan dalam memulai penyelundupan akan saya konfirmasi untuk pengizinan pada anggota eksekutif."


Kumatikan ponsel tanpa berbasa-basi lagi. Hanya sabar dalam menunggu dan semoga saja Lia merubah sikapnya meski tidak tahu akan tindakanku untuknya kali ini.


Setelah menginjak waktu sore, tibalah hasil konfirmasi yang membuatku langsung melonjak pergi ke tempat mendekamnya si brengsek bernama Ricky tersebut.


Menggunakan seragam kepolisian setempat dan bersikap pongah. Sesekali para penjaga setempat bertanya-tanya akan identitasku, wajah muda yang tidak terlihat seperti polisi, atau bahkan dicurigai jika bukanlah petugas di sini meskipun itu adalah fakta. Tameng untuk menghindar dari semua tersebut adalah menunjukkan data identitas diri dari beberapa berkas dan biografi dalam file komputer kantor yang tentu sudah disiapkan oleh pengacaraku atau mungkin salah satu pekerja pada Near Crew yang berada di sini.


Mendatangi satu ruangan yang berisikan lima orang anak dan kuperintahkan salah satu penjaga untuk membawa satu penghuni bernama Ricky ke luar bersamaku menuju tempat khusus. Kemudian, berakhirlah kami bertiga, yakni aku bersama partnerku dan Ricky pada ruangan kosong dengan pintu yang kukunci sendiri.


"Ada apa sampai saya dipanggil ke sini?" tanya si bajingan itu dengan wajah panik. "Saya terfitnah. Saya nggak seharusnya di sini. Tolong keluarkan saya, Pak!"


Baton stick telah kukeluarkan dari saku celana dan mulai memperpanjangnya layaknya sebuah pecutan keras.


Jeritan, erangan, rintihan kesengsaraan telah terdengar merdu di telingaku. Tongkat tipis ini berhasil menyayat-nyayat tubuh berdosa tersebut dengan brutal, tanpa jeda dan nyaris membuatku tertawa karenanya. Sesekali, kakiku menendang bagian wajah atau bahkan perut dan menginjak tangan kotor yang berani menyentuh Lia.


"Bajingan sepertimu telah berani menyentuh, Lia?" Aku mencengkram lehernya agar kami saling berpandangan satu sama lain. "Berani-beraninya ... tampangmu jauh lebih menjijikkan jika kulihat lebih lama. Mungkin, akan kupermak agar dosa-dosa di wajahmu itu sedikit luntur."


BUG!


Tanganku menghempaskan wajah buruk rupa tersebut, kemudian menendangnya bak bola sepak.


"Maaf, maafkan aku! Tolong!" teriaknya sembari menyatukan tangan tanda memohon ampun. "Aku akui kesalahanku, tolong!"


"Apakah anda perlu dibantu, Tuan?" tanya partnerku yang tadinya berada di belakang pintu untuk berjaga.

__ADS_1


"Tidak perlu," kataku, kemudian menatap pada Ricky. "Mana wajah pongahmu ketika percaya diri untuk menyentuh Lia?"


Mungkin karena faktor emosi yang aku provokasikan, dia mulai memasang tampang marah, seolah-olah akan mengamuk bak monyet rabies.


"Dasar, gara-gara ****** itu, aku menjadi seperti ini!" Dia pun menderap ke arahku untuk menyerang. Namun, sayangnya kakiku lebih panjang dan mampu menendangnya sampai terpelanting ke dinding.


Berkali-kali, kepalanya kubenturkan ke dinding. Tangannya aku injak dengan kasar agar dia merasakan bagaimana tersiksanya Lia akibat sentuhan najisnya.


"Si ... Sial! Aku ingat ... aku ingat jika kau adalah laki-laki yang pernah di sisi ****** tersebut!"


Kalimatnya tersebut membuatku bertambah emosi dan mulai memasukkan kedua jariku ke mulutnya. Setelah itu, aku menarik dua gigi bawahnya sampai darah mengotori tanganku. Menjijikkan sekali, seharusnya aku menonjoknya saja.


"Jangan menyebut gadis itu dengan panggilan hina sepertimu, brengsek," bisikku setelah mengibaskan tangan dari darahnya.


"Ak ... aku ... tahu mengapa kau ... melakukan ini deminya ...." Kalimatnya terbata-bata dalam keadaan tergeletak di lantai dan mulai tertawa kecil. "Kau ... pasti menyu ..nyukainya? Dasar, rupanya ... kau ... d-dan aku sama saja."


Kakiku menginjak wajahnya dengan keras seraya berkata, "Jangan samakan aku dengan dirimu, kisanak."


Lagi-lagi, dia tertawa. "Dia sudah ... bersuami ... bodoh. J-jangan ... berharap lebih!"


TRAK!


Aku menambahkan kekuatan kaki untuk semakin menginjak wajah yang tengah berlumuran darah ini, sampai-sampai terdengar suara retakan yang di mana mungkin adalah tulang hidungnya.


"Mungkin, hari ini aku akan mengeksekusimu," gumamku dengan menundukkan tubuh agar suara ini terdengar olehnya. "Bersiaplah dan jangan lupa untuk berteriak minta tolong pada ayahmu, sang penguasa sekolah miskin itu."


Matanya membelalak dalam melihat seringai lebarku, hingga akhirnya, itulah terakhir kali dia melihat dunia.

__ADS_1


- ♧ -


__ADS_2