
Otakku terasa melepuh dalam memikirkan kejadian hari itu. Mulai sekarang, aku belajar bahwa kepanikan, menuduh dan mengkonsumsi minuman sembarangan adalah hal yang wajib dihindari.
BRUK!
Akibat kurang fokus berjalan, aku tertabrak oleh seseorang yang hampir membuatku terjatuh. Kepalaku mencoba mendongak, dan terlihatlah wajah Tristan. Padahal, aku rindu berat padanya karena kami lama tidak berkomunikasi sejak festival sekolah.
Sebelum mulutku terbuka untuk meminta maaf, mendadak Tristan memelukku dengan kepala yang dibenamkan pada bahuku.
"Kau jahat sekali, tidak mempedulikanku sama sekali," gumamnya setelah aku membalas pelukannya. "Mengapa tidak membalas pesan-pesanku atau bahkan mengangkat teleponku?"
Untung saja keadaan sekolah masih sepi, dan aku tidak perlu takut dilihat orang-orang.
"Tapi, kamu tidak ada menghubungiku sama sekali di ponsel, Tantan," jawabku yang membuat Tristan menatapku dengan membulatkan mata.
"Bagaimana bisa, Lia?"
Kepalaku pun miring ke kiri. "Entahlah. Jika ada pesan, selalu ada notifikasi, 'kan?" Anggukan terberikan oleh Tristan. "Tapi, di ponselku hanya terdapat layar hitam saja. Tidak tertera apa pun."
Tristan pun ikut menelengkan kepalanya dengan keadaan tangan yang masih menyilang di bagian atas tubuhku. "Apakah ponselmu dalam keadaan mati?"
"Tidak, ponsel darimu tidak aku rusakkan sama sekali!" jawabku panik.
Aku selalu menjaga pemberian siapa pun dengan baik, terlebih lagi benda mahal yang diberikan Tristan.
"Bukan begitu, Lia." Tristan tertawa kecil dan menggeleng kepala. "Baterai ponselmu pasti habis hingga tidak bisa menerima notifikasi."
Meski dalam keadaan bingung, aku menjadab, "Begitu, ya?"
Dia semakin tertawa dan kembali memelukku dengan perubahan suasana hati yang drastis. Syukurlah, Tristan kembali ceria dan membuatku lega sekali.
Perlahan, pelukan yang Tristan berikan semakin erat. Satu tangannya mulai mengelus rambutku dengan perlahan. "Lia, kamu lucu sekali."
Bisa kutebak dari ucapan itu, sebuah senyuman telah terlukiskan lebar di wajahnya.
Pada koridor sepi ini, terdapat sebuah lemari tidak terpakai dengan pintu kaca hitam yang berada sedikit jauh dari belakang Tristan. Terdapat pantulan bayangan Sasha yang sedang terdiam dan berada jauh dariku, seperti sedang menontonku bersama Tristan.
Tristan semakin tertawa di dekat telingaku, dan aku membayangkan apakah dia sedang menertawakan Sasha?
"Jangan lupa untuk mengisi daya ponselmu," ucapnya sebelum aku merasa cukup untuk dipeluk begitu lama dan mencoba melepaskannya.
"Caranya, Tantan?"
Tangannya merangkulku dengan gembira dan membalas, "Nanti aku ajari ketika di kelas."
Tubuhku berbalik, tetapi tidak melihat keberadaan Sasha. Mungkin, aku terlalu banyak pikiran mengenainya sampai-sampai melihat bayangannya di kaca.
"Sudah lihat kelasmu di mana pada mading?" tanyaku sembari berjalan bersama Tristan.
"Tanpa melihat data kelas, aku akan memsuki kelas yang kamu masuki."
__ADS_1
Berakhirlah kami memasuki kelas yang sama, tetapi Sasha pun tidak ada. Tristan mengambil bangku di sebelahku. Posisinya mirip sekali dengan Hana yang berada di kelas XI dahulu. Kapan aku bisa bertemu dengannya? Bukankah kami seharusnya sekelas lagi?
Kami berdua menghabiskan waktu dengan mengobrol berbagai topik sembari menunggu anak-anak berangsur-angsur memasuki kelas. Membicarakan bagaimana liburannya, kebosanan dan hal lainnya yang begitu menarik diceritakan. Sedangkan aku hanya bisa mengatakan mendekam di apartemen karena tidak ingin dicurigai jika berwisata bersama kelurga Sasha.
Bel masuk berbunyi dan rata-rata mantan anak kelas XI A IPA yang menjadi pengguni ruangan ini. Aku mengenal mereka semua, tetapi tidak terlalu akrab.
Di saat yang sama, Tristan memberikan lirikan tajam ketika Sasha masuk ke kelas dan menduduki bangku belakangku.
Seperti dugaanku, belum ada masa pembelajaran lebih dahulu, karena guru-guru pasti masih rapat mebgenai program ajaran baru. Sebagai gantinya, seluruh murid justru diminta untuk pergi ke lapangan melalui pengumuman sound speaker.
Pada depan pembawa pengumuman, terdapat ketua OSIS baru yang menjabat tanpa pemilihan umum. Tidak perlu heran, karena dia adalah putra dari kepala sekolah yang bebas meminta apa saja di sekolah ini. Terlebih lagi, anggota-angotanya pun atas pilihannya sendiri. Sangat tidak adil, tapi semua anak-anak lebih memilih tidak ikut campur karena menolak terseret masalah.
Membahas ketua OSIS, aku jadi teringat akan Kak Kaivan yang sampai sekarang tidak memberi nomor telepon yang dijanjikannya padaku.
"Lia, Lia! Kira-kira, bagaimana jika aku menjabat sebagai ketua OSIS?" bisik Tristan yang berbaris tepat di sebelahku.
"Kamu ingin tebar pesona?" Aku mengangkat kedua alis dengan jahil hingga dia menahan tawa. "Mustahil. Ketua OSIS itu anak kepala sekolah, tidak bisa kamu singkirkan, Tantan."
"Astaga, Lia. Uang bisa mengatur segalanya." Sebalah matanya berkedip yang berkesan menggelikan, tetapi justru lucu jika Tristan yang melakukannya.
Pengumuman dari para OSIS telah berkumandang. Tata tertib, keamanan, pidato panjang lebar, misi dan visi sekaligus perkataan mutiara lainnya yang tidak membuat siapa pun terkesiap. Inti yang kudengar, hanya pembacaan daftar piket penjaga perpustakaan, UKS dan lab. Padahal, periode kemarin adalah tugas mereka sebagai OSIS, tetapi sekarang melemparkan pada anak-anak lain. Sedikit terkejut saat namaku disebut dengan lantang sebagai petugas piket esok hari.
"Besok, aku akan membolos dengan tidur di UKS dan menemanimu, Lia," bisik Tristan dengan mendekatkan diri ke telingaku.
Tanganku langsung menarik daun telinganya. "Jangan macam-macam."
Ketika melangkah di tengah pembubaran, mendadak tanganku ditarik super keras oleh seseorang dengan melewati keramaian secara paksa. Terdengar teriakan Tristan yang kehilanganku, tetapi aku terlalu sibuk melihat siapa yang menarikku. Kemudian, berakhirlah pelarian kami pada dinding pinggiran toilet perempuan di dekat kantin.
Dalam seperkian detik, aku sadar jika orang yang tadi tidak kukenali adalah Hana. Penampilannya berubah hanya karena rambut terpangkas pendek dengan gaya pixie dan siapa pun bisa mengira jika dia adalah laki-laki.
Suara isakan hadir di antara kami, air mata mengalir di pipi Hana sampai disekanya dengan punggung tangan. "Ma-maafkan aku, Lia."
Selama beberapa detik, aku hanya bisa mematung.
"Seharusnya ... a-aku tidak mengatakan hal kejam itu ... padamu," lanjutnya dengan intonasi rendah dan bersuara sedikit serak. "Aku salah, aku salah."
Serta merta aku memeluknya, mendekam wajahnya pada dadaku seraya mengelus rambut yang kini tersisa sedikit. Bukan sedih ataupun marah, melainkan senang bahwa pertemanan kami tidak usai hanya karena masalah percintaan. Hatiku sangat bersyukur dan mulai tenang apabila sudah seperti ini.
"Tidak, Hana," bisikku untuk menghibur. "Aku seharusnya berterima kasih, karena kamu masih menganggapku teman setelah kejadian kemarin."
Mendengar kalimatku, justru Hana semakin tersedu-sedu akibat terharu. Terasa seragamku mulai basah, tetapi tidak kupermasalahkan.
"Lantas, kenapa kamu memotong rambut?"
Tangannya pun sontak memegangi belakang kepalanya untuk meraba rambut tipis tersebut. "Setiap orang memiliki pelampiasan tersendiri dalam menghadapi stres, dan inilah hasil dari seminggu penuh menangis."
Rasanya, benar-benar kurang sanggup melihat kelarutannya yang tidak kuketahui sama sekali. Aku mengira, Hana akan marah, tetapi justru bersedih.
"Aku tahu ka-kamu kecewa ..."
__ADS_1
"Tidak, kamu memang pantas kecewa padaku, Hana," selaku. "Anggap saja, kejadian kemarin tidak pernah ada. Maka karena itu, hapuslah air matamu dan kembali tersenyum seperti biasa kita tertawa bersama."
Dengan paksa, dia membuat senyuman di sela-sela isakan. Pipinya yang merona, kini bertambah merah. Matanya yang sipit, menjadi sedikit lebam akibat mengeluarkan air mara berlebihan. Kuhapus sisa air matanya dengan kedua tangan, lalu menariknya pergi dengan memasang tampang seceria mungkin.
Secara mengejutkan, kami memasuki kelas dan langsung menjadi bahan sorotan. Hana yang malu akan wajah sembabnya mulai bersembunyi di belakangku. Di sela-sela kecanggungan, aku justru salah fokus pada bangku Tristan yang masih kosong. Dia pasti masih mencari-cariku di lapangan.
"Hei, itu Hana?" tanya salah satu gadis yang duduk di tengah-tengah. "Lihat model rambutnya."
Rupanya, mereka memerhatikan rambut Hana, bukan wajahnya.
"Dimana bangkumu? Beritahu cepat, sebelum anak-anak ini membicarakanmu lebih parah," bisikku dengan geram.
"Di belakang Tristan," jawab Hana lirih. "Sebenarnya, aku ingin di dekatmu. Tapi, dua bangku di susumu sudah terisi. Jadi, aku meminta Ashley untuk menaruhkan tasku karena aku takut bertemu denganmu."
Secepatnya aku menariknya untuk duduk di bangku agar pembicaraan pada kelas berkurang. Harapanku begitu, tapi sayangnya berbeda.
"Hei, Hana. Salon mana yang kamu datangi?" tanya gadis lainnya, tapi Hana enggan menjawab. "Pelit banget sih kalau ditanyain!"
Belum saja aku angkat bicara untuk membela, mendadak gadis lain menyahuti, "Iya tuh. Itu kan model rambut trend. Masa nggak mau bagi-bagi info salon?"
Hana mulai tertarik dengan pembicaraan mereka.
"Model rambutnya adalah pixie, bukan?" Gadis yang berada di pojokan ikut berbicara. "Kalau nggak salah, tahun kemarin sedikit populer mengenai gaya rambut ini karena salah satu selebgram yang memotong rambut seperti itu."
Terdengar suara jentikkan jari. "Aku tahu! Itu selebgram dari sekolah International tetangga kita, tau? Namanya kalau nggak salah ... Baverly. Dia tukang review kosmetik dan booming sementara di media sosial."
Apakah aku tertinggal berita sampai hal populer tidak kuketahui?
"Saat dia hiatus, dia memosting video dengan gaya rambut pixie. Alhasil, banyak penggemarnya ikut memotong seperti itu," sahut yang lainnya yang menambah kehebohan.
"Katanya sih, dia depresi. Makanya potong rambut."
Ucapan terakhir membuat suasana hati Hana yang gembira karena pujian, mendadak menjadi murung lagi. Seolah-olah, dia disamakan seperti masalah stressnya yang lalu.
"Tapi, setidaknya keren-keren aja kok model rambut itu. Coba lihat ke Hana, dia cakep banget!" puji gadis yang duduk di paling depan dekat pintu. "Aku juga pengen. Tapi, kayaknya bulan depan aja deh."
Hana pun menyahuti, "Aku memotong rambut ini sendiri kok."
Seisi kelas para kaum hawa menjadi terkesiap.
"Keren! Itu adalah bakat."
"Lihat, bahkan potongannya rapi! Aku sampai bertanya di salon mana dia memotong."
"Potongkan rambutku juga dong, Hana."
Baguslah, setidaknya Hana menjadi ceria walau hanya sekadar terbanjiri pujian-pujian. Aku turut bahagia, tapi belum bisa bernapas lega karena Tristan masih di luar kelas yang pastinya sedang mencariku.
- ♧ -
__ADS_1