Oh My Love

Oh My Love
Novel


__ADS_3

Rasanya seperti menjadi selebritis dalam sekejap mata. Namun, perasaan ini tidak ada kebanggan sama sekali. Justru aku begitu malu, dikarenakan sedang berjalan untuk pulang sekolah bersama dua laki-laki terpopuler di sekolah! Benar-benar membuatku ingin sekali menghilang dari dunia.


Semua orang memandangi kami, aku bersama Tristan dan Sasha di sebelah Hana. Ingin sekali aku berjalan mundur untuk menghindari mereka agar tidak ikut menjadi pusat perhatian. Akan tetapi, Tristan merangkulku dengan akrab dan aku merasa tidak enak hati untuk melepaskannya di depan umum sekaligus tentunya ramai.


Aku tahu bahwa Hana tampil percaya diri bersama Sasha, karena dia sedang menunjukkan sungguh telah mampu mendapatkan pujaan hatinya walau sudah dirundung sekali pun.


"Aku tidak tahu di mana tempat tinggal barumu berada, Sasha. Oleh karena itu, ayo kita pulang bersama, siapa tahu jalur perjalanan pulang kita sama," ajak Hana dengan riang dalam menggenggam tangan Sasha.


Laki-laki jutek itu melirikku sekilas, lalu menjawab, "Sepertinya tidak bisa. Lain kali saja."


Tampang kecewa terlukiskan pada Hana. Sudah pasti, penyebab Sasha menolaknya adalah aku. Kami seapartemen, dan otomatis jalan pulangku bersamanya tentu sama.


"Lia, kamu mau pulang bersamaku, 'kan?" Tristan menyunggingkan senyum lebar, berharap permintaannya akan dikabulkan.


Mataku melirik ke kiri dan membalas, "Maaf, Tantan. Lain kali saja, ya?"


Kini bergantianlah Tristan yang berwajah cemberut. Di saat seperti ini, aku justru memutar otak agar tidak berjalan dalam satu arah bersama Sasha pada waktu bersamaan. Seharusnya aku tidak menolak permintaan Tristan dan memintanya untuk pergi membawaku jalan-jalan lebih dahulu sebelum pulang.


"Kenapa lain kali jika bisa sekarang?" Tristan memajukan bibirnya seperti anak bayi yang kehilangan permen. "Ayolah, Lia. Tadi pagi, aku melihatmu berjalan bersama si muka datar ini sebelum memasuki sekolah. Aku yakin kalian memiliki jalur pulang yang sama. Dan aku tidak akan membiarkan kalian bersama."


Gawat sekali. Aku kira hanya Hana yang akan mengikis kebenaran kami sedikit-sedikit seperti tadi. Rupanya, Tristan tidak kalah mengetahui. Hanya secuil hal kecerobohanku bersama Sasha, sudah membuat kami keder akan terbongkarnya rahasia yang sedang ditutup rapat-rapat.


"Dasar anak kecil," sindir Sasha sembari pergi lebih dulu dengan kedua tangan dimasukkan ke saku celananya.


Hana ditinggalkan begitu saja olehnya. Tapi, Sasha harus lebih dulu pulang agar tidak bersandingan denganku lagi seperti tadi pagi.


"Bagaimana sebelum pulang, kita membeli es krim dahulu?" ucapku dengan mengganti topik pembicaraan dan berhasil membuat reaksi kedua orang ini berubah total.


"Aku pulang saja. Terima kasih ajakanmu, Lia," pamit Hana seraya melangkah pergi dengan memaksakan senyum.


Malang baginya. Semoga saja hubungan mereka berdua baik-baik saja sampai aku dan Sasha terpisah.


"Baiklah, Lia. Biar aku yang traktir," kata Tristan dengan bersemangat kembali.


"Uangmu masih padaku. Lihat ini." Dari saku baju, aku mengeluarkan gulungan uang kembalian miliknya.


Tiba-tiba, Tristan merampas uangnya dari tanganku. Kemudian, memberikannya pada orang yang lewat begitu saja dengan sedikit kesal.

__ADS_1


"Nah, sekarang aku bisa menraktir."


Sikap laki-laki super periang ini sulit ditebak olehku. Di sela-sela sifat humorisnya, ada kalanya tampang jutek atau marah yang secara dadakan muncul tanpa ditunjukkan kepadaku. Contohnya, seperti tadi ketika memberikan uang pada sembarang anak.


Singkatnya, aku bersama Tristan pergi ke toko kelontong terdekat yang menjual es krim buatan pabrik umumnya. Dengan begini, aku bisa mengulur waktu untuk menunggu Sasha sampai pulang.


"Tantan, apa kamu ingat bahwa semasa kecil dahulu, kamu selalu mengikutiku seperti anak ayam pada induknya?" tanyaku dengan menahan tawa agar suasana di antara kami tidak terasa garing.


Tristan pun mencubit-cubit janggut tidak kasat matanya. "Itu kan semasa kita kecil. Bahkan, sampai sekarang pun aku masih mengekor padamu."


Seketika es krim coklat yang kubawa sedikit menetes di tanganku sebelum mengatakan, "Sepertinya, sekarang kamu lebih cocok disebut partner yang selalu menempel padaku."


Mataku melotot akibat terkejut ketika Tristan menjilat tetesan es krim di pergelanganku dengan ujung lidahnya.


"Dasar anak kecil!" cemoohku seraya mencubit pipinya lagi dan lagi, sedangkan laki-laki ini hanya tertawa dalam menanggapi amukanku.


Waktu yang panjang telah terlewati. Aku merasa sudah cukup untuk menghabiskan masa dengan Tristan dan memutuskan untuk pulang meski ujung-ujungnya harus dipaksa agar pulang bersamanya. Pada saat sampai ke apartemen, buru-buru aku mengeluarkan isi tas di dalam kamar pribadiku dan membuka sebuah novel dari perpustakaan.


Judulnya adalah Deja Vu: Lilian Ashley. Berkesan klise, tetapi sepertinya menarik. Baru saja aku hendak membaca prolog, pintu kamarku terketuk beberapa kali.


"Makan siang, aku sudah memasaknya," ucap Sasha setelah aku membukakan pintu hasil ketukannya.


Tanpa berpikir negatif lagi, aku langsung keluar dari kamar dan duduk pada kursi meja makan di dapur sembari membawa novel. Terdapat ayam asam pedas dan acar. Sasha begitu pintar dalam menentukan menu makanan. Tidak sepertiku ketika jadwal piket kemarin lusa telah memasak sup tahu dengan rumput laut.


Sembari memakan dengan lahap, aku terus membaca novel yang di mana pertama kalinya bagiku. Begitu antusias dan terasa menegangkan di kala karakter utama telah diceritakan mati berkali-kali, tapi terus berhasil bangkit.


"Fokuslah untuk makan. Letakkan buku itu."


Fokusku mulai pecah ketika Sasha memberi perintah yang membuat suasana hatiku rusak. Aku pun menurutinya dan makan dalam suasana hening yang membosankan.


"Aku tidak berpacaran dengan Hana," ucapnya sebelum menyuap sesendok nasi.


Rupanya, dia memintaku meletakkan novel ini agar kami bisa berbicara dengan serius. Tidak heran perilakunya terhadap Hana terasa sama saja dengan biasanya dan tentunya tidak pantas disebut sebagai kekasih.


"Lantas, apa yang kamu katakan padanya sehingga dia menempel padamu seperti itu?" tanyaku dalam keadaan mengunyah.


Kepalanya menggeleng. "Hanya berterima kasih."

__ADS_1


Konyol. Dia begitu pintar dalam bidang akademik, tetapi tidak pandai dalam memilih kata-kata untuk menolak seorang gadis yang memujanya. Dengan begini, Hana merasa seperti memiliki secercah harapan dalam meraih hati Sasha. Lihat saja wajah laki-laki di hadapanku ini, tergambarkan bahwa dia tidak menyukai hal tersebut sampai memberi info itu padaku.


"Yah ... intinya, kamu jangan mematahkan hatinya dengan penolakan halusmu itu," jawabku dengan prihatin. "Jangan pikirkan aku. Jika kamu mau berpacaran, laksanakanlah."


"Lalu, kamu berpikir bahwa aku akan mengizinkan hal yang sama sepertimu?" balasnya dengan memicingkan mata.


"Apa maksudmu?" Aku tidak kalah menatapnya begitu tajam. "Aku tidak sedang berharap untuk berpacaran. Jangan menebak-nebak hal negatif tentangku!"


TING!


Mendadak bel berbunyi yang menandakan seorang tamu tengah hadir. Spontan, aku pergi ke pintu dan membukakannya sampai terlihat salah satu staf lobi membawakan tas.


"Untuk Nona Lia dari Tuan Tristan," ucap pria paruh baya tersebut dan aku langsung menerima bawaannya setelah mengucapkan terima kasih.


Aku kembali ke meja dapur dan langsung mengeluarkan isi tas kecil yang berisikan tiga tumpuk novel berwana magenta. Masing-masing memiliki judul, The Cate, My Cate dan terakhir Your Cate. Dari tampilan sampulnya saja menarik dan pasti Tristan memilihkan novel terbaik untukku. Dengan perasaan senang, aku memasuki semuanya kembali dan berniat untuk berterima kasih melalui pesan teks untuk pengirim ini.


Sasha mulai bangkit setelah menghabiskan makanannya dengan cepat dan kembali memasuki kamarnya. Tidak kugubris sikapnya tersebut dan lanjut makan dengan perasaan tidak sabar untuk membaca semua novel-novel ini. Kapan lagi belajar dengan cara menghibur, bukan?


BRUK!


Tiba-tiba, sebuah novel tebal terbanting tidak terlalu keras tepat di sebelahku.


Sasha berdiri di sebelahku dan mengatakan, "Itu semua adalah novel remaja yang tidak cocok untuk kamu jadikan praktik pembelajaran. Gaya diksinya adalah bahasa informal. Bacalah novel pemberianku ini yang cocok sebagai kegiatan belajarmu."


Mataku melirik novel pemberiannya yang berjudulkan, "Lily of the Valley."


Baiklah. Sepertinya aku harus mengikuti saran Sasha.


"Kamu mengatakan bahwa tidak berharap untuk berpacaran. Tapi, lihatlah laki-laki di sekelilingmu. Mereka memperlakukanmu layaknya kekasih dan memberi harapan penuh," ucap Sasha sebelum aku membuka mulut untuk berterima kasih atas pemberian novelnya. "Jika kamu sungguh tidak ingin menjalin hubungan lebih pada mereka, jangan bersikap memberi harapan."


Aku berdecak kecil. "Siapa yang kamu maksud 'mereka'?"


"Pura-pura tidak tahu." Dia melangkah pergi dan melanjutkan, "Siapa lagi jika bukan Kaivan dan Tristan."


Badanku berputar untuk melihatnya yang tengah hendak kembali ke kamar. Rasanya aku ingin sekali memberinya cakaran atas peringatan yang begitu aneh. Mustahil bagiku untuk berpacaran dengan sahabat lamaku atau bahkan bersama laki-laki yang sudah memiliki kekasih dan kuanggap sebagai kakak sendiri.


"Hei, kamu sedang cemburu sampai melarangku seperti itu?" godaku dengan tersenyum miring dan berhasil membuatnya mematung di depan pintu kamar.

__ADS_1


Akhirnya, kami saling memandang satu sama lain dengan reaksi berbeda. Puas bagiku untuk mengerjainya dengan pertanyaan tadi. Semoga saja dia sadar bahwa peringatannya tersebut begitu menganggu benakku.


- ♧ -


__ADS_2