Oh My Love

Oh My Love
Permulaan Ricky


__ADS_3

Akhir-akhir ini, Tristan selalu dikerumuni oleh penggemarnya. Terlebih lagi para anak baru yang diterima ke sekolah mulai kebingungan untuk memilih klub penggemar mana yang akan mereka ikuti. Apakah Sasha, si laki-laki super cuek dan tida peduli dengan penggemarnya. Apakah Tristan yang begitu mempesona dan humoris pada siapa saja. Kedua pilihan yang sulit, mungkin jika ada yang maruk, mereka akan mengikuti kedua klub penggemar itu.


Aku selalu bersama Hana ke mana pun, dan kami pun menjadi sangat terganggu dengan kehadiran Ricky yang terus menerus mengejarku. Usahanya terlalu berlebihan untuk mengajakku pergi atau sebutan lainnya adalah kencan. Beberapa alasan sudah kulontarkan, tapi dia enggan menyerah.


"Kenapa kau selalu menghindariku?" tanyanya dengan intonasi tinggi saat kami berada di koridor lantai pertama yang notabenenya begitu ramai.


Hana pun terpaksa pergi karena terusir oleh Ricky dengan emosi meletup-letup.


"Aku selalu mencarimu ke mana-mana. Tidakkah kau kasihan padaku yang sedang berusaha ini?"


Ingin sekali aku muntah saat dia mengatakan bahwa memaksa seorang gadis berkencan disebut dengan sebuah usaha. Aku baru tahu jika ada manusia seperti dia di bumi ini. Tidak bia dibiarkan jika dia terus menerus menguntitku. Jika aku meminta bantuan Tristan, pasti akan terjadi keributan.


"Aku ada banyak tugas. Maka karena itu, tiak bisa ikut bersamamu dulu," jawabku dengan kalinat klise.


Ricky mendengus kesal. "Selalu saja tugas. Sebanyak apa tugas anak-anak kelas unggulan?" Tangannya pun mencubit-cubit janggut tidak kasat mata di dagu. "Apakah aku harus meminta ayahku untuk mengurangi tugas kelasmu?"


Semakin lama, menjadi menyebalkan berkali-kali lipat. Dia ingin semena-mena hanya karena hal kecil ini. Kekuasaan ayahnya bisa dia manfaatkan, dan bisa saja dijadikan sebagai ancaman untukku. Mengerikan, aku tidak mau hal itu terjadi!


"Baiklah, aku akan pergi bersamamu nanti," ucapku dengan sangat terpaksa, sedangkan pada ekor mataku bisa melihat Hana yang terkesiap di balik ceruk dinding. "Tapi, hanya sekali ini saja."


Dengan begitu senang, dia melebarkan senyuman dan memberikan piece sign. "Bagus. Sampai jumpa pulang sekolah nanti, Liaku."


Dia benar-benar definisi orang tidak waras dan super menggelikan dengan memanggilku seperti itu. Semoga saja pangsit yang kumakan tidak termuntahkan saat jam pelajaran dimulai.


Singkatnya, di kala waktu pulang tiba, Ricky bergerak cepat untuk menghampiriku ke kelas dan mengajak pergi bersamanya. Tentu saja seisi kelasku menjadi bertanya-tanya dalam batin mereka, mengenai apa hubunganku bersama laki-laki otak miring ini.


"Lia, Lia! Kamu ingin ke mana?" Tristan menahan lenganku untuk pergi ketika Ricky menyambut kehadiranku.


Kuletakkan satu telunjuk di depan bibir dan berdesis pelan. "Nanti kujelaskan, Tantan. Aku pergi ingin sebentar saja."


Dia pun menurut dan kembali terkerumuni oleh penggemarnya yang gila-gilaan. Bahkan Hana yang masih duduk di bangkunya menatapku dengan prihatin.


Sepanjang perjalanan menuju ke luar gedung, kami berdua menjadi pusat perhatian semua orang. Aku begitu tidak nyaman, sedangkan Ricky merasa puas menjadi sorot pandang semua orang.


"Itu ketua OSIS, Ricky Dermawan bersama Lia?"


"Apakah mereka jadian?"


"Ini benar-benar pemandangan yang tidak boleh dilewatkan."


Berbeda dari Tristan atau Sasha yang populer karena ketampanan, sifat dan kecerdasan mereka. Sedangkan Ricky hanya bermodalkan kuasa ayahnya dan menjadi sombong sekaligus menjdi berandalan, lumayan terkenal di kalangan sekolah tahun ini.


"Lihat, semua orang membicarakan kita," ucapnya pongah yang membuatku tambah berkerut-kerut. "Kau tahu? Pasti hebat sekali ketika kita menjadi pasangan seperti apa yang mereka semua katakan."


Semoga saja tidak akan! Aku memberontak akan hal itu.


"Pagi tadi, aku menonjok segerombolan preman jalanan yang menganggu teman-temanku. Keren, bukan?" sambung Ricky yang mengharapkan pujian. "Aku tahu, aku tahu jika para gadis menyukai laki-laki sepertiku. Badboy, tapi selalu peduli akan sekitarnya. Lalu, romantisme."


Terdengar seperti sepenggal telenovela yang sangat klise.


Ketika mataku melirik ke segala arah untuk menghibur diri dari tekanan batin bersamanya, aku melihat Sasha yang berdiri sembari menyandar di pohon dekat kantin. Tatapannya seolah sedang mengawasiku, tetapi tidak kugubris sikapnya tersebut.


Baru saja kami akan menginjak pembatas gerbang ke luar, tiba-tiba tanganku ditarik sampai bersandar di dada seseorang dalam keadaan terkejut.


"Eits ... Lia ada janji lebih dulu denganku."

__ADS_1


Kepalaku mendongak dan tidak percaya jika Kai alias mantan teman sekelasku dulu tengah menyelamatkanku dari orang gila itu. Tunggu dulu, mengapa mendadak dia muncul? Kami tidak kenal dekat sama sekali. Bahkan berbicara pada tahun kemarin sangat bisa dihitung jari.


Kai mengibas-ngibas tangannya ke depan bertanda mengusir. "Pergilah, pergilah. Sana."


Tubuh laki-laki ini lebih besar dari yang kulihat, bahkan sepertinya mental Ricky seperti menciut.


"Enak saja. Aku sudah tiga hari memiliki janji bersamanya!" sergah Ricky yang akan menarikku kepadanya.


Buru-buru Kai melangkah mundur, kemudian diiringi sebuah tangan menghalangi kami berdua dari ricky yang di mana itu adalah Tristan.


"Ups, sepertinya kami berdua memiliki janji yang sama," kata Tristan dengan suara bass-nya yang membuatu ikut keder bersama Ricky.


Karena merasa kalah jumlah, Ricky berdecak keras dan langsung melangkah pergi dengan gaya sok keren. Kelegaan menghampiriku dan kekhawatiran pun sirna.


"Lepaskan Lia, sialan," bentak Tristan yabg membuatku tersentak saat dia menarikku dari Kai. Wajahnya kembali berubah memelas seraya berkata, "Kamu tidak apa-apa, Lia? Apa si tolol itu melukaimu?"


Aku tersenyum keki dan mengelus wajahnya yang imut ini. "Tidak kok, Tantan. Terima kasih sudah menolongku dan terima kasih juga, Kai."


"Yaps, anytime!" balas Kai dengan mengeluarkan jari bergaya pistol.


Karena merasa bingung, aku pun bertanya, "Kenapa kamu bisa membantuku, Kai?"


"Astaga, Lia! Kenapa kamu tidak menolak ajakannya jika merasa tidak nyaman?" Tristan berceletuk sebelum Kai menjawab pertanyaanku. "Tubuhmu terlihat begitu tegang, dan tadi aku sangat khawatir, tau?"


"Sebenarnya, aku berpikir. Seandainya aku menerima ajakannya untuk sekali saja, mungkin dia akan berhenti mengejar-ngejarku lagi." Kepalaku kembali menatap Kai. "Kamu belum menkawab pertanyaanku."


Kai menahan tawa dengan menutup mulutnya dengan satu tangan. "Kau tahu? Teman dekatmu membayarku untuk membantumu." Air mata akibat tawanya pun keluar dan disekanya oleh uang berwarna biru. "Oke, aku tidak punya banyak waktu. Pamit deh, sampai jumpa!"


Di saat bersamaan, muncullah Hana yang berteriak memanggil namaku dan berlari-lari kegirangan. Rupanya, Hana yang menyogok Kai demi aku. Sungguh, aku merasa terharu karenanya.


Hana mengangguk dengan semangat, lalu melambai-lambai ke arahku dan lanjut melangkah pergi ke luar gerbang. Esok, aku harus berterima kasih padanya.


"Lia," panggilnya dengan wajah muram dan meletakan kepalanya di atas bahuku meski masih masih berjalan. "Jika terjadi apa pun, katakan saja padaku. Apa saja, aku akan sigap di sisimu. Jangan seperti tadi lagi, kumohon, Lia."


Aku mengelus-elus rambut tebal Tristan dengan gemas. "Ternyata, Tantan yang menggemaskan ini bisa melindungiku, ya?"


"Tentu saja!" tegasnya yang membuatku tertawa kecil. "Jangan pernah menganggapku tidak berguna, Lia. Ingat itu, ya?"


"Baiklah, baiklah ...."


Kami menduduki bangku terdepan di kantin dan Tristan membelikanku sekaleng soda. Wajahnya yang tadi ceria, kini kembali murung.


"Ada apa, Tantan? Ada sesuatu yang perlu kamu ceritakan?"


Tristan menatapku dengan lesu. "Maaf, Lia. Orang tuaku memintaku untuk kembali ke Aust."


Mendengar hal itu, membuatku menjadi sedih karena perpisahan di antara kami akan hadir kedua kalinya.


"Jika kamu memaksa, aku akan menetap di sini untukmu," sambung Tristan dengan senyuman sangat lebar.


Tidak mungkin itu terjadi. Di sisi lain, bisa saja orang tuanya begitu keras dan jika dia membangkang untuk tinggal di sini, mungkin biaya hidupnya akan diminimalis. Kehidupannya tidak akan tentram karena membantah perintah orang tua hanya demi seorang teman tidak berguna sepertiku.


"Tidak, Tantan," jawabku dengan tidak kalah memasangkan senyum pahit. "Pergilah. Kita akan sering berkomunikasi melalui ponsel, bukan? Itu sudah cukup, kok."


Untung saja tadi, Tristan mengajarkanku cara mengisi daya ponsel. Aku memang berkesan norak, tapi mau bagaimana lagi.

__ADS_1


"Kamu tidak mau bersama lebih lama denganku lagi?" Wajahnya menampilkan kekecewaan.


"Bukan begitu," Kepalaku menggeleng. "Ini demi kebaikanmu sendiri, Tantan."


Dia tahu jika terus beralasan, maka aku akan membantahnya dengan cuap-cuap sekali pun.


Maka karena itu, Trista pun mengeluarkan ide gilanya. "Bagaimana jika kamu ikut pergi ke Auatralia bersamaku, Lia?"


Kedua tanganku sontak melambai kecil tanda menolak. "Itu terlalu berlebihan, Tantan."


Obrolan panjang lebar dalam membahas perpisahan ini menjadi sedikit rumit. Tristan memaksakan pendapatnya untuk selalugin di sisiku, sedangkan aku menyarankan hal terbaik untuknya dengan mendengarkan perintah kedua orang tuanya.


"Baiklah, aku pergi, Lia," pamit Tristan dengan suara murung. "Jaga dirimu baik-baik."


Secara mengejutkan, Tristan mengecup dahiku sekilas, kemudian berjalan pergi lebih dahulu meninggalkanku. Dia benar-benar memiliki tingkat kejahilan tinggi yang selalu membuatku terkejut.


Sepulangnya aku ke unit apartemen dengan menggunakan bus, terlihat Sasha yang tengah makan di meja makan. Makan siang tidaklah salah, tetapi rasanya jarang sekali aku melihatnya makan di jam segini.


Dia sama sekali tidak menggubris kedatanganku, sampai aku menarik gagang pintu kamar.


"Hei." Sasha memanggil dan aku menoleh ke arahnya. "Hari ini piketmu. Mengapa terlambat?"


Ah ya, aku baru ingat. Dia pasti risih dengan apartemen yang tidak kotor-kotor amat ini.


"Maaf, besok aku tidak akan terlambat."


"Akhir-akhir ini, kamu sering menghabiskan waktu di luaran," sambungnya yang membuatku tercegah membuka pintu. "Apa kamu tipe gadis yang suka dikelilingi laki-laki?"


Setelah mendengar hal itu, aku langsung membanting ranselku ke lantai dan membentak, "Maksudmu apa?"


"Tidakkah cukup bagimu didekati oleh Kaivan, kemudian Tristan? Kini, anak dari kepala sekolah pun didekati."


Serta merta aku menggertakkan gigi, lalu berjalan mendekatinya dan memukul meja dengan satu tangan. "Jaga bicaramu!"


Alih-alih menjawabku, dia terdiam dan menatapku seolah akulah yang harus terintimidasi.


"Apa yang kamu tahu dariku? Tidak ada! Maka karena itu, tutuplah mulutmu rapat-rapat dan jangan ikut campur," cecarku. "Apa kamu tahu jika aku terpaksa bersama si brengsek itu agar Hana dan aku berhenti diganggu olehnya?"


Perkataanku berhasil membuat Sasha membuka mulut. Namun, aku melanjutkan sebelum dia menjawab. "Apa yang kamu tahu dariku? Tidak ada! Bahkan saat melihatku dalam keadaan seperti itu, kamu pura-pura tidak melihat, bukan?"


Tubuhnya menyandar di punggung kursi. "Lantas, mengapa tidak meminta bantuanku?"


Kakiku melangkah mundur, dan berkata, "Anak kepala sekolah itu ... dia sudah berkali-kali menghampiriku. Aku yakin, kamu pasti pernah melihatnya. Lalu, apakah kamu berinisiatif membantuku? Faktanya, tidak."


Dengan langkah perlahan, aku kembali ke kamarku dan membuka pintu. "Ketahuilah, penyebab anak-anak lain segan berbicara padamu adalah sifat cuekmu sendiri."


Tanpa sadar, aku menutup pintu dengan keras. Entah kenapa, saat seperti ini aku tidak mengeluarkan air mata. Rasanya sedikit frustrasi dalam memandangi dinding kosong dan memikirkan apa yang tadi kukatakan pada Sasha sedikit kasar.


Ini adalah pertengkaran pertama kami setelah sekian lama hidup bersama. Kukira, kami bisa menjadi partner yang baik, rupanya tidak.


Aku pun mengisi daya ponsel dan menghidupkannya, mengotak-atik semua applikasi agar terbiasa. Rasanya lama sekali dalam menunggu pesan baru dari Tristan.


Setelah itu, menyibukkan diri dengan membuka-buka buku pelajaran baru dari sekolah yang masih berbau wangi cetakan. Siapa yang aku bohongi? Meskipun mengalihkan diri dengan hal tidak berguna, aku masih memikirkan cara bicara ketusku pada Sasha.


- ♧ -

__ADS_1


__ADS_2