Oh My Love

Oh My Love
Tristan Alexander's POV


__ADS_3

Hari yang terasa gelap, meskipun matahari bersinar terang di langit. Suasana hati begitu jenuh, namun wajah tetap saja berusaha memasang keceriaan demi menyenangkan gadis di hadapanku ini.


Riliana Celeste, gadis yang mengalahkan kecantikan siapa pun dan membuat mataku selalu berbinar setiap kali melihatnya. Rambut panjang bergelombang, senyuman super manis dan bulu mata lentik yang bisa membuat hati memanas ketika terkedip ke arahku. Orang aneh mana yang tergila-gila terhadapnya? Ya, tentu saja aku, Tristan Alexander.


"Lia! Aku akan mengantarmu pulang!" seruku sembari memeluknya dari belakang ketika kami berada di gerbang sekolah. "Ayo ke rumah Lia, ayo ke rumah Lia, ayo ke rumah Lia."


"Tantan, jangan bersikap seperti ini." Wajahnya berubah menjadi masam dalam menghadapi sikapku. "Aku bisa sendiri dengan menaiki bus, kok."


Imut sekali reaksinya tersebut, sampai-sampai aku mencubit pipinya dengan pelan karena tidak kuat dalam memandangi.


"Jangan gila, Lia. Cowok mana yang membiarkan gadis secantik dirimu pergi menggunakan bus?" cibirku dengan gaya bergidik.


Seketika laki-laki yang tadinya bersama Lia di UKS, Kaivan dan Sasha melewati kami berdua dengan tatapan jutek, seolah-olah mendeklarasikan permusuhan. Mataku tidak kalah sinis jika diajak beradu tatapan seperti ini.


Kami berdua keluar dari area gedung sekolah kumuh ini. Kutahan Lia untuk pergi ke halte bus, lalu mengeluarkan ponsel untuk menghubungi sopir pribadiku agar menjemput kami. Meskipun dia memberontak karena merasa tidak enak dengan sikapku, tidak aku pedulikan karena inilah hal yang sepatutnya dilakukan pada laki-laki gantle. Selanjutnya, datanglah mobil jazz dengan sopir yang sudah kuhubungi tadi. Kubukan bagian kursi penumpang pada Lia dan mempersilakannya masuk layaknya tuan putri. Yeah, dia tuan putriku sampai kapan pun.


"Setelah lulus SD, kamu sekolah di Aust apakah mengasyikan?" Lia bertanya dengan kedua alis yang terangkat.


Kami duduk bersebelahan dan aku mengambil kesempatan untuk merangkulnya. Sebelum menjawab, aku menekan suatu tombol di bagian pintu untuk memberikan pembatas antara sopir dan penumpang dengan tujuan agar percakapanku bersama Lia tidak didengar.


"Tentu tidak, Lia," jawabku dengan nada kemuraman wajah welas asih. "Kamu tahu sendiri kan jika aku ke Aust dengan paksaan orang tua. Rasanya aku menggila saat terpisah darimu."


Satu tangan Lia memegangi pipiku dan menggoyang-goyangkan wajahku karena gemas. "Orang tuamu tahu apa yang terbaik untukmu. Jangan begitu."


Orang tuaku tidak memberikan hal terbaik, yakni dirinya. Mereka justru diam-diam mengatakan bahwa gadis cantik ini terlalu kotor dan rendah bagiku. Yang benar saja, mereka justru lebih rendah karena sikap rasis tersebut. Secara paksa, mereka membawaku ke negri lain yang dimana tempat kelahiranku berasal. Bersekolah, melatih diri untuk dilempar ke olimpiade dan berakhir menjadi siswa berprestasi hanya demi membuktikan bahwa aku mampu menenuhi harapan orang tua itu yang dimana mereka juga harus sanggup memenuhi harapanku.


Ya, inilah akhirnya. Aku berada di sebelah Lia, di dekatnya, bersamanya, dan kuharap untuk selamanya.


"Lia memang anak yang baik hati. Tidak salah jika aku menyukaimu," ujarku sembari memeluknya seperti guling. "Apa kamu menyukaiku juga?"


"Tantan, tidak baik jika kamu bersikap begini." Lia mendorong wajahku dengan kedua tangannya dan aku pun tertawa kegirangan karenanya. "Iya-iya, aku menyukaimu. Sekarang, ayo lepaskan!"

__ADS_1


Dudukku menjadi tegap laksana anjing penjaga dan memasang mata berbinar salam berreaksi akan ucapan tersebut.


"Kamu juga menyukaiku?" tanyaku senang.


"Iya, Tantan ...."


Aku tahu bahwa perkataan itu tidak serius dikatakannya. Namun, aku tetap suka mendengarnya dan bereaksi seberlebihan mungkin agar Lia tertawa bahagia.


Hidungku yang mancung mulai tercubit dan kepalaku digoyang-goyangkan untuk ke sekian kalinya. Mungkin, aku akan memecahkan rekor sebagai manusia termancung di dunia apabila Lia terus-menerus melakukan hal ini padaku.


Apa pun yang dia lakukan padaku, bagiku adalah kesenangan. Meski hanya melihatnya dari jauh, itu cukup membuat hidupku terasa tenang. Keberadaannya bagaikan benang kejiwaanku, yang entah sampai kapan terus terikat pada hatiku.


Tibalah kami di sebuah rumah kecil dengan halaman luas kosong yang biasanya dijadikan kebun sayur-sayuran.


"Tunggu, aku sudah tidak tinggal di sini." Lia memalingkan pandangannya ke arahku setelah melihat rumah tersebut dari jendela. "Maaf, aku lupa untuk memberitahu alamat baruku."


Seketika wajahku menampakkan kepolosan akibat bingung. "Oh begitu. Aku jadi ketinggalan informasi semenjak meninggalkanmu."


Hatiku merasa hancur saat melihat wajah sedihnya terlukiskan. Dia tidak memiliki ponsel karena faktor ekonomi, dan seharusnya aku memenuhi kebutuhannya cepat-cepat.


"Kalau begitu, bagaimana kalau sebelum pulang ke rumahmu, kita berbelaja dahulu?" tanyaku, namun Lia langsung menggeleng karena menolak.


"Aku mau sekali ..." Perkataannya terjeda sejenak. "Tapi, lain kali saja ya, Tantan."


"Kenapa begitu?" Wajahku reflek mendekatinya karena terkejut jika sedang tertolak secara halus.


"Aku ada kesibukan, dan harus kuselesaikan. Jika tidak, maka akan menimbulkan masalah," kata Lia sembari mendorong pelan wajahku agar menjauh dari wajahnya.


Alisku naik sebelah karena dapat menyimpulkan ucapannya begitu cepat dan mengatakan, "Apa kamu bekerja paruh waktu?"


Bibirnya tersenyum tipis dan menyangkal ucapanku dengan gelengan. "Tidak, Tantan."

__ADS_1


"Lantas?"


"Rahasia!" Lagi-lagi Lia mencubit hidungku yang sudah menjadi kebiasaannya jika merasa gemas pada wajahku. "Ayo pergi sekarang. Waktu adalah emas!"


Salah, seharusnya 'Lia adalah emas'. Namun, aku lebih memilih untuk menjawab, "Waktu bukan emas. Jika kamu ingin emas, katakan saja padaku."


Kami sontak tertawa bersama. Bagiku, ucapan ini adalah hal serius. Akan tetapi, Lia pasti berpikir bahwa perkataanku sekadar lelucon belaka.


Kubukakan pembatas sopir dan mempersilakan Lia memberi tahu alamat tempat tinggalnya. Kemudian, mobil berjalan lagi dengan jarak tempuh yang lumayan jauh. Sampai akhirnya, kami parkir di depan sebuah gedung apartemen yang membuat dahiku berkerut-kerut. Tidak jauh bedanya dengan gedung apartemen pribadi keluargaku. Bagaimana bisa Lia mendadak tinggal di tempat seperti ini?


"Aku masuk dulu. Selamat tinggal, Tantan." Lia berpamitan padaku yang masih dalam keadaan terkejut.


Di kala dia hendak meraih gagang pintu, aku meraih tanganya untuk mencegahnya keluar. "Tunggu, aku juga mau ikut."


Tangannya yang lain mulai menyingkirkan tanganku. "Tidak perlu, Tantan."


"Tapi, kamu masih tidak terlalu vit. Aku harus menemanimu!"


"Tidak perlu."


Kami saling berkelit satu sama lain. Namun, aku tidak ingin membuat Lia tidak nyaman dengan perdebaran dan paksaanku. Akhirnya aku mencoba mengalah dengan helaan napas panjang, lalu mempersilakannya pergi secara terburu-buru.


Meskipun aku tidak tahu bagaimana bisa kehidupannya menjadi berubah drastis, aku tetap melantunkan rasa syukur karena dirinya tidak merana masalah hidup ekonomi ketika aku meninggalkannya.


Seandainya kami sepasang kekasih di saat kecil itu, sudah pasti akan aku penuhi segala kebutuhannya dari bentuk apa pun. Tapi faktanya berkebalikan. Jadi, jika aku mencoba memenuhi kebutuhannya dengan status sekadar teman, itu sama saja merendahkan harga dirinya dan membuatnya malu dalam tepaksa menerima bantuanku. Aku tidak ingin dianggap bahwa pemberianku adalah sedekah. Semua yang kuberikan adalah hadiah, bukan lainnya.


"Tuan Alexander, kita akan langsung pergi pulang?"


Mataku melirik tajam ke kaca spion dalam setelah sopir itu bertanya. Reflek sebelah tanganku diletakkan pada pintu mobil untuk menopang wajahku yang sedang menatap gedung apartemen Lia.


"Mall Plaga dekat Central Park."

__ADS_1


- ♧ -


__ADS_2