Oh My Love

Oh My Love
Kesialan Datang Kembali


__ADS_3

Rupanya, selama ketidakhadiranku di sekolah, para murid mulai mengencam kepala sekolah untuk menurunkan jabatan ketua OSIS. Semuanya meminta untuk diadakan pemilihan umum layaknya program tahun lalu diadakan. Aku bisa membayangkan bagaimana kekecewaan Kak Kaivan saat melihat keadaan sekolah tanpa pegangannya.


Seisi sekolah sudah melakukan pemungutan suara dan anggota OSIS yang baru telah tersusun. Aku tidak tahu secara detailnya, dan bagiku sudah cukup jika Ricky dan kawan-kawannya tidak menjabat.


Masa-masa ketenanganku tidaklah permanen. Pada akhirnya, Ricky pun kembali setelah waktu diskorsnya usai dan membuat ketidaktenanganku menyelimuti. Berkali-kali aku harus mengepalkan tangan untuk menahan diri dari kecemasan. Terkadang, Sasha pun memberiku ketenangan dengan menghibur berbagai cara, begitu pun Hana dan teman-teman yang lainnya.


Sewaktu-waktu, kami pernah saling melirik satu sama lain dengan tatapan tajam. Namun, aku tidak bisa terus menampilkan dendamku dan berakhir merasa diteror.


Sebisa mungkin, aku tidak berjalan sendirian ke mana pun di sekolah. Pulang ataupun berangkat, Sasha menemaniku. Ke kantin ataupun di koridor, Hana selalu di sisiku dan terkadang anak-anak dari kelas lain pun merasa iba hingga ingin berteman padaku.


Sekarang adalah waktunya ulangan harian untuk bab pertama pembelajaran kewarganegaraan yang lumayan harus menghafal beberapa subjek tertentu. Hana dan aku memutuskan untuk pergi ke perpustakaan, meminjam buku paket super lengkap untuk belajar ekstra.


"Aku ada buku khusus tanya jawab yang bagus, tapi tertinggal di kelas," ucap Hana dengan risau. "Tunggu di sini ya, Lia. Hanya dua menit, aku akan kembai."


Dengan cepat, Hana berlari ke luar perpustakaan. Sedangkan aku hanya menggeleng kepala akibat keseringannya dalam kelupaan dan langsung mencari buku paket kewarganegaraan di rak-rak besar.


"Sedang mencari buku apa?" tanya seseorang di belakangku.


"Aku sedang mencari ..." Kepalaku menoleh dan ucapanku terhenti ketika melihat sebuah wajah menyunggingkan senyum licik padaku.


Ricky, lagi-lagi dia mendekatiku.


Sontak, aku berbalik badan dan berjalan mundur untuk menjauh darinya. Ketegangan menghampiri dan rasa cemas membuatku ingin berteriak. Namun, dia lebih dulu menderap dan langsung membungkam mulutku dengan satu tangan. Dia mendorongku sampai punggungku bersandar, satu tangannya lagi mengunciku dengan menempelkan di rak buku.


"Hai, sudah lama kita tidak bertemu," sapanya sembari mencengkram kuat pipiku. "Jangan cuek begitu. Kau tahu? Aku selalu merindukanmu, tapi kita justru menjaga jarak terus menerus."


"Le ...lepaskan aku," pekikku dengan berusaha berbicara sebisa mungkin.


Bibirnya berdesis kecil. "Jangan terlalu keras, nanti didengar oleh anak yang lain." Tangannya berganti menjadi membelai pipiku. "Seandainya kita tidak diganggu saat itu, pasti kau akan menjadi milikku seutuhnya, Lia."

__ADS_1


Spontan, aku menepis tangannya dan mencerca, "Menjijikkan, menjauhlah dariku!"


Saat mencoba melangkahkan kaki, Ricky lebih cepat menahan dengan memegangi kedua bahuku. Jantungku berdegup kencang dan ketika hendak berteriak, dia selalu membungkam mulutku sekeras mungkin.


Dia tertawa dalam mengatup mulut dan menyibak rambutku perlahan. "Jangan memberontak. Kau tidak mau jika rahasia terbesarmu terbocorkan, buka?"


Dahiku mengerut karena tidak paham akan maksudnya.


"Pada pengadilan, alih-alih keluargamu, justru orang tua lain yang menuntut atas pembelaanmu. Anehnya, mereka ada hak akan hal itu. Bukankah begitu mencurigakan? Jawab aku, Lia ...." dalih Ricky yang bisa kurasakan jika keringat dunginku sedang bercucuran setelah mendengarkannya. "Mereka adalah orang tua Sasha, bukankah begitu? Jadi ... ada hubungan apa di antara kalian tanpa tali persaudaraan?"


Rasa tenang pada diriku sudah usai dan aku mulai memberontak hebat untuk terlepas. Sayangnya, Ricky langsung menamparku keras sampai aku terjatuh dan membentur rak bagian bawah.


Dia menarikku untuk bangkit dan berbisik, "Aku tahu jika kalian diam-diam sudah menikah! Karena urusan hukum akan diperpanjang jika kami membocorkan hal ini, maka ibuku memilih untuk diam demi menjaga nama baik sekolah."


Mataku membelalak kaget dengan fakta yang diungkapkannya.


"Dasar ****** murahan. Kau menikah hanya karena dia tampan dan beruang, bukan? Aku juga tidak kalah bisa memberikan hal itu padamu!" cemoohnya yang membuatku gemetar. "Maka karena itu, diam dan menurutlah. Kau tidak mau rahasia ini terbongkar, bukan? Ayilah, kita selesaikan urusan sebelum ini ..."


"Berani-beraninya kau!"


BUG!


Sebuah kamus tebal menjadi alat pemukul dengan target tengkuk Ricky. Titik vital tersebut membuatnya sontak mengerang hebat dan menjadi hilang keseimbangan. Dalam beberapa saat, aku menyadari bahwa Sasha datang menyelamatkanku.


"Bajingan! Tiada henti-hentinya mendekatinya!" hardik Sasha sembari memukul pelipis Ricky dengan ujung kamus bahasa inggris bersampul karton tebal di tangannya.


Ricky membentur rak dan aku berlari mundur saat dia roboh begitu saja. Begitu cepat, Sasha menaiki tubuh Ricky dan langsung menurunkan hujan tinju yang brutal ke wajahnya sampai terdengar suara retakan. Mungkin, tulang hidung Ricky patah karenanya.


Aku hanya bisa membeku dalam menatap mereka berdua, hingga akhirnya keributan ini memancing penjaga perpustakaan hadir untuk melerai dan anak-anak lainnya mulai mengerumuni tempat sempit ini. Begitu sulit mencegah Sasha dalam melayangkan pukulannya pada Ricky yang sudah babak belur.

__ADS_1


Semuanya berakhir dan mereka berdua berhasil dilerai. Sasha langsung membawaku pergi dari perpustakaan, lalu kami pergi ke kelas dengan menyempatkan meminta beberapa anak membawa kotak P3K sekaligus teh hangat dari kantin.


Karena takut kepanikan dan kecemasanku kembali, Sasha mengeluarkan setengah pil obat penenang untukku. Namun, aku menolak karena merasa yakin jika mestabilkan diri sendiri. Selang beberapa detik, Hana muncul dengan tergesa-gesa dalam membawakan kotak P3K dalam keadaan khawatir dan menangis.


"Ini salahku lagi," racau Hana yang memelukku dengan napas lega karena aku tidak kenapa-napa. "Seharusnya ... aku tidak meninggalkanmu ...."


"Tidak apa-apa," balasku seraya melepaskan pelukannya.


Seorang gadis, membawakan teh hangat untuk Sasha yang sudah kuketahui fungsinya adalah sebagai sarana penelan obatku. Alih-alih kuminum, justru kuminta Sasha untuk memimumnya.


Aku menyentuh kotak P3K. "Syukurlah, kamu tidak terluka."


"Seharusnya, aku yang bicara seperti itu," balas Sasha dengan air muka kelegaan. "Ricky benar-benae harus ditindaklanjuti. Dia terus menerormu."


Hana pun menjadi murung. "Sulit ... pasti sulit."


Benar, hal ini tentu tidak mudah seperti menyingkirkan benalu dari pohon. Selain memiliki pelindung kekuasaan, Ricky juga mustahil untuk berhenti begitu saja karena dendam akan Sasha. Bisa jadi, bukan hanya aku saja yang diterornya, Sasha pun juga.


Bahkan, rahasia kami sudah diketahui olehnya.


"HEI, HEI, HEI! KENAPA PADA HEBOH? MINGGIR DULU, BIARKAN AKU LEWAT!"


Kami bertiga sontak menoleh ke arah pintu dan melihat kejutan untukku. Tristan kembali! Aku ingin sekali menggambarkan reaksi senang, tetapi kecemasanku masih melanda.


Herannya, Tristan mewarnai rambutnya menjadi hitam dengan high-light abu-abu yang menambah pesonannya pada para gadis-gadis. Lihatlah, begitu banyak yang mengerumuninya. Bahkan laki-laki pun tidak kalah ingin berbicara padanya yang mungkin ingin bertanya tutor untuk mewarnai rambut keren itu.


"Lia!" seru Tristan yang tidak bisa ke luar dari gerombolannya.


Aku melambaikan tangan tanda menyapa dan kurasa dia menyadari wajah muramku sampai mengerutkan dahi tanda kebingungan.

__ADS_1


- ♧ -


__ADS_2