Oh My Love

Oh My Love
Kefrustrasian Lia


__ADS_3

Berjalan dengan cepat dan berusaha menahan emosi karena tidak ada yang bisa menjadi target pelampiasan. Aku tahu ini bukanlah waktu usainya belajar, tetapi aku tidak peduli.


Untuk saat ini, aku tidak bisa meminta maaf karena mencengkram tangan Lia begitu kuat dan menyeretnya ke luar sekolah. Jika tidak, dia bisa kabur dan pergi ke si sialan yang sudah kubuat pingsan.


"Tantan, kumohon! Lepaskan!" rintih Lia seraya memegangi tanganku menggunakan tangan satunya. "Apa-apaan kamu ini?"


Karena dia terus menerus mengomel, serta merta kutarik tangannya sampai kami berhadapan dengan jarak antar wajah yang begitu dekat. Napasnya terengah-engah akibat ketakutan, sedangkan aku disebabkan amarah bergejolak.


"Kenapa, Lia? Kamu takut diancam jika tidak menolongnya?" bentakku murka. "Ada aku di sisimu! Aku bisa menolongmu dan jangan anggap aku tidak berguna!"


"Apa yang kamu bicarakan ini?" Kepalanya menggeleng dengan cemas.


Kedua tanganku memegangi bahu Lia dan membalas, "Katakan saja. Kamu dipaksa menikah dengan si brengsek itu, 'kan? Karena apa? Apakah hutang? Atau pemaksaan dengan alasan tertentu? Jujurlah, Lia!"


"Tidak ada yang dipaksa di sini!" Dia menyentakkan tubuh untuk berusaha melepaskan diri, tapi sia-sia. "Ini masalahku, jangan ikut campur!"


"Jangan ikut campur katamu?!"


Aku kembali menyeret tangannya dengan kuat sampai kami pergi dari sekolah berproperti minimalis. Begitu sampai pada mobil yang sudah menunggu di depan gerbang terbuka, aku langsung memasukkan Lia secara paksa tanpa kendala satpam yang sudah dijaga oleh sopirku.


"Apa-apaan ini, Tantan?!" Lia kebingungan dan hendak melepaskan diri dariku.


Sebelum pintu kututup, terlihat Sasha yang sempoyongan mengejar kami di halaman sekolah. Kuberikan senyuman miring tanda kemenangan padanya dan langsung menutup pintu dengan keras.


"Pak, cepat jalankan mobilnya!" perintahku dan sang sopir pun langsung tancap gas.


Tombol untuk memunculkan penghalang antar sopir dan bagian penumpang belakang telah kutekan agar privasi antar aku bersama Lia tetap terjaga. Dengan demikian, aku langsung memegangi kedua bahu Lia dan mendorongnya sampai kami tumpang tindih.


"Apa yang kamu lakukan, Tantan? Menyingkirlah, kita seharusnya tidak seperti ini." Kedua tangannya mencoba mendorongku dengan sia-sia. "Tantan, lepaskan aku!"


"Katakan padaku sejujurnya, Lia! Kamu pasti dipaksa oleh si sialan itu, 'kan? Aku bisa melepaskan jeratannya darimu. Maka karena itu, jujurlah padaku!"


Lia menggeleng yang membuatku makin terasa panas.


"Katakan saja, Lia. Katakanlah! Jangan memaksakan diri seperti itu."


Lagi-lagi kepalanya menggeleng dengan air muka pasi. Sial, mantra sihir apa yang digunakan si brengsek itu pada Lia sampai seperti ini padaku?


"Dengarkan, kau hanya milikku, Lia. Hanya milikku. Sudah berapa kali aku mengatakan bahwa aku selalu mencintaimu! Apa pun yang kau mau, akan kuberikan! Harta, kasih sayang, kepedulian, apa pun itu!" ujarku mengebu-gebu. "Apa yang kurang dariku sampai memilih si brengsek itu? Katakan Lia! Katakan!"


Lagi-lagi mulutnya terbungkam, tetapi tangannya tetap berusaha ingin aku melepaskannya.


"Ini tidak bisa dibiarkan! Kau hanya milikku, Lia!"

__ADS_1


Dengan geram, aku mencium bibirnya sedikit kasar. Namun, Lia mulai mendorong dan memalingkan wajahnya dengan pelupuk yang berlinang air mata. Seketika kesadaranku menjadi sepenuhnya utuh dan membuatku membelalak hebat dalam menonton tangisan Lia yang tersedu-sedu.


"Aku ... aku tidak mau dilakukan seperti ini lagi," rengeknya sembari menutup wajah dengan kedua tangan. "Aku ... aku lelah ... aku lelah meminum obat penenang. Aku lelah menyakiti diri sendiri, diobati, lalu menyakiti lagi dan terus seperti itu ..."


Sial, aku tidak kuat melihat gadis yang selalu menampilkan keceriaan ini mulai menangis meraung-maraung. Apa yang sedang dia bicarakan? Apakah Lia memiliki emosi tidak stabil sehingga butuh obat penenang?


"Cukup, Tantan ...." Tangisannya semakin pecah yang membuatku bangkit dan dia pun terduduk dengan membenamkan wajah pada satu lengannya. "Jangan buat aku harus melewati masa-masa traumatis untuk kedua kalinya."


Dahiku mengerut. "Lia, apa maksudmu untuk kedua kalinya? Si brengsek itu pernah melecehkanmu?"


Bagus, rupanya tindakanku memancing Lia berkata jujur!


"Menjauhlah! Menjauhlah!" hardiknya yang membuatku ragu untuk menyentuhnya. Isakkannya semakin keras dan mulai terduduk dengan menatapku tajam. "Kurang ajar! Apakah semua laki-laki sama saja? Sama-sama memuaskan nafsunya pada target yang salah? Aku juga mau hidup tenang! Aku tidak mau menggila seperti ini terus!"


Untuk pertama kalinya, aku melihat amarah yang sesungguhnya dari Lia. Bukan seperti kemarahan biasa, tetapi ini adalah kehancuran mental yang tergambarkan dari wajahnya yang frustrasi.


Kedua tangannya menggedor-gedor kaca jendela pintu dengan keras. "Lepaskan aku! Aku mau pergi dari penjahat kedua ini! Sasha, tolong aku, cepat bawa aku pulang! Biarkan aku pergi, buka pintunya, buka, buka! Cepat buka!"


Penjahat kedua? Lantas, siapa yang pernah melakukan hal sepertiku jika bukan Sasha si sialan itu?


"Sasha! Kumohon, tolong aku kali ini juga!"


Kali ini juga? Apakah sebelumnya laki-laki itu pernah menolong Lia dari hal seperti ini?


Brengsek! Aku menjadi bertanya-tanya, seperti orang dungu yang tidak mengetahui apa pun tentang gadis yang kusukai sendiri!


Dia terus menerus memberontak begitu lama, sampai akhirnya menyerah dengan menatap dengan pasi.


"Aku menikah di umur muda hanya karena wasiat almarhumah nenekku," ucap Lia yang membuatku terkejut dan sontak melepaskannya dari tanganku. "Aku juga tidak mau hidup seperti ini. Aku tidak mau, siapa juga yang mau menghancurkan hidup pendidikan penting hanya untuk menikah secara sembarangan?"


Rasanya, semakin tidak bisa berkata-kata saat baru mengetahui bahwa nenek yang selalu merawatnya sejak kecil sudah tiada. Tapi, kapan dan bagaimana bisa? Kenapa aku selalu tertinggal informasi?


Tangannya menjambak rambut dan aku langsung mencegahnya.


"Sasha menghargai ketidaknyamananku dengan bersikap cuek. Kami begitu menjaga jarak meski dalam satu atap," lanjutnya dengan tangisan keras. "Tapi, dia mulai bersikap peduli karena tempramentalku yang nyaris hancur permanen."


Lia menyentakkan tanganku dan menatapku penuh amarah. Tidak, tidak! Aku tidak mau ditatap seperti itu, jangan sampai dia membenciku!


"Kamu justru membangkitkan traumaku yang sudah kucoba untuk menguburnya dengan berbagai cara!" bentaknya seraya memundurkan diri sampai bersandar di pintu. "Jijik, aku jijik dengan diri sendiri."


Pipi bagian bawahnya tercakar sampai berdarah dan aku langsung menahan tangannya yang terlihat kuku-kukunya masih dalam keadaan pendek, tapi mampu mencakar.


"Pertama Ricky, melakukan tindakan pelecehan terhadapku. Lalu, kamu, Tantan! Kamu ingin melakukan hal itu padaku, lagi?!" Lia semakin memberontak dan menjerit untuk terlepas dariku. "Biarkan aku pergi! Aku ingin hidup tenang! Siapa pun tolong aku! Hana, tolong aku lagi, kumohon! Sasha, tolong aku!"

__ADS_1


Siapa Ricky? Bukankah laki-laki itu yang telah mereka bicarakan saat di ruang kepala sekolah tadi dengan membahas topik tuntutan? Baiklah, aku mulai paham dengan susunan-susunan puzzle ini.


Pertama, pernikahan antara Lia dan Sasha hanyalah sebatas wasiat serta tidak dilandasi paksaan, cinta atau hal lain yang membuatku harus bertindak. Sewaktu-waktu, mereka pasti berpisah dengan sikap kekanakan dan Lia pasti sadar jika pernikahannya harus dilandasi hal-hal penting, bukan sekadar wasiat. Kedua. Lia terlecehkan oleh anak kepala sekolah bernama Ricky dan dia sulit untuk dijerat hukuman karena kekuasaan orang tuanya. Ketiga, aku sudah salah paham akan semuanya.


"Tidak adil," rintih Lia yang mulai menenangkan diri. "Kenapa harus aku yang tersiksa dan terbebani hal-hal seperti ini? Apakah aku ditakdirkan untuk menerima secuil kebahagiaan dan terus diberatkan dengan masalah besar?"


"Lia ... maafkan aku ...."


"Aku hanya mau hidup tenang. Namun, hidupku selalu diberikan berbagai kesedihan yang tidak bisa kutanggung ...." Lia menunduk dan melanjutkan, "Kukira kamu teman terbaik yang kumiliki."


"Lia ...."


"Kukira ... dengan tidak membuatmu khawatir akan masalah-masalah hidupku, akan menjadikanmu lebih tenang dalam berteman bersamaku."


"Lia ..."


"Apakah aku harus dirusak, baik fisik maupun mental?"


"Lia!" Tanpa bisa kukontrol, aku meneteskan air mata dalam meneriaki namanya. "Aku salah, Lia! Aku salah! Maafkan aku, aku bodoh karena sudah memperlakukanmu seperti ini!"


Aku meletakkan kepalaku pada bahunya dan menahan tangisan yang sulit ini. "Seandainya kamu mau terbuka denganku, kejadian ini tidak akan alami terjadi."


Hening sesaat. Isakkan Lia usai dan terisa dengan kacaunya pikiranku.


"Aku merasa inferior dengan si sialan itu karena pasti sudah memiliki hidupmu sepenuhnya."


"Jangan panggil Sasha seperti itu." Lia menegurku dan membuatku tertawa kecil.


"Lihatlah. Bahkan hanya karena ini, aku cemburu berat. Tidakkah kamu mengerti perasaanku, Lia?"


"Dan tidakkah kamu mengerti akan perasaanku padamu, Tantan?" balasnya dengan lirih. "Mau sampa kapan pun, kita adalah teman. Tetap teman."


Kepalaku terangkat dan kami saling menatap dengan sendu. "Meskipun aku berusaha membuktikan dengan segala cara? Apakah kamu tetap berkata seperti itu, Lia?"


"Ya," jawabnya dengan singkat, padat dan jelas.


Aku memalingkan pandangan dan berkata, "Maaf kalau begitu. Selama ini, aku terlalu memaksakan perasaanku padamu, Lia." Selama beberapa saat, aku kembali menatap Lia. "Tapi, aku tetap tidak mau menyerah demi kamu menerima perasaanku."


Lia terdiam dengan wajah sembab dan aku tidak tahan dalam perasaan bersalah ini.


"Maaf jika aku membuatmu seperti ini, Lia. Maka karena itu, aku akan membantu menyelesaikan masalahmu nanti."


"Maksudmu?"

__ADS_1


Aku tersenyum pahit. "Lihatlah nanti."


- ♧ -


__ADS_2