Oh My Love

Oh My Love
Awal Mula


__ADS_3

Sinar mentari mulai memasuki celah-celah jendela, menyinari bagian ruangan dan menyilaukan wajah sang empu kamar. Suara deritan jam weker terdengar keras membuat pendengaran terganggu, kelopak mata terbuka, dan ketenangan dalam terus menikmati singgasana tidur. Bangkit dan mengusap mata perlahan untuk mengumpulkan kesadaran setelah menuai mimpi semalaman.


Aku merenggangkan tubuh dan memulai rutinitas pagi hari, dimulai dengan membereskan tempat tidur, lalu mandi untuk bersiap-siap pergi ke sekolah. Setelah itu, pergi keluar dari kamar untuk mengambil selembar roti panggang dan segelas susu dari kulkas agar memenuhi perutku yang kosong.


Suasana unit apartemen begitu sepi. Tidak ada keberadaan Sasha, karena sudah pasti telah berangkat lebih dulu dariku dengan alasan agar kam tidak berpapasan atau menimbulkan suasana canggung jika saling bertemu. Lagi pula, ada kehadirannya pun tidak mengubah suasana suram tempat ini.


Posisi dasi telah kuperbaiki dan apartemen terkunci sebelum aku tinggalkan menuju halte bus untuk berangkat ke sekolah yang jaraknya lumayan jauh. Selanjutnya, tibalah aku di SMAN 26 dengan keramaian akan murid-murid yang penuh kebahagiaan. Di antara mereka, ada gerombolan yang hobi menimbulkan keributan, anak-anak berambisi yang berjalan sembari membaca, sepasang kekasih, dan seorang gadis berhati mendung dengan memasang keceriaan palsu sepertiku.


"Hei, pagi Lia."


Pundakku tertepuk dan muncullah seorang gadis berambut inverted bob yang tersenyum lebar dalam menyapaku.


"Pagi juga, Hana," jawabku.


Manusia tercantik yang pernah kulihat dan dia adalah sahabatku semenjak menginjak sekolah ini. Hana Sakura. Terdengar dari namanya saja, sudah mengartikan bahwa darah keturunan jepang telah mengalir padanya. Dulu ataupun sekarang, kami selalu berada di kelas yang sama dan kuharap akan terus seperti ini.


Secara tak sengaja, manik mataku melirik ke arah gedung utama sekolah, terdapat sebuah jendela lantai dua telah menampilkan seseorang dari samping yang sedang membaca buku. Satu tangannya menopang kepala, sehingga menambahkan kesan mempesona di mata siapa pun, termasuk aku sendiri.


"Aww, lihat si Sasha! Keren banget dilihat dari sini."


"Aku mau photo dia dulu, ini moment terbaik."


"Tampan sekali dirinya."


Mulai terdengar sorakan-sorakan para penggemar Sasha yang tidak tahu malu dalam menyatakan rasa suka dan tertarik. Begitu berlebihan, tapi begitulah kenyataannya. Tetapi, Sasha tidak pernah menggubris apa pun dari mereka, entah dari segi ucapan atau kumpulan hadiah untuknya. Mungkin, ini adalah salah-satu penyebab untuk berangkat begitu pagi agar tidak dikerumuni oleh penggemar gilanya tersebut di kala memasuki sekolah.


Bel berbunyi tepat ketika aku memasuki kelas.


Di saat bersamaan, Hana berlari-lari kecil ke bangku pojok paling depan dan mengatakan, "Pagi, Sasha!"


"Pagi," jawab Sasha dengan lembut.


Pipi Hana menjadi merah padam setelah diberi tanggapan dari sapaannya.


Ketika duduk pada bangku di sebelah laki-laki itu, dia tampak salah tingkah dan kegirangan dalam batin. Aku hanya bisa tersenyum tipis kala melihat kenormalan ini. Seandainya aku tidak memiliki hubungan rahasia terhadap Sasha, mungkin saja sikapku tidak akan ada bedanya seperti Hana.


Bangku di belakang Hana adalah milikku. Ketika kududuki, dia memutar tubuh seraya berbisik, "Sasha membalas sapaanku! Ini sungguh mengejutkan."


Tawa kecilku keluar dan mengangguk perlahan seraya menjawab, "Baguslah, Hana."


Dalam seperkian detik, wali kelas galak kami hadir dengan membawa rotan dan mulai mengawali pembacaan buku absen.


"Baiklah, berikan suara yang lantang dalam mengkonfirmasi kehadiran!" perintah guru tersebut. "Awas saja ada yang tercentang alfa. Akan saya hukum berat."


Seisi kelas mulai bergidik.


"Lilian Ashley."


"Hadir, Pak!"


"Sasha Adriansyah."


"Hadir!"


Pak Guru mengangguk setelah mendengar suara Sasha. "Dasar anak teladan. Kemarin, kamu sudah mendapatkan nilai sempurna dalam ulangan harian pembelajaran seluruh kategori IPA. Bagus-bagus! Nanti, jangan lupa ambil hadiah dari kantor saya."


Tepukan tangan kebanggaan telah telah diberikan kepada Sasha yang menjadi kebanggaan sekolah.


"Sudah. Saya lanjut mengabsen, Riliana Celeste."


"Hadir, Pak!" ucapku lantang.


"Bagus-bagus. Ada juga siswi teladan yang mengikuti lomba akademik kecil seperti Sasha. Saya bangga menjadi wali kelas di kelas berisikan anak-anak hebat," ujar Pak Guru yang membuatku tersipu-sipu akan pujian tersebut.


"Lanjut. Alakai Adiputra ... Kai, mana suara Kai?"


"Dia ke WC, Pak!" seru Ashley.


"Masa iya, sih? Tadi, aku lihat Kai keluar dari sekolah tanpa tas," sahut yang lainnya hingga membuat Ashley melotot hebat ke arahnya.


"Ashley, kamu selalu menutup-nutupi tindakan bolods Kai. Kalian ini benar-benar sejoli yang tidak baik. Baiklah, Kai alva!" kata Pak Guru dengan tegas.


Tawa lepas dari penghuni kelas terdengar keras, terkecuali dari mulut Sasha. Entah sejak kapan, aku mulai memerhatikannya terus menerus tanpa tujuan. Singkatnya, pembelajaran seperti biasa dimulai dengan tenang.


Singkatnya, waktu istirahat telah tiba. Seisi sekolah mulai berbondong-bondong ke kantin yang begitu banyak berbagai macam santapan lezat dan bermicin. Di sisi lain, lapangan di belakang sekolah sudah pasti ramai dengan laki-laki yang bermain futsal.


Hana dan aku duduk pada bangku kantin dekat pot berisikan pohon hias kecil. Sebuah mangkuk berisi bakso telah kupesan, sedangkan Hana hanya melahap kue tart perisa coklat dengan ukuran kecil.


"Aku sudah pernah bercerita tentang ini, belum?" tanya Hana setelah menelan kue coklat yang mengotori sudut bibirnya.


"Tentang apa?"


"Bahwa aku suka sekali dengan Sasha." Kedua tangannya memegang pipi dan bersikap lucu, seolah-olah sedang membayangkan kebahagiaan dalam pikirannya. "Kami adalah teman masa kecil yang akrab. Entah itu TK, SD maupun SMP, kami selalu bersama tak terpisahkan."


"Oh, begitu ya."

__ADS_1


"Iya. Saat itu, dia imut sekali! Menggemaskan dan aku tidak kuat dalam mengingatnya!" ujar Hana menggebu-gebu.


"Teringat di benakku, kala itu melindungi Sasha dari anak-anak nakal di taman bermain. Dia menangis dan aku menghiburnya. Wah-wah, masa yang sangat indah."


Ah, benar perkataanya. Sasha sangat imut semasa kecilnya yang pernah kulihat di foto pajangan apartemen kami berdua.


"Tapi, kenapa sekarang Sasha berubah, ya? Aku jadi sedih banget." Wajah Hana memasang kemurungan palsu. "Tidak apa, deh. Yang penting, persahabatan kami tidak rusak."


Sudah puluhan kali dia membahas topik ini. Akan tetapi, aku tidak pernah memprotes dan merasa bosan. Menyimak dan merespons positif adalah tugasku sebagai sahabat. Terlebih lagi, mustahil bagiku untuk membocorkan hubungan pernikahan laki-laki pujaannya. Bibirku tertutup rapat-rapat dan memendam perasaan bersalah karena menjadi penghalang cinta mereka hanya untuk membahagiakan permintaan terakhir keluarga yang sudah tiada.


"Apa kamu berniat untuk menyatakan perasaan padanya?" Kuambil tisu dari saku rok, lalu membersihkan noda dari wajah Hana. "Sepertinya, kalian sangat cocok menjadi pasangan romantis. Jadi, mau sampai kapan kamu memendam rasa ini?"


Kepalanya pun menggeleng pelan. "Aku terlalu malu untuk melakukan hal itu."


Kue coklat itu habis, dan Hana menoleh ke arah luar kantin dengan tatapan semu. "Persahabatan kami tidak akan kuhancurkan hanya karena aku menaruh perasaan padanya."


Tidak bisa dipungkiri perkataannya tersebut. Terdengar begitu menyakitkan, karena aku tahu betul bagaimana saat di posisi tersebut, dan sebenarnya aku sedang mengalami hal yang sama.


"Oh ya, kamu gantian bercerita, Lia." Hana kembali menatapku dengan ceria. "Siapa orang yang kamu sukai! Ayo beri tahu, cepat."


"Aku ..."


Mendadak, rasa dingin menghampiri di pipi yang tirus ini dan membuatku melonjak kaget sampai-sampai nyaris berteriak. Secara serentak, aku dan Hana menoleh hingga melihat seorang laki-laki bertubuh tinggi tegap sedang menempelkan kaleng soda dari lemari es pada wajahku.


Bibirnya menyunggingkan senyum manis, lalu duduk di sebelahku. "Ngomongin apa? Sepertinta asik sekali."


"Kak Kaivan membuatku terkejut!" ucapku pada laki-laki tersebut.


Dia adalah kakak tingkat kami, ketua OSIS SMAN 26, dan orang yang membuatku berhasil jatuh hati untuk pertama kalinya. Keramahan, sikap tegas, peduli dan senyuman tersebut telah menjadikanku penggemar rahasianya. Perasaan tenang selalu hadir saat dia berada di sisiku seperti ini. Aku selalu melantunkan harapan agar waktu berhenti sejenak dan membiarkanku sebentar untuk bersama Kak Kaivan. Seketika teringat di otakku bagaimana berkesannya pertemuan pertama kami. Awal yang dimana menjadi sejarah terindah hidupku.


Kala itu, aku sering kali menangis dalam merindukan kehadiran orang tua. Membenci diri sendiri, iri akan orang lain, menolak fakta bahwa kesialan menimpaku. Berkali-kali air mata tumpah membasahi tangan dan pipi dengan tujuan melampiaskan kesedihan yang begitu tidak berguna. Hawa kepahitan dan hampa selalu mengiringi di setiap langkah. Pohon yang berada di belakang sekolah telah kujadikan sebagai tempat melepaskan rasa pedih yang terbenam pada hati. Di waktu itu juga, muncullah laki-laki asing yang duduk bersebelahan bersamaku.


"Kenapa menangis?" tanyanya tanpa menoleh padaku.


"Bukan urusanmu," jawabku ketus di sela-sela isakan.


"Yeah, memang bukan. Tapi, bukankah bercerita akan membuat perasaanmu lebih baik?"


Sontak, aku tertegun dengan ucapannya. Selama ini, aku tidak pernah menceritakan apa yang menjadi kepahitan di hidup ini. Bahkan, Hana sekali pun tidak mengetahuinya. Rupanya, rasa sakit ini berasal dari hati yang terlalu banyak memendam beban.


KRING!


Belum sempat bagiku menjawab ucapan orang tersebut, bel yang menandakan perintah memasuki kelas telah berbunyi. Dia pun bangkit dan menyandarkan lengannya di batang pohon.


"Kamu tidak ingin kembali ke kelas?"


Napas berat terhembuskan dari mulutnya, lalu mengatakan, "Bagaimana caranya agar aku duluan jika tugasku adalah patroli siswa yang telat memasuki kelas?"


Kepalaku mendongak dan langsung melihat sebuah name-tag di depan saku baju laki-laki itu yang bertuliskan 'Piket Patroli OSIS - Wakil OSIS - Kaivan Jayantara'. Wakil OSIS adalah gelar yang didapatkan hanya pada kakak tingkat kedua di SMA.


Buru-buru kaki ini berdiri dan mulai melangkah pergi.


"Jangan pergi dahulu. Kamu sudah telat. Maka karena itu, beri tahu namamu," pinta Kak Kaivan seraya mengeluarkan bolpoin dari saku celana dan siap menulis namaku di atas telapak tangannya.


Dengan gugup, aku menjawab, "Ri-riliana."


"Berikan nama panggilanmu saja.


"Lia."


Usai menulis namaku, Kak Kaivan pun berjalan mendekat dan tidak disangka-sangka telah mengelus rambutku dengan lembut.


"Jangan kaku begitu, aku hanya ingin tahu namamu saja, Lia," ucapnya penuh keramahan. "Baiklah, cepat kembali ke kelas sebelum OSIS yang lain melihatmu."


Dengan rasa terharu, aku mengangguk dan berlari pergi ke kelas. Syukurlah, kupikir akan mendapat masalah dan merusak citraku sebagai murid teladan.


Bahkan keesokan harinya, kami bertemu lagi dan lagi di tempat yang sama. Tiada hari bagiku mengalirkan air mata dan rasanya aku tergiur untuk mencurahkan isi hati kepada Kak Kaivan yang begitu mempedulikan perasaanku ini. Segala kisah hidupku telah terlontarkan padanya. Dengan responnya yang begitu baik, rasa nyaman menyelimutiku dan sudah kuputuskan bahwa tidak ada laki-laki bersifat super peduli pada seorang gadis selain Kak Kaivan.


"Kamu suka sekali tempat ini, Lia?" Kak Kaivan bertanya ketika kami memakan mochi bersama di pohon belakang sekolah.


"Ya, aku benar-benar suka. Begitu menenangkan dan sejuk."


Dia pun tertawa kecil. "Benar katamu. Sejak aku memasuki SMAN 26, pohon inilah yang menjadi tempatku merenung dan menenangkan diri.


Rupanya, Kak Kaivan lebih dulu mengetahui tempat ini sebelum aku.


Reflek aku terkesiap dan buru-buru mengatakan, "Ah, apakah aku tidak apa-apa selalu ke sini?"


"Tentu saja. Jangan khawatir."


Menyenangkan rasanya. Walaupun begitu, aku tahu faktanya kini dia sudah memiliki kekasih yang menbuatku harus menerima kenyataan bahwa tidak memungkinkan dalam memiliki hubungan lebih bersamanya. Seharusnya, perasaan ini kunyatakan cepat-cepat sebelum dia menjalin cinta dengan gadis lain. Inilah yang disebut penyesalan selalu terletak di akhir. Kepedulian dan kenyaman ini hanya menjadi sebatas antara kakak dan adik. Tidak akan lebih yang seperti kuharapkan.


Sulit bagiku untuk mengatakan jika gadis yang suka sekali menangis di pelukannya telah menikah secara diam-diam. Terlebih lagi, status murid yang kumiliki bersama Sasha harus terjaga dengan baik sampai kami lulus. Begitu banyak penghalang pada keinginan kami masing-masing, seperti Hana dan Shasha, atau aku bersama Kak Kaivan. Inilah lika-liku yang harus kami lewati bersama.


"Halo, Ketua OSIS!" sapa Hana dengan ceria yang membuat lamunanku terbuyarkan dalam seketika. "Tadi kami membahas tentang orang yang kami suka, Ketua."

__ADS_1


Kak Kaivan tertawa kecil. "Wah-wah. Memangnya, siapa yang kalian sukai? Apakah orang yang sama?"


Hana melirik ke kanan dan menahan senyum. "Tentunya laki-laki paling populer di sekolah ini."


"Apakah aku?"


Sontak kami berdua bergantian tertawa dengan sikap percaya diri Kak Kaivan yang menganggap dirinya adalah laki-laki terpopuler. Tidak salah juga, karena ketua OSIS sudah pasti memasuki daftar murid-murid yang terkenal di sekolahan.


"Bukan, Kak. Maksud Hana adalah Sasha," jawabku setelah berusaha berhenti tertawa.


Suara desisan telah keluar dari mulut gadis yang sedang menahan reaksi malu di wajahnya. "Lia, jangan katakan!"


"Ya ampun, rupanya laki-laki sok cuek itu. Ada-ada saja kalian." Kak Kaivan membukakan kaleng soda dan memberikannya padaku. "Minumlah."


"Terima kasih," kataku dalam menerima pemberiannya. "Kak Kaivan, apa mau bakso?"


"Boleh!" Mulutnya terbuka menandakan untuk menerima lemparan bola-bola daging dari mangkokku.


Aku menyuapi satu bakso padanya dengan senang hati dan terlihat Hana yang mematung dalam menonton tingkah kami.


"Lihat ke sana, ada Pak Presiden." Kak Kaivan berusaha berbicara sembari menunjuk-nunjuk ke arah luar kantin.


Hana terkejut bukan main dan menoleh ke arah yang tertuju dengan sedikit heboh. Kepalanya celingak-celinguk, mata sipit itu memicing untuk memastikan bahwa informasi dari Kak Kaivan adalah benar.


"Mana Pak Presiden? Kalau ada, bukankah harusnya ada acara penyambutan?" Hana menatap Kak Kaivan dengan bingung. "Atau ada seseorang yang diejek dengan sebutan 'Pak Presiden'?"


"Tidak juga, tapi itulah namanya," jawab Kak Kaivan dan kembali menunjuk-nunjuk yang rupanya mengarah ke kucing berwana jingga tengah tertidur di pinggir jalan.


Kepalaku menggeleng dan menyahuti, "Maksudnya adalah kucing, Hana."


"Namanya terdengar aneh banget!" cemoohnya kesal.


"Nggak aneh kok," timpal Kak Kaivan. "Coba lihat wajahnya yang datar meskipun dalam keadaan tertidur. Tubuhnya yang besar dan perut buncit, lalu bersikap galak apabila ada yang mendekatinya."


Sebuah ponsel dikeluarkan oleh Hana. "Sepertinya, aku harus merekam hal ini dan mengadu pada Pak Presiden sungguhan melalui media sosial beliau."


"Hei-hei! Enak saja mau melakukan itu." Kak Kaivan tampak panik dan terbatuk-batuk hingga nyaris tersedak.


Dia begitu hobi memberikan nama yang lucu terhadap hewan-hewan di jalanan. Bukan hanya baik hati, humoris juga salah satu sifat utamanya.


"Lia, beberapa hari ini aku telah ke rumahmu. Namun, tidak ada siapa pun. Kamu ke mana saja akhir-akhir ini?" Kak Kaivan melontarkan pertanyaan yang membuatku tersentak. "Apa kamu pindah rumah?"


"Ah, iya. Aku, aku pindah rumah," dustaku. Sontak, aku menggigit bibir, lalu berkata, "Seharusnya Kakak memberi tahu aku sebelum pergi ke rumahku."


"Iya juga. Seandainya kita rajin pulang bersama seperti dahulu, aku tidak perlu bertanya untuk menghampiri rumahmu, 'kan?"


Benar sekali. Di kala itu, sebelum dia menyatakan bahwa seorang gadis cantik sudah menjadi kekasihnya, kami berdua selalu pulang bersama menggunakan bus. Bukan hanya itu, Kak Kaivan juga mengakrabkan diri dengan nenek, seolah-olah menjadi sosok saudara di keluarga yang dipenuhi kesepian. Ketika nenek pergi ke sisi Tuhan, dia pun sama terpukulnya denganku. Tetapi, sikap tegar terpaksa ditampilkan demi menghiburku yang merasa hancur berkeping-keping.


"Oh ya, Hana. Kamu dipanggil oleh Pak Kepala Sekolah dalam membincangkan perlombaan akademik nanti," ujar Kak Kaivan. "Ayo cepatlah. Ada Sasha juga di sana."


Hana buru-buru menghidupkan kamera ponsel untuk bercermin, lalu berpamitan denganku karena bersemangat dalam mendatangi pujaan hatinya.


Kini, tersisa kami berdua dengan duduk bersebelahan begitu dekat. Seharusnya, aku terbiasa dengan situasi ini. Akan tetapi, jantungku justru berdegup kencang dan perasaan gugup mulai kututup-tutupi serapat mungkin.


"Bagaimana kabarmu?"


Aku menarik napas dalam, lalu mengembuskannya perlahan dan menjawab, "Baik. Bagaimana dengan Kak Kaivan?"


"Seperti yang kamu lihat sekarang." Bahunya menggedik sejenak, lalu mengeluarkan dua wafer coklat dari saku baju dan memberjkannya satu untukku. "Aku baru ingat, jika sudah jarang sekali memberimu coklat yang dimana sudah menjadi kesukaanmu."


Bibirku tidak henti-hentinya menyunggingkan senyum atas perlakuan Kak Kaivan. Terasa romantis, namun hanya dapat dicap sebagai rasa kepedulian seorang kakak.


"Terima kasih." Kuambil wafer tersebut dan memakannya langsung.


"Jangan pikirkan aku berlebihan, Kak. Lagi pula, Kak Kaivan memiliki kesibukan tersendiri dan sebaiknya jangan terlalu memaksa untuk membagi waktu untukku."


"Apa yang kamu bicarakan? Jangan menganggapku seperti orang yang baru kenal kemarin, Lia," ucapnya dengan menggeleng pelan. "Oh ya. Kali ini, kita harus pulang bersama lagi seperti dulu, oke?"


Wajahku menatapnya sejenak tanda kebingungan. "Bukankah seharusnya Kak Kaivan pulang bersama kekasih sendiri?"


"Kekasih sendiri?" Dia terdiam sejenak. "Oh, maksudmu Karin. Akhir-akhir ini, dia lumayan sibuk dengan pekerjaannya yang luar biasa. Kamu tahu sendiri kan jika aku sudah bercerita?"


Kepalaku mengangguk. "Menjadi seorang model bukanlah hal yang patut diremehkan. Kak Kaivan beruntung memiliki gadis seperti Kak Karin."


Seorang model, itulah profesi kekasih Kak Kaivan yang berkesan luar biasa di mata anak-anak SMA, ya walaupun masih kategori pelatihan awal sebelum benar-benar mengambil pekerjaan. Tentunya sudah memiliki paras yang cantik dan elegan, atau lebih tepatnya tidak sepertiku.


"Kak Kaivan pasti sering kesepian."


"Tidak juga, Lia," jawabnya. "Aku selalu mengisi waktu luang dengan mengerjakan tugas-tugas penting organisasi."


"Baguslah kalau begitu. Jangan terlalu memaksakan diri juga," tuturku lembut. "Jikalau Kak Kaivan kesepian, datanglah padaku kapan saja."


"Kamu memang adik yang baik hati." Tangannya mengelus rambutku. "Jadi, bagaimana? Mau pulang bersamaku lagi, 'kan?"


"Tentu!" Aku menjadi antusias ketika menjawab.

__ADS_1


- ♧ -


__ADS_2