
Festival hari ke dua, dan diawali dengan pembagian raport pada wali murid yang wajibkan mendatangi sekolah. Sedangkan aku, orang tua Sasha menjadikan diri mereka sebagai perwakilan waliku.
Panggung yang digunakan sebagai kontes kemarin, kini dipakai untuk menyambut para juara tinggi dan guru-guru yang akan memberikan penghargaan. Seluruh angkatan dari dua jurusan telah mengeluarkan masing-masing anak-anak pintar yang akan dibanggakan di depan orang-orang tua mereka.
"Peringkat paralel pertama kelas XI IPA, Sasha Adriansyah!''
Tepukan tangan meriah hadir dan Sasha yang berdiri di tengah panggung telah diberikan hadiah kecil dari wali kelas kami. Begitu pun dengan peringkat kedua dan tiga, namun bukan Tristan bersama Ashley. Mereka berdua tiga besar di kelas, bukan secara paralel.
Setelah memberi penghargaan dan dipamerkan para juara tersebut, pembagian raport pun dimulai yang membuat semua orang menjadi gugup saat nilai-nilai mereka dibaca para wali. Aku tetap bangga meski peringkat paralelku 20 dari 90 anak, bahkan kedua mertuaku atau orang tua Sasha memberiku pujian.
Selama acara berlangsung, kepalaku terus menerus celingak-celinguk ke segala arah untuk mencari Hana dan Tristan. Tidak ada kehadiran mereka dari pandanganku. Padahal, aku ingin meminta maaf atas kesalahanku kemarin.
"Besok sudah mulai liburan sekolah, bukan?" tanya ibu Sasha pada kami berdua. "Sebaiknya, kita berpergian ke luar kota bersama untuk merayakan usaha keras kalian dalam meraih peringkat tinggi."
Aku, Sasha dan Ayahnya mengangguk pelan tanda setuju.
Menikmati festival dan membereskan semuanya setelah selesai ketika sore hari, di saat para wali murid pergi pulang. Aku membereskan dekorasi stan kafe di kelas. Mencabut semua aksesoris dan ikut memunguti sampah-sampah. Semuanya berakhir ketika matahari sudah tenggelam.
"Lia," panggil Sasha ketika aku ke luar dari gedung sekolah. "Ayo pulang bersama."
Mataku langsung melirik kanan dan kiri karena merasa panik jika kalimat itu terdengar oleh penggemarnya. Untung saja anak-anak masih di dalam kelas dengan berleha-leha.
"Untuk apa?" tanyaku lirih.
"Untuk menjadi tamengku. Aku bisa menebak jika Hana akan mendadak mencegahku pergi," balasnya yang membuatku terkejut.
"Hana bukan gadis yang seperti itu!"
Sasha menatapku tajam. "Aku jauh lebih tahu darimu."
Meskipun mereka adalah teman semasa kecil, tetap saja aku tidak bisa percaya jika Hana orang yang seperti itu. Karena kemarin dia sudah menolongku saat pemadaman listrik, mungkin inilah waktunya untuk membalas budi padanya.
"Baiklah," jawabku pasrah.
__ADS_1
Akhirnya kami pulang dengan bersamaan untuk kedua kalinya. Atau mungkin, untuk terakhir kalinya. Pikirku begitu sementara waktu ini.
Pada keesokan harinya, orang tua Sasha berkunjung ke apartemen kami dan mengajak untuk pergi berlibur bersama menggunakan mobil. Alih-alih terlihat sebagai suami istri, kami lebih cocok disebut kakak dan adik. Ah, aku jadi teringat Kak Kaivan, laki-laki yang pertama kuanggap saudara sendiri.
Lokasi yang tertuju adalah akuarium terbesar di kota ini. Pertama kalinya, aku melihat dinding-dinding kaca berisikan berbagai macam ikan yang indah telah terlihat jelas dan memukau.
"Lihat, ada pinguin!" ucap ayah Sasha yang menunjukkan taman berisikan banyak pinguin dan petugas yang memberikan makan.
CEKREK! CEKREK!
Sasha yang tengah membawa kamera mulai mengambil foto dari kami semua secara bersamaan. Memotret akuarium yang begitu bersinar dalam suasana minimnya cahaya di bagian pengunjung.
"Berikan kamera itu," pintaku pada Sasha seraya menadahkan satu tangan.
"Untuk apa?"
"Untuk memotretmu." Setelah mengucapkan hal itu, dia langsung memberikan kamera itu padaku.
"Sudah paham? Sekarang, coba foto ikan itu," perintah Sasha seraya menunjuk sebuah ikan neon tetra.
Setelah berhasil mengambil dua gambar, Sasha langsung pergi menjauh dan berdiri di posisi yang sebelumnya.
"Sekarang, potret aku sesuai permintaanmu tadi," kata Sasha dan aku mengangguk, lalu memotretnya berkali-kali.
Meskipun hanya menggunakan kaos hitam, jaket abu-abu dan celana katun, dia tampak sepeeti model majalah yang membuatku menggelengkan kepala. Tidak heran semua orang terkesima setiap kali melihatnya, bahkan para ibu-ibu di sekeliling kami pun selalu mencoba diam-diam meliriknya.
Setelah semua itu, kami semua pergi menonton pertunjukkan lumba-lumba yang beratraksi hebat seperti di sirkus. Bahkan, Sasha diberi kesempatan untuk memberi makan sampai lumba-lumba tersebut mencium pipinya tanpa diminta si pemandu. Rupanya, tidak para gadis saja yang bisa terpikat dengan Sasha, bahkan hewan pun sama halnya. Aku jadi tidak bisa menahan tawa melihat hal pemandangan itu.
BYUR!
Entah apa yang dipikirkan lumba-lumba itu, mendadak ekornya mengibas kuat sampai membasahi setengah dari para penonton. Termasuk aku dan Sasha. Untung saja kedua orang tua kami hanya terkena bagian wajah tanpa mengenai pakaian.
"Maaf atas kejahilan lumba-lumba kami! Untuk para penonton yang terkena air, kalian bisa mengeringkan pakaian beserta tubuh di room dryer," ucap sang pemandu yang terlihat panik saat penonton mengomel.
__ADS_1
Buru-buru aku dan Sasha pergi ke tempat dituju yang di mana akan ramai oleh barisan penonton tadi.
Penjaga dryer room di hadapan kami langsung mencegah dan berkata, "Maaf, diwajibkan minimal dua orang memasuki tempat pengeringan ini. Apakah kalian akan masuk bersama? Jika tidak, carilah pasangan dahulu."
Sasha dan aku sontak saling memandang, lalu kembali menatap penjaga wanita tersebut.
"Kami berpasangan," ucap Sasha sembari mengeluarkan secarik kertas bernominal untuk membayar jasa pengeringan ini.
Kami diizinkan masuk dan akhirnya bertemu dengan ruangan yang begitu banyak lobang seperti sarang lebah. Seketika angin kencang dengan suhu ruangan mulai menerpa kami berdua seperti suara mesin cuci yang mengeringkan baju. Rasanya, aku akan masuk angin setelah mengeringkan baju beserta rambutku.
Setelah selesai dan ke luar untuk bergantian dengan orang lain, sang penjaga pun berceletuk, "Kalian sepertinya pasangan yang serasi."
Otomatis, kami berdua mematung.
"Kami hanya teman," jawabku dengan tertawa parau. "Jangan berpikir berlebihan seperti itu."
Sang penjaga wanita tersebut terkesiap dan langsung menatap Sasha. "Oh benarkah? Kalau begitu, bisakah saya meminta nomor telepon anda?" tanyanya dengan wajah cerah.
Dengan memutar kedua bola mata, Sasha menerima secarik kertas dan pena yang dikeluarkan secara buru-buru oleh wanita berseragam itu. Aku tidak menyangka jika dia benar-benar memberikan nomor telepon pada orang asing.
Kami berdua pergi setelah petugas itu kegirangan dalam menerima pemberian Sasha.
"Kamu benar-benar memberikan nomormu padanya?" bisikku dengan wajah yang masih terkejut.
Kepalanya menggeleng. "Itu adalah nomor tukang kurir yang tidak sengaja kuhafal."
Aku menggigit bibir untuk menahan tawa. "Rupanya kamu bisa bersikap jahil juga."
Dia menggedik bahu dan tersenyum dalam menahan tawa yang sama sepertiku.
Setelah melewati keasyikan, kami diberi pemandu yang menjelaskan segala isi tempat wisata ini layaknya study tour anak-anak sekolahan. Terdengar membosankan, tapi bagiku sangat menyenangkan untuk seorang anak yang kesepian.
- ♧ -
__ADS_1