
Seisi sekolah mulai fokus pada ponsel masing-masing. Aku yang tidak memiliki ponsel pribadi hanya bisa celingak-celinguk, bahkan Hana yang lupa membawa benda itu juga sama halnya sepertiku.
Teringat olehku hari menegangkan kemarin, yakni berkunjung ke rumah mertua atau kedua orang tua Sasha. Mereka menyambutku dengan hangat, tetapi perasaan bersalah tetap menghantui meskipun sudah meminta maaf sebelumnya. Rasanya sangat beruntung ketika diperlakukan sebagai anak sendiri oleh mertua baikku tersebut. Tubuhku yang tidak terlalu baik juga telah dibantu Sasha dengan melarang kedua orang tuanya memintaku untuk melakukan aktifitas kecil seperti mencuci atau mengelap piring layaknya menantu berbakti.
Tidak hanya itu, dia juga sedikit menawari bantuan untukku seperti menggantikan jadwal piketku hari ini atau membawakan tasku hanya sampai di depan gerbang sekolah. Dia pasti mengasihaniku, tapi aku tidak merasa itu adalah masalah.
Sebelum itu, aku sempat merasa panik saat Tristan yang mengantarkanku pulang mulai berusaha bertamu di apartemenku. Namun, aku berhasil melarangnya. Seandainya tidak, keberadaan Sasha akan dia temukan dan bisa jadi rahasia pernikahan kami akan terbongkar. Semua akan menjadi kacau balau.
Sebenarnya, aku terpaksa agar dia mengantarkanku ke depan apartemen. Rumah lamaku dalam keadaan tertutup dan kuncinya berada di unit apartemenku. Jika aku mencoba turun ketika kami sampai menggunakan mobilnya, Tristan pasti mengetahui kebohonganku mengenai aku yang sudah tidak tinggal di sana.
"Lia!!!"
Baru saja aku memikirkan Tristan, dan kini dia muncul dengan memelukku dari belakang. Ketika pipiku nyaris dikecup lagi, aku menutup mulutnya dengan sigap dan mendorongnya pelan agar melepaskanku. Sikapnya seperti ini sudah menjadi kebiasaan sejak kecil. Aku jadi prihatin karena tidak ada perubahan darinya mengenai tingkah laku kekanakan ini.
"Aku tidak suka kamu seperti ini, Tantan. Kita sudah besar," kataku dengan lirih.
"Kamu tidak suka aku seperti ini? Tenang saja, aku akan tetap suka Lia sampai kapan pun."
Ucapan Tristan terdengar aneh, tetapi tidak perlu kupikirkan berkepanjangan. Aku menganggap rasa sukanya sebagai rasa kasih sayang antar teman dengan ikatan persahabatan yang abadi.
Secara mendadak, muncul tiga orang gadis yang wajahnya sedikit familier tengah menghalangi jalanku di koridor menuju kelas.
"Maafkan kami, Lia!" ucap mereka dengan serentak, lalu melirik ke arah Tristan dengan bergidik, kemudian berlari pergi dariku.
Hana terperangah dan aku kebingungan hebat dalam merespons tingkah mereka tersebut.
"Itu ... bukankah anggota klub penggemar Sasha?" Hana bertanya seraya memegangi bahuku.
"Entahlah, mungkin saja. Tapi, baguslah jika mereka meminta maaf," kataku sembari melanjutkan jalan.
"Bagaimana kondisimu Lia? Sudah membaik?" Tristan bertanya ketika kami memasuki kelas. "Apa perlu kuberikan obat-obatan untuk berjaga-jaga?"
Kuletakkan tas ransel coklat ini di kursi, lalu menjawab, "Tidak perlu, Tantan." Pada saat aku duduk dan menoleh kembali ke arah Tristan, mataku menjadi salah fokus ke arah telinganya. "Aku baru sadar jika kamu menggunakan tindik hitam."
__ADS_1
Tangannya reflek memegangi daun telinga.
"Itu berkesan nakal, Tantan," timpalku lagi. "Awas, nanti guru BK akan menghukummu."
"Ah, pantas saja mereka peka jika aku yang menghukum mereka kemarin. Pasti gara-gara melihat tindik ini," gumamnya dengan tangan yang masih memegangi tindik tersebut.
Aku tidak paham apa yang dia gumamkan dan pikirkan sebenarnya. Siapa yang dia maksud dari kata 'mereka'?
"Ada apa, Tantan? Siapa yang kamu pikirkan?" tanyaku yang membuat pikirannya terbuyarkan.
"Tidak ada, kok!" Tristan tersenyum miring. "Kamu tidak suka jika aku memakai aksesoris seperti ini?"
Aku mengeluarkan buku-buku dan kotak pensil, lalu kembali menatapnya untuk membalas, "Semenjak itu yang kamu suka, gunakan saja."
"Salah," sergah Hana yang mendadak memutar tubuhnya ke arahku, lalu tampak salah tingkah saat memandangi Sasha dan berputar dengan arah sebaliknya. "Harusnya begini Lia, 'Semenjak itu yang kamu suka, lakukanlah'."
"Apa bedanya? Kami kan membahas anting," jawabku kebingungan.
"Aku setuju denganmu gadis berambut Dora!" Tristan menyetujui Hana dengan menjentikkan jari.
Dan akhirnya mereka berdebat satu sama lain. Kepalaku mencoba menoleh lurus ke depan, lalu sedikit melirik ke arah Sasha yang rupanya juga ikut melirikku sampai kami memunculkan rasa canggung. Sepertinya, dia memerhatikanku sejak tadi.
Jam pelajaran dimulai dan Pak Guru memasuki kelas tanpa memulai pengabsenan.
"Kita harus memanjatkan doa pada salah satu teman kalian di kelas lain, yang kini tengah menjalani rawat inap dalam rumah sakit akibat kecelakaan," ujar Pak Guru dengan wajah berduka cita. "Kalian jangan lupa membezuknya, ya."
Kepala kami semua mengangguk meskipun tidak ada niatan untuk menjenguk orang tersebut. Kira-kira, siapa yang tertimpa kecelakaan? Semoga saja dia cepat sembuh.
Selama tiga hari berturut-turut, wali kelas kami mengisi pembelajaran awal. Aku menjadi sedikit bosan dengan pembelajaran matematika yang beliau bawakan.
Sesuai pembelajaran, jam istirahat hadir yang sedari tadi kutunggu-tunggu. Seperti biasa, kami pergi ke kantin untuk mengisi perut. Bahkan, aku juga memaksa Tristan untuk memakan makanan lezat seperti pempek yang ditolaknya mentah-mentah.
"Lia, apa kamu mau berkunjung ke rumahku?" Tristan bertanya dalam keadaan masih beradaptasi dalam mengunyah kenyalnya pempek. "Ayolah."
__ADS_1
"Bisa ... mungkin," jawabku yang langsung memikirkan mengenain izin pada Sasha. "Nanti akan aku hubungi menggunakan telepon rumah."
Tristan memberiku acungan jempol dan mulai menikmati makanannya.
Di saat yang sama, aku tidak sengaja melihat Sasha yang berada pada bangku paling belakang dan terpojok di kantin. Dia memakan roti kecil sembari membaca buku pelajaran yang mungkin saja untuk mempersiapkan diri pada lomba akademik. Dia begitu rajin, bahkan semester pertama kemarin adalah masanya mengikuti olimpoade sains nasional. Saat itu, dikabarkan gedung olimpiade tersebut diledakkan oleh seseorang dan memakan banyak korban. Namun, syukurlah Sasha berhasil selamat dari sekian korban yang ada dan sebenarnya itulah sebabnya kami menikah dikarenakan maut bisa kapan saja menjemput hingga tidak ada kesempatan bagi kami memenuhi permintaan almarhumah nenekku.
Aku mencoba memberanikan diri untuk mendekatinya. Karena tadi aku sudah membeli kue coklat yang sama seperti Hana kemarin, serta merta kuberikan pada Sasha hingga dia menatapku dengan kebingungan.
"Makanlah, hanya sepotong roti mungkin kurang cukup untuk menemani belajarmu," kataku sembari meletakkan kue kecil tersebut di sebelah air mineral miliknya. "Ini bentuk terima kasihku karena kamu sudah membantuku kemarin saat di rumah orang tuamu."
Tanpa menunggu jawaban darinya, aku berbalik dan pergi ke bangkuku lagi yang di mana Hana bersama Tristan sedang menonton aksiku tadi.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Hana penasaran.
Gawat, aku melupakan bahwa dia menyukai Sasha. Bisa-bisa, rasa cemburu akan hadir jika aku mencoba memberitahunya.
"Buat apa mendekati cowok sombong itu, Lia? Nanti, sifatnya akan terkontaminasi kepadamu." Tristan menimpali dengan keadaan mulut penuh. Jika aku jahil sepertinya, mungkin akan kutepuk kedua pipinya sampai isi mulutnya menyembur ke luar.
"Emm ... tadi aku memberi kue coklat atas namamu, Hana," balasku buru-buru yang membuat Hana terharu. "Maaf jika aku tidak bilang."
"Kamu baik sekali, Lia!" puji Hana dengan wajah memelas.
Tristan pun berhasil menelan makanannya. "Lia terlalu baik dalam menolong kisah percintaan temannya sendiri. Akan tetapi, sahabat di sebelahnya tidak dibantu olehnya secuil pun."
"Memangnya kamu ingin dibantu apa oleh Lia? Kamu menyukai siapa?" Hana langsung bertanya pada Tristan.
"Tentu saja Lia sendiri yang kusuka, Dora."
Hana dan aku menjadi mengerutkan dahi.
"Dasar laki-laki yang suka membual," ejek Hana sembari meminum air mineral yang merknya mirip dimiliki oleh Sasha.
Kurasa, mereka adalah jodoh karena memiliki banyak kesamaan. Sementara aku adalah penghalang rahasia mereka.
__ADS_1
- ♧ -