Oh My Love

Oh My Love
Sweet Day


__ADS_3

Tibanya masa keluarku dari rumah sakit dan surat diagnosa dibawa oleh Sasha. Namun, sepanjang perjalanan pulang, wajahnya terlihat muram. Setiap kali aku ingin berbicara, dia seperti kebingungan dan menolak menjawab.


Ada apa dengannya? Apakah aku melakukan kesalahan?


Pada apartemen, aku memasuki kamar dan membersihkan diri sepenuhnya. Setelah itu, aku melihat Sasha yang tengah bersih-bersih semua bagian ruangan utama. Padahal tidak kotor dan aku yakin jika dia sudah membereskan semuanya. Saat aku mencoba menonton televisi, dia memasuki kamar seperti terburu-buru.


Terlihat sebuah paper bag kecil yang di mana isinya beberapa obat-obatan herbal pemberian mertuaku untukku. Aku lupa untuk memasukkannya ke dalam kamar, oleh karena itu aku mengeluarkan isinya dan mencoba membaca ketentuan konsumsinya terlebih dahulu. Ketika mengeluarkan botol obat kecil, sebuah kertas terjatuh dan aku memungutnya, lalu membaca apa yang telah tertulis.


Embusan napas ringan terkeluarkan dan aku hampir tertawa. Aku ingat jika tas ini dibawa Sasha dan dia pasti membaca hasil diagnosa dokter yang kurang memahami laki-laki. Secepatnya aku bangkit dan pergi ke kamarnya, lalu mengetuk pintu yang tertutup rapat tersebut.


"Ada apa, Lia?" tanya Sasha tanpa membuka pintu. "Aku tengah membersihkan diri. Jika butuh bantuan, nanti kulakukan. Katakan saja."


"Keluarlah dulu."


"Aku sudah katakan tadi."


Menyebalkan juga sifatnya. Rasanya aku akan menendang pintu penghalang kami dan menyeretnya untuk mendengarkan penjelasanku.


"Kamu terkejut dengan hasil laporan dokter bahwa aku tengah hamil tiga bulan?"


Seketika pintu terbuka dan menghadirkan Sasha yang terkejut hebat. Dia menatapku lekat-lekat, sedangkan aku menjadi canggung karena sudah percaya jika dia sedang membersihkan dirinya atau mungkin baru usai mandi. Tubuhnya masih basah dan pinggangnya ditutupi handuk, membuatku sontak memalingkan pandangan akibat malu melihatnya.


"Lanjutkan saja jika sedang mandi," kataku dengan keki dan mulai melangkah mundur.


Tangannya menahanku pergi dan berkata, "Jelaskan dulu hal tadi."


Rupanya benar, dia bersikap aneh karena hal itu. Dia pasti terkejut karena aku bertanya sesuatu yang seharusnya membuatku takut jika ketahuan.


"Bagaimana menjelaskannya, ya ..." Mataku melirik ke kiri.


"Bukan selingkuh?"


Aku memberinya pelototan super tajam akibat terkejut dengan perkataan kotor tersebut. Dia kira, aku adalah gadis bodoh yang bermain dengan banyak pria? Ada-ada saja!


"Jangan asal bicara begitu." Aku memejamkan mata dan berusaha sabar dengan ketidaktenangan Sasha. "Aku tahu jika hubungan baru kita telah dijalani sebulan dan kamu terkejut jika masa kehamilanku tiga bulan."


Terdengar tidak masuk akal, itulah di pikirannya.


"Apa laporan dokter itu salah?" Sasha menatapku dengan muram. "Salah, bukan?"

__ADS_1


"Tidak salah," balasku dengan menggedik bahu sejenak. "Tapi, masa kehamilan terhitung dari awal periode datang bulan wanita."


Dahinya mengerut tanda kurang memahami.


"Jadi aku datang bulanku telat, dan begitu ... entahlah, aku sulit menjelaskannya padamu. Bukankah kamu suka membaca buku? Cobalah baca mengenai sains kehamilan wanita," ujarku malu-malu, lalu tertawa kecil di bagian akhir kata. "Jadi, jangan berpikir negatif mengenaiku lagi."


"Maaf." Sasha menunduk dan memegangi belakang lehernya. "Aku sudah salah sangka dan terbawa suasana duluan."


"Baiklah. Maka karena itu, lanjutkan mandimu," balasku yang membuatnya baru menyadari dalam keadaan membasahi lantai.


Setelah itu, aku pergi ke dapur dan membuka kulkas, mengambil bungkusan bola-bola coklat. Akan tetapi, justru aku melepehnya karena terasa begitu pahit. Tanpa pikir panjang, aku membuangnya ke tong sampah dan mengambil coklat batang yang rasanya manis seperti biasa.


Kini, aku merasa bosan dan tidak melakukan aktifitas apa pun. Menonton televisi dan memegangi ponsel. Aku belum berani membalas pesan atau telepon dari Hana dan Tristan, karena mereka pasti melemparkan pertanyaan yang menyudutkan Sasha. Sejujurnya, aku malu berat pada mereka berdua yang mengetahui hal tersebut.


Selama beberapa, Sasha ke luar dari kamarnya dan pergi ke dapur. "Lia, ingin menu apa untuk makan malam?"


"Apa saja," kataku sembari menarik ulur beranda media sosial yang tidak menarik sama sekali.


"Bagaimana dengan tumis sayur-sayuran dan sosis?" Sasha memberikan usulan.


Aku yang menjadikan alas tangan sofa sebagai bantal, mulai mendongak ke arahnya. "Bosan."


"Nasi goreng?"


Sasha menimpal-nimpal jawabannya. "Sup ..."


"Aku sudah makan bermangkok-mangkok sup di rumah sakit. Jangan membuatku mabuk sup, Sasha," selaku dengan memandangnya begitu malas.


"Jadi, kamu mau apa, Lia?" Sasha menjadi pasrah.


"Apa saja," jawabku seraya menyeringai lebar. "Aku juga bingung. Biarkan aku saja yang memasak."


Sasha memberi isyarat dengan kedua tangannya agar aku jangan bergerak. "Jangan, kamu tidak diperbolehkan kelelahan."


"Aku akan lebih kelelahan jika tidak makan sesuai selera," balasku dan berjalan ke dapur, lalu mendorong Sasha pelan agar menyingkir dari dekat kompor.


Kuambil beberapa bahan dari kulkas, seperti daun bawang dan telur. Kemudian aku menyiapkan panci dan memasak air di atas kompor. Setelah itu, mengeluarkan paket kecil dari kemasan dan memasukkannya ke dalam didihan air. Setelah beberapa menit, tersajilah hidangan menggiurkan dengan mangkuk kecil.


Mendadak, Sasha merampas masakanku dan aku tercengang karenanya.

__ADS_1


"Sasha, apa-apaan ini?" Entah kenapa, emosiku menjadi naik dan turun hanya karena masalah sepele. Mungkin faktor kehamilan. "Balikan!"


"Balikan katamu? Kamu memasak mi instan dan mau memakannya di saat hamil? Itu tidak baik, Lia." Dia memulai aksi ala penasehat ulung kepadaku. "Biar kubuatkan tumis sayur dengan ayam saja."


"Kembalikan mi penuh micin itu!" sergahku dan mendekati Sasha dengan wajah berkerut-kerut. "Cepatlah."


Matanya memicing dalam memegangi mangkok mi wangi itu. Kemudian, tanpa izin menyeruput mi kuah tersebut dengan wajah masam.


Melihatnya, membuat pelupuk mata ini basah dan mengalirkan air di pipi begitu deras. Spontan, aku berjongkok dan membenamkan wajah pada tangan. Menangis dengan isakan kecil hingga Sasha menjadi panik dan membantuku bangkit.


"Hei, kenapa menangis?" tanyanya khawatir. "Baiklah-baiklah, aku akan kembalikan mi milikmu."


Makanan yang sudah tinggal setengah tersebut disodorkan ke arahku dan aku hanya termenung menatapnya.


"Tidak mau, aku mau nasi goreng saja," kataku dengan kembali ceria dalam memesankan menu yang sudah ditolak.


Emosiku benar-benar acak-acakan.


Sasha menghela napas. "Baiklah." Lalu, dia membuka kulkas di sampingku, lalu mencari-cari sesuatu dengan serius, dan berkata, "Lia, apa kamu lihat hopjes-ku?"


"Apa itu?" Aku ikut memandangi isi kulkas yang dihalangi kepala Sasha.


"Yang aku bilang seperti permen mint."


"Oh, sudah kubuang," jawabku ringan dan seketika wajah Sasha menjadi tambah masam. "Maaf."


"Tidak apa," dustanya seraya ke tong sampah dan memungut permen pahitnya yang sudah berkurang banyak karena terjatuh ke dasar sampah. "Kamu benar-benar seperti bayi, Lia."


Apakah karena wajahku terlihat begitu muda? Atau terlalu imut dan menggemaskan? Bisa jadi pipiku bertambah tembam sampai mirip anak yang imut.


"Setelah aku mengurus bayi besar, nantinya akan mengurus bayi kecil dari si bayi besar," lanjutnya yang membuat suasana hatiku rusak.


"Aku bukan bayi!" cercaku dengan nada tinggi.


Sasha yang tengah memblender bawang merah dan bawang putih, menjadi tertawa. "Kamu adalah bayi, Lia."


"Kenapa kamu menyebutku bayi?"


"Because you are my baby."

__ADS_1


Terasa luar biasa aneh bila Sasha, si manusia berwajah jutek mendadak mengucapkan kata-kata seperti itu. Pada akhirnya, aku tidak bisa menahan tawa dan menepuk-nepuk punggungnya akibat terlalu lucu.


- ♧ -


__ADS_2