Oh My Love

Oh My Love
Membuat Rencana


__ADS_3

Mulai dari sekarang, akan aku persiapkan segala pembalasan yang menimpa kehancuran hidup Lia. Meski berawal dari salah paham, tetapi setidaknya aku belum terlambat untuk memahami situasi dan tahu harus melakukan apa.


Berani-beraninya ada bajingan yang menyentuh Lia milikku sampai psikisnya hancur berantakan. Tentu saja aku mustahil membiarkannya hidup tenang walau sedetik saja. Akan kusajikan padanya sebuah simulasi neraka pada dunianya nanti, karena sudah berurusan pada orang yang salah. Rasanya, aku ingin melontarkan perkataan kasar bertubi-tubi hanya karena mendapatkan informasi mengejutkan ini.


Demikian juga dengan Sasha, alias si sialan yang beruntung ditunjuk oleh seorang nenek-nenek untuk menikahi cucunya, yakni Lia milikku. Sial, mengapa tidak aku saja yang terpilih sebagai sandingan gadis itu? Jelas-jelas, dari segala hal sebuah kesempurnaan menyertaiku. Ada-ada saja wasiat orang-orang yang hidup di zaman kuno, meminta cucu mereka untuk menikah di usia dini.


Akan tetapi, syukurlah jika Lia menikah bukan berlandaskan paksaan atau bahkan lebih parahnya adalah cinta. Aku menjadi yakin dengan berjalannya waktu, dia akan sadar pada masalah-masalah kehidupan rumah tangganya yang harusnya memiliki pasangan tepat. Lia pasti berpikir bahwa menikah hanya karena wasiat orang meninggal adalah hal kekanakan yang pernah dilakukannya. Memikirkan ini, aku menjadi percaya diri bahwasannya di masa depan kami berdua akan menjadi pasangan serasi dan menampilkan kesempurnaan pada dunia.


Intinya, mau siapa pun yang akan menjadi pasangan hidupnya. Pada akhirnya, akulah yang menjadi jodohnya.


Dari apa yang kubahas, sudah pasti Lia adalah segala-galanya untukku.


Pada saat ini, aku mengantarkannya pulang ke apartemen yang di mana sudah disambut dengan gahar oleh pasangan trialnya, alias Sasha. Cih, menyebut namanya yang jelek tersebut telah membuatku kesal sekali.


"Lia, kamu dibawa ke mana sedari tadi?" tanyanya dengan wajah sok khawatir yang membuatku ingin kembali menonjoknya, mungkin sekali atau dua kali.


"Jangan khawatirkan aku," balas Lia dengan suara imutnya. "Wajahmu ada bekas lebam. Hidungmu masih ada bekas sekaan darah. Aku akan obati."


Tanpa berpamitan dan justru memberikan lirikan tajam, mereka berdua memasuki lobi apartemen dengan topik pembicaraan yang begitu mengkhawatirkan. Aku hanya bisa menahan diri untuk sementara waktu akan rasa dengki ini atas perhatian Lia terhadap laki-laki itu.


"Setelah ini, apakah kita akan pulang, Tuan Alexander?" tanya sopir mobil dengan membungkuk ke arahku.


"Ya."


Kami langsung melesat pergi dan singkatnya, tibalah aku di rumah yang sudah disambut oleh beberapa pelayan.


"Tolong panggilkan pengacara ayahku ke sini," perintahku pada pelayan pribadiku yang tengah berdiri di depan pintu dengan gaya ala robot.

__ADS_1


Terkadang, aku curiga jika dia robot sungguhan. Otakku terus menerus memikirkan peyiksaan apa yang harus kuberikan pada si bajingan bernama Ricky tersebut.


Karena aku terlalu banyak berpikir, kuputuskan untuk mengalihkan pikiran dengan latihan pukulan dengan sandsack di ruangan khusus latihan.


BUG!


Parah, hanya dengan beberapa pukulan, sandsack ini langsung bocor dan mengalirkan pasir putih yang mengotori karpet. Kini, aku harus membeli lagi untuk ke sekian kalinya.


"Tuan Alexander, pengacara anda sudah datang," ucap pelayan pribadiku yang berdiri di ambang pintu dan mendapatkan respons lambaian kecil dariku.


Ketika aku pergi ke ruang tamu utama, telah kudapati pengacara pribadiku, bukan milik ayahku. Ya sudahlah, lagi pula kemampuan orang ini mungkin bisa kuandalkan.


"Sudah lama kita tidak bertemu, Tuan muda Alexander," sambut pengacara tersebut dengan tawa kecil. "Bagaimana kabar anda?"


Aku menghembuskan napas berat tanda tidak tertarik dengan percakapan.


"Dengar-dengar dari tuan besar, anda menerima rekrutan dari peruhaan Near crew, apakah benar?"


Aku benci sekali dengan basa-basi.


"Baiklah-baiklah, maafkan saya. Hanya saja, mengejutkan jika perusahaan gelap tersebut meminta anda bekerja. Harapan saja, semoga anda diletakkan pada divisi yang berkelas."


Pria tua bangka ini terlalu banyak bicara. Aku menjadi heran, mengapa ayahku memberikannya sebagai pendamping setiaku.


"Mari bahas ke inti percakapan," ucapku seraya menyandarkan diri di punggung sofa. "Tolong jebloskan anak dari kepala sekolah SMAN 26 ke lapas anak. Terserah dengan kasus yang akan kalian tentukan untuknya. Aku hanya ingin dia memasuki jeruji besi, dan tidak akan melihat dunia lagi setelah itu."


Pengacara tersebut mengangguk pelan. "Mudah. Saya bisa mengurus kasus tipuan ini dengan menggunakan jasa Near Crew saja."

__ADS_1


Near crew adalah perusahaan gelap yang menjadi koneksi yayasan pekerja orang tuaku. Mereka melakukan bisnis penyewa jasa gelap dan distributor. Terdengar biasa saja, tetapi pekerjaan mereka terkategorikan dalam dunia gelap. Tempat melaksanakan transaksi saja pada situs web terdalam agar jejak mereka tidak diendus oleh keamanan negara. Karena aku tertarik dengan cara kerja mereka, kuputuskan untuk ikut bekerja sama agar ayahku menganggap aku berguna di negara ini.


"Dasar gila, gunakan saja para bawahan ayahku. Mereka cukup bagus dalam bekerja hal seperti ini," sanggahku tak senang.


"Anda tidak mau kenakalan ini diketahui oleh orang tua anda 'kan, wahai Tuan muda?" balasnya dengan menyatukan tangan di atas tumpuan kedua lutut. "Lagi pula, yayasan pekerja orang tua anda adalah penggelapan dunia intertainment. Jadi, kurang cocok untuk menjalani tugas ini."


Seperti yang dikatakannya, itu memang benar. Jadi, skandal dunia maya yang begitu menghasilkan uang pada sebuah agency atau suatu keuntungan rival si target, tentunya adalah ulah pekerja ayahku yang disewa dengan harga tinggi. Beginilah sisi buruk dunia, tidak akan ada yang mengira hal ini sungguh nyata.


Akan tetapi aku tidak terlalu peduli. Selagi tidak merugikanku, aku tetap bersantai dan ongkang-ongkang kaki dalam menonton hal tersebut.


Ah ya, ada benarnya juga perkataan pengacara tadi. Jika begini, aku harus mengeluarkan uang dengan jumlah besar untuk menyewa jasa perusahaan gelap tersebut. Tidak apa, jika jumlah debit uangku berkurang drastis dan disadari oleh ayahku, aku bisa beralasan bahwa telah membeli ducati atau lamborgini lagi.


"Terserah, aku hanya ingin hasil beres. Beri tahu setiap perkembangan pekerjaan ini tanpa perlu mengotori tanganku. Masalah uang, minta saja pada pelayan ini." Jariku menunjuk pada pelayan pribadiku yang tengah menunduk tanda penghormatan. "Pergilah sekarang."


"Astaga, Tuan muda. Kita baru saja berbincang beberapa menit. Jangan buru-buru begitu."


Menggelikan, dia kira aku adalah LC yang harus menemaninya?


"Berhubung kita sudah saling bertemu, mari bicarakan tentang pekerjaan ini," ujarnya disertai senyuman licik. "Apakah target yang anda minta telah melakukan kesalahan pada anda? Cobalah ceritakan pada saya."


Mataku menatap malas dan tahu bahwa pengacara aneh ini tidak akan pergi sebelum aku menjawab pertanyaannya. "Dia menganggu gadisku. Puas?"


Sudah kuduga, dia akan menahan tawa dengan alasan yang kuberikan.


"Siapa gadis itu, Tuan Muda?"


"Pergilah, kau terlalu banyak bicara," sergahku dan langsung beranjak pergi dari hadapan pria gila tersebut.

__ADS_1


Tunggu saja, Lia. Hidupmu akan tenang sebentar lagi karena ada aku melindungimu. Andai saja dia tahu usahaku demi membahagiakannya, tapi sudahlah. Aku hanya ingin kebahagiaannya tertampilkan di depan mataku.


- ♧ -


__ADS_2