Oh My Love

Oh My Love
Kebaikan Sasha


__ADS_3

Apakah hal yang aku dan Hana lakukan adalah kesalahan? Kami sama-sama tertolak oleh seseorang yang selalu bersama kami dalam kurun waktu lama sampai terbawa perasaan. Aku dan dia bernasib sama, tapi apakah aku pantas marah karena dia menjadikanku objek pemaksaan perasaan pada Sasha?


Situasi ini benar-benar kacau.


Selama perjalanan pulang dari festival, kepalaku menunduk terus menerus. Walaupun sore hari ini terasa cerah, tapi tidak denganku. Waktu terasa berjalan lambat dan langkahku begitu lama untuk sampai ke halte bus.


Memasuki bus yang cukup ramai dan tidak ada tempat duduk lagi. Terpaksa aku berdiri sembari memegang gagang khusus penumpang yang berdiri. Tiba-tiba, sebuah tangan memegangi ubun-ubunku. Saat mendongak, aku mendapati Sasha berada di sebelahku. Karena suasana hatiku tidak baik, maka aku tidak peduli dengan apa yang dilakukannya.


Tibalah kami di perberhentian selanjutnya. Kami berdua pergi dengan jarak terpisah sampai ke apartemen. Setelah berada di depan pintu unit, aku berhenti melangkah dan membiarkan Sasha membuka kuncinya.


"Kamu menolak Hana?" tanyaku lirih.


"Dan kamu ditolak Kaivan?" jawabnya dengan balik bertanya yang membuatku lagi-lagi merasa malu.


Bagaimana dia bisa tahu akan hal itu? Aku menjadi menyesal melemparkan pertanyaan tersebut. Rupanya, menahan emosi cukup sulit.


Kami berdua memasuki apartemen satu persatu, dan aku langsung menderap masuk ke kamar pribadiku. Tanpa mengganti pakaian lebih dulu, aku membenamkan wajah pada bantal hingga menangis sejadi-jadinya. Terbayang di benakku bagaimana saat di sekolah, Hana seolah sedang mendeklarasikan kebenciannya padaku.


Aku tidak berbicara sepatah kata pun padanya. Namun, di saat festival akan usai, dia mengembalikkan kostumku dengan cara sedikit melempar. Awalnya, wajahnya tidak sudi memandangiku dan itu sudah cukup membuatku sedih karenanya.


"Kamu ... apakah puas melihatku tertolak oleh Sasha?" tanya Hana yang membuatku tidak percaya apa yang telah dia katakan saat kami berpapasan di balkon sekolah tadi. "Seharusnya, aku peka jika sejak awal Sasha menyukaimu."


"Apa yang kamu katakan ini ..."


"Diamlah," selanya.


Aku terbungkam.


Di saat tengah-tengah keramaian kelas, Hana berdecih kecil dalam membawakan costumku dan aku sekuat mungkin untuk tidak mempedulikannya.


"Tristan dan ketua OSIS. Aku yakin mereka berdua sungguh menyukaimu, bahkan menembakmu." Dia membalik tubuh dan melanjutkan, "Dan mereka pasti tertolak, sama seperti aku yang ditolak Sasha. Bukankah kesamaan antara dirimu dan Sasha sungguh mencurigakan?"


Setelah mengucapkan kalimat yang membuat hatiku hancur, dia melangkah pergi begitu saja. Aku bertanya-tanya, apakah di sini titik permasalahannya adalah aku?


Setelah puas menangis akibat air mataku tidak mengalir lagi, aku berganti pakaian dari kostum maid milik Sasha. Sambil sesegukan, aku membersihkan diri dengan mandi agar menyegarkan diri. Aku juga menyempatkan diri untuk mengirim pesan teks pada Tritan dengan pertanyaan, "Apakah kostum lucu yang telah digunakan Hana ini akan kukembalikan padamu?"

__ADS_1


TLING!


Tristan membalas pesanku nyaris seketika.


Inbox || Tristan Alexander: Itu untukmu.


Lantas, apakah festival esok, aku harus mengenakan kostum ini?


Aku ke luar dari kamar dengan membawa kostum Sasha dalam keadaan terlipat rapi. Tanganku mengetuk pintu kamar sebelah dan menunggu untuk dibukakan.


DAR!


Suara petir menyambar keras yang membuatku sontak menutup telinga dan berjongkok akibat ketakutan. Di saat lelahnya batinku dengan berbagai masalah sepele, justru muncul hal menakutkan yang membuatku bergetar. Terdengar berlebihan, tapi beginilah faktanya.


Pintu di depanku terbuka dan aku melihat Sasha yang terkejut melihatku. Tanpa basa-basi, dia langsung melangkah secepat mungkin ke balkon yang di mana pintunya masih dalam keadaan terbuka dan menutup beserta gordennya. Pantas saja suara petir yang sudah besertakan rintikan hujan deras terdengar begitu keras.


"Bangunlah." Sasha pun membantuku berdiri. Kostum di tanganku ini terserahkan dengannyaam keadaan gemetar. Sedangkan dia memegangi ubun-ubunku. "Petir tidak akan terdengar lagi."


Rupanya, saat di bus tadi, dia sedang menenangkanku dengan cara ini. Kukira, dia menganggapku seperti anak kecil yang perlu di pat-pat.


Dalam sekejap, ruangan menjadi gelap dan suara saklar lampu yang pastinya Sasha coba untuk dihidupkan tidak mau berfungsi. Pasti pemadaman listrik di seluruh kamar apartemen akibat petir tadi.


Gawat, aku takut akan gelap.


"Kamu takut gelap?" Sasha meraih tanganku dan aku mengiyakannya. "Aku tidak ada lilin ataupun senter."


"Aku juga."


"Aku ada lampu pijar, tapi permanen menempel pada meja belajar," lanjutnya setelah mengembuskan napas ringan. "Mau di kamarku saja?"


Bukankah berbahaya jika seorang gadis dan laki-laki hanya berduaan di kamar? Ini adalah hal yang harus dihindarkan!


"Tidak perlu. Aku bisa nengistirahatkan diri di kamar sendiri," balasku, lalu melepaskan genggaman Sasha dan mencoba berjalan pergi.


Bagaikan menutup mata, dan barang-barang di sekitar yang bisa menjadi alat peraba justru mendadak tidak bisa diraih.

__ADS_1


Namun, aku tersandung dan tersungkur. Sadha membantuku bangkit dan mendengus kesal. "Kamu tidak akan bisa tidur dalam kegelapan dan ketakutan seperti ini. Kita juga belum makan malam. Masuklah, aku ada beberapa roti simpanan dan air."


"Baiklah," jawabku dengan sangat terpaksa.


Di kamar akan jauh mengerikan. Aku bisa saja terbayang-bayang hal horor di bawah ranjang, atau barang-barang imutku seperti boneka akan terbayangkan menjadi hantu-hantu kecil.


Setelah memasuki kamar Sasha, aku dipandu untuk duduk di atas kasurnya. Lampu pijar pun dihidupkan dan penghilatan jauh lebih baik meski remang-remang. Sebuah kulkas kecil di sudut ruangan terbuka, dan Sasha mengambilkan dua bungkus roti sekaligus dua botol air mineral.


Isi kamarnya lebih bagus dariku. Bahkan aku tidak memiliki kulkas pribadi, ataupun karpet besar dan meja belajar di tengah ruangan.


"Ambillah." Satu bungkus roti isi selai stoberi diserahkan oleh Sasha untukku. "Aku akan pergi ke luar untuk bertanya pada staf lobi perihal pemadaman ini."


Serta merta aku menarik tangannya untuk mencegah pergi. "Tunggu di sini dulu, biarkan aku menenangkan diri."


Sasha mengangguk dan mengambil satu buku, lalu membacanya dengan duduk di bawah kasur dekatku.


"Tidak baik membaca dalam kegelapan seperti ini." Aku menegurnya setelah menelan secuil gigitan roti.


"Tapi, aku harus."


"Memangnya kenapa?"


Sasha membalik halaman buku tersebut. "Kamu tidak memahami jalan pikiran laki-laki, maka diamlah."


Nada bicaranya menjadi ketus. Memangnya perkataanku salah? Matanya bisa terjangkit minus jika memaksakan diri untuk membaca seperti itu. Lalu, apa hubungannya dengan cara berpikir laki-laki dengan perempuan?


Ah ya, aku lupa mengenai ponsel yang bisa digunakan sebagai senter. Akan tetapi, letaknya di kamarku.


Rasanya sedikit mengantuk saat tadi menghabiskan diri untuk mengalirkan air mata. Panas dan lelah, kelopak mataku pun berkali-kali berkedip setelah menghabiskan roti dan meneguk sedikit air mineral.


Kasur ini terasa nyaman dan lebih empuk dari milikku. Karena tidak kuat menahan godaan, aku langsung membaringkan diri dan menarik ujung selimut untukku hingga membuatku seperti gulungan sushi. Tanpa kipas, hawa sejuk hadir dan membuatku semakin nyaman untuk menghilangkan kesadaran.


Dalam keadaan setengah tidur, aku bisa mendengar suara napas berat yang tengah mendekat.


"Gadis ini, benar-benar tidak dapat waspada."

__ADS_1


- ♧ -


__ADS_2