
Mall Plaga dekat Central Park. Tempat yang lumayan ramai dan membuatku lumayan bosan memperhatikan lautan manusia di dalamnya. Segala kebutuhan fashion tersedia, tidak ada bedanya dengan ruangan khusus pakaian di rumahku.
Karena aku hendak menjalani aksi, tetapi masih memakai seragam, kuputuskan untuk membeli pakaian. Kemeja putih, blazer, celana panjang, topi dan masker dengan semua warna serba hitam. Jika bertanya mengapa aku membeli serba hitam, jawabannya adalah karena aku menyukai warna netral. Tidak juga, membeli pakaian ini hanya sekadar untuk menutupi identitasku dengan serapat mungkin.
"Saya seperti pernah melihat anda. Apakah anda idol?"
"Hei, gunakan bahasa inggris! Kayaknya dia orang luar negri."
Seusai memakai pakaian yang kubeli, mendadak banyak staf wanita membicarakanku. Bahkan, berani menyapa dan bertanya apakah aku idol atau bukan. Menjengkelkan, apakah wajah gahar yang aku pasangkan ini tidak mencerminkan bahwa aku adalah seorang atlet beladiri?
Di sisi lain, mataku langsung menatap suatu gerombolan gadis-gadis yang sedang berbelanja di stan khusus wanita. Serta merta aku memasang mata bak elang untuk memperhatikan gerak-gerik mereka. Mulai dari mencoba-coba minyak wangi secara berlebihan tanpa meminta izin staf, menggunakan sample make up melebihi kadarnya, memegang-megang atau menggunakan barang dan pakaian tanpa membelinya.
"Kalian merasa nggak sih, kalau kita diikuti?"
"Enggak juga. Memangnya mana?"
"Itu yang pakaiannya mirip style korean."
Aku sedang duduk di kursi panjang sembari menutupi wajah yang bermasker ini menggunakan majalah anak. Rupanya mereka menyadari keberadaanku. Tidak masalah dan aku tak ada rasa khawatir. Seandainya mereka melapor ke penjaga atau satpam, aku bisa berkelit dengan berbagai alasan.
Bersandar di ceruk dinding, duduk di kursi-kursi yang ada, kamuflase di setiap tempat yang ada. Aksiku sudah diketahui, tapi itulah tujuanku sebenarnya. Di saat gadis-gadis itu diperkirakan akan menyelesaikan kegiatan berbelanja karena merasa tidak nyaman, aku langsung menelepon sopir pribadiku dan mengatakan untuk memakirkan mobil di pinggir jalan tanpa menggunakan rem tangan.
Sesuai perkiraanku. Mereka yang kukuntit akan menuju restoran di seberang Mall Plaga ini dengan menyeberangi zebra cross. Oleh karena itu, aku berjalan ke luar dari sini dengan santai dan meminta sopirku untuk menjalani tugas yang kuperintahkan tadi.
Mobil sudah terparkirkan dengan batu bata yang menghalangi satu roda sebagai rem manual. Aku yang berdiri sembari menyandar di mobil ini mulai menghubungi sopir pribadiku yang lainnya untuk menjemputku mulai sekarang.
Di waktu yang tepat, gadis-gadis tersebut keluar dari gedung perbelanjaan dengan celingak-celinguk mencari keberadaanku yang sebenarnya lumayan jauh dari mereka. Seketika kakiku menendang batu bata yang menghalangi mobil untuk terjun ke turunan.
__ADS_1
Dengan sigap, sopirku memanggil-manggil para gadis itu hingga pandangan mereka teralihkan sejenak dan memberhentikan langkah di zebra cros yang lumayan sepi. Akhirnya sesuai harapanku, teriakan-teriakan panik menjalar ke sepanjang jalan. Tidak akan ada masa menyempatkan diri untuk berdiri dikarenakan semuanya menggunakan heels yang sama sekali tidak cocok di kaki mereka.
Tertabrak, ya itulah yang kumau.
Kericuhan mulai tiba, pemanggilan ambulans pada ponsel mana pun. Tangisan akan keterlejutan terdengar histeris. Bahkan dari kejauhan, aku bisa melihat bagaimana oeang-orang sekitar menjadi panik dan mulai mencari-cari pemilik mobil yang sudah dikosongkan.
Aku berjalan mendekat dan melirik sopir yang kuberi perintah tengah berada jauh dari jalanan. Pak tua itu sudah kuberi komando untuk menghindari kecelakaan yang bukan menargetkannya. Jika mobil yang dikendarainya akan dilakukan investigasi, maka aku tidak segan-segan menyewa pengacara meskipun yang akan tertunjuk sebagai terdakwa adalah sopir tersebut. Licik, tetapi tidak mengapa.
Terdapati hanya dua gadis yang menjadi terluka parah akibat benar-benar tertabrak oleh mobil yang telah berakhir menabrak dinding gedung lain. Satu gadis mengalami luka goresan besar dikarenakan berhasil berkelit dari tabrakan, tetapi harus terjatuh di bagian pinggiran trotar. Beberapa yang sehat jasmani mulai merasakan takut dan napas terengah-engah. Salah satu di antara mereka ada yang menatapku dengan nyalang dan hendak menunjuk-nunjuk ke arahku. Sebelum itu terjadi, aku menderap di antara kerumunan dan menariknya pergi menuju gang kecil di antara bangunan-bangunan besar.
"Sakit, jangan menggenggam tanganku keras-keras!" rintih gadis sialan ini.
Rasanya tanganku akan disirami disinfectan karena begitu berkuman dalam memegangi manusia najis ini. Secepat mungkin, aku melemparnya saat sudah mencapai pangkal gang hingga dia tersungkur.
"Siapa kau ini? Akan kulaporkan ke polisi!" bentaknya murka.
"Hei ...." Aku langsung berjongkok dan tanganku reflek menjambak rambut panjang kotor tersebut. Lalu, langsung kuberikan desisan tanda diam saat mulutnya nyaris berteriak. "Kau tidak mau rambut jelek ini hilang, bukan?"
Kepalanya menggeleng.
"Apa yang kau katakan tadi. Melaporkan pada polisi? Aku bahkan bisa menyewa lima pengacara hebat hanya untuk menuntutmu karena merundung Lia," bisikku dengan ketus. "Lapas anak lebih menunggumu daripada diriku."
Bibirnya bergetar dan napasnya mulai terdengar di telingaku. Bisa kupastikan bahwa detak jantungnya berdegup dua kali lipat akibat obrolan saling ancam-mengancam seperti ini.
"Lepaskan teman kami!"
Seketika muncul suara langkah kaki dan keributan yang mungkin berjumlah tiga atau empat orang lebih di ujung gang. Bagus, sisa-sisa dari ****** ini ikut terpancing tanpa harus kuberikan umpan lebih banyak.
__ADS_1
Kakiku langsung berdiri dengan diikuti gadis yang kujambak. Aku memandangi mereka dengan tatapan permusuhan. Di waktu sifat pengecut menghampiri dan mereka akan pergi meninggalkan sejolinya ini, sopirku langsung menghalangi jalan keluar dan memerintahkan untuk menghadapiku dahulu.
"Wah-wah, mana wajah pemberani kalian ketika di sekolah?" tanyaku dengan tawa berat. "Bukankah kalian ****** yang pemberani?"
Aku sentakkan gadis di tanganku ini sehingga dia terjatuh. Ketika hendak menyeret diri untuk kabur, mataku melihat adanya seember air yang kemungkinan tampungan hujan atau bocoran AC. Tanpa banyak tingkah, langsung kusiramkan air tersebut pada gadis ini sehingga terdengar suara terkesiap dari teman-temannya.
"Begini kan cara kalian menyiram Lia?" kataku sembari mendekat pada gerombolan yang masih terlihat baik-baik saja. "Jadi, coba katakan siapa yang melemparkan penghapus papan ke belakang leher Lia?"
"Apa-apaan kamu ini dan siapa ka ..."
Ucapannya terhenti saat aku menarik tangannya sekuat mungkin. "Ah, kau ya yang pelaku utamanya?" tanyaku lirih.
Mulutnya terperangah hebat. Aku hadiahkan padanya sebuah pukulan tanpa mengepalkan tangan ke tengkuknya hingga terpental dan menempel dinding. Teman-temannya terkejut, namun tidak bisa memenuhi niatnya untuk kabur.
"Kurang, kau tidak pingsan seperti Lia," ucapku seraya menggertakkan gigi.
"Maaf! Maaf! Aku tidak bermaksud untuk melakukan hal itu! Aku hanya diperintahkan!" ujar gadis yang tadinya kusiram dengan air dan kini sedang memegangi kakiku untuk mencegah kelanjutan aksi ini.
Ponselku berdering dan aku memeriksanya bahwa ibuku sedang menelepon. Ah, beliau pasti khawatir karena aku pulang begitu telat dan memanggil sopir kedua.
"Baiklah-baiklah," ucapku seraya mengibaskan tangan. Kemudian, aku menatap sisa gadis yang lain dengan sinis seraya berkata, "Ini sekadar peringatan. Kalian beruntung karena tidak terjadi apa-apa. Maka karena itu, ingatkan anggora fans club tolol kalian yang lainnya untuk tidak melakukan hal yang sama seperti di sekolah tadi."
Aku berjalan menyeruak sampai mereka terjatuh, lalu pergi ke sebuah mobil yang dimana sudah kuhubungi sang sopir untuk menjemputku.
Rasanya kurang puas dalam memberi pelajaran ke mereka. Tapi, ya sudahlah.
- ♧ -
__ADS_1