
Sorot mata, arah kepala memandang, bisikan-bisikan dan semua itu mengarah dengan aura negatif. Bukan padaku, lebih tepatnya ke arah gadis di sebelahku yang sedang menundukkan kepalanya dan mencoba tidak mempedulikan sekitar.
"Katanya, Ricky nggak melakukan apa-apa pada Lia. Gadis itu berlebihan dan menyebarkan kabar yang tidak-tidak."
"Tidak heran Sasha menggebuki Ricky hanya karena gadisnya disentuh dengan jari telunjuk."
"Rumornya menyebar sangat cepat! Bisa-bisanya di umur segini mereka membuat keputusan parah seperti itu."
"Rupanya, Ricky hanya sekadar membully sedikit dengan ejekan karena dia tahu rahasia mereka berdua."
Desas-desus yang tidak bisa kupahami. Mungkin, nanti bisa kutanyakan pada beberapa gadis yang nantinya menghampiriku.
Di kala kami sampai ke kelas, si sialan dengan wajah datar alias Sasha mengejutkan dalam muncul mendadak di depan pintu. Air mukanya menampakkan kepanikan hebat dan langsung menarik Lia yang seperti sedang cemas. Entah mengapa dia tampak cemas sedari tadi. Seolah-olah, mentalnya sedang terganggu. Setiap kali aku bertanya akan keadaannya, dia berbicara dengan kebohongan.
"Ayo kita ke kantor kepala sekolah langsung!" seru Sasha pada Lia. "Ayo cepat, Lia."
Lia mengangguk tanda setuju, tetapi aku menahannya untuk pergi.
"Aku hanya akan pergi sebentar, Tantan," katanya yang membuatku tidak bisa menolak perintah tersebut.
Mereka berdua pergi dengan tergesa-gesa. Dalam pikiranku, mengapa rasanya keakraban mendadak hadir pada mereka? Karena aku merasa tidak beres, mengikuti mereka dengan tenang adalah solusinya.
Tibalah koridor sepi yang di mana tempat khusus ruangan administrasi, guru-guru, gudang, dan kantor kepala sekolah yang dimasuki oleh mereka berdua. Pintu kantor tersebut ditutup dan membuatku mendapat kesempatan mencuri dengar karena begitu ingin tahu apa yang membuat mereka panik sampai ke tempat ini.
"Tidak bisa begini, Pak!" Baiklah, bentakkan ini dari suara Sasha. "Anak bapak sudah melakukan hal di luar batas. Apakah tidak ada tindakkan lanjut?"
"Seharusnya, kalian yang ditindaklanjuti," sambung kepala sekolah dengan tidak kalah menaikkan intonasi bicara. "Orang tua kalian sudah membayar uang tutup mulut pihak sekolah. Akan tetapi, kalian justru ingin menuntut anak saya? Apa kalian tidak tahu hutang budi?"
Apa maksudnya dengan uang tutup mulut dan hutang budi? Aku pun menempelkan telinga di pintu untuk mendengar lebih jelas.
"Jika hubungan kalian jatuh ke semua orang, justru kalian yang akan dikeluarkan dari sekolah," sambung kepala sekolah yang membuat dahiku semakin berkerut-kerut.
"Saya bisa mengurusi anak saya sendiri. Kalian tidak perlu ambil pusing."
__ADS_1
"Kami bisa menyangkal desas-desus hubungan pernikahan kami karena tidak ada bukti akurat di tangan bapak," ucap Lia dengan tegas. "Kami masih belum menginjak umur legal dan bisa membantah jika bapak menyebarkan rahasia kami."
Apa-apaan maksudnya dengan menikah? Apakah aku tidak salah dengar? Jika benar, bagaimana bisa mereka dengan tololnya melakukan hal sakral itu di umur segini?
"Maka karena itu, kalian masih di bawah umur dan tidak ada hak untuk menuntut," ujar kepala sekolah. "Diam dan belajarlah dengan tenang. Kembalilah ke kelas kalian."
DRAK!
Terdengar bunyi benturan, atau mungkin tinju keras pada suatu benda seperti meja. "Bapak tidak bisa berperilaku adil?" bentak Sasha dengan menggebu-gebu. "Kami akan terus menuntut anak bapak sampai dia mendapatkan hukuman yang membuatnya jera!"
"Jangan kurang ajar kamu, Sasha!"
Jeritan dari Lia terdengar yang membuat suasana menjadi hening. Suara langkah kaki mendekat yang membuatku sontak mundur perlahan dalam keadaan shock bukan main.
"Pernikahan kita tidak salah, Lia. Ricky memang harus dihukum atas perilakunya."
Brengsek, dengarlah suara si sialan itu! Dia pikir, wanita macam apa Lia yang pantas dia nikahi? Lia pasti dipaksa olehnya yang mungkin karena terlilit oleh hutang akibat kemiskinannya. Bisa jadi si sialan itu mengancam Lia dengan kejam untuk dijadikan boneka memenuhi hasratnya. Gadis itu begitu pintar, mustahil dia menyetujui hubungan bodoh itu jika tidak karena terpaksa akan sesuatu.
Tidak bisa seperti ini. Lia hanya milikku, jodohku, kekasih masa lalu dan masa depanku, cintaku dan segala-galanya! Dia kebahagiaanku satu-satunya.
Pada akhirnya, pintu terbuka dan kepalaku menjadi mendongak setelah berpikir kacau balau mengenai apa yang telah terdengar.
"Tantan, kenapa kamu ada di sini?" Lia bertanya dengan berdiri di sebelah si sialan tersebut.
"Jangan katakan, kamu mencuri dengar obrolan kami di dalam?" tanya si sialan tersebut sembari menutup pintu.
Aku memandang dengan sayu, menelengkan kepala, seolah pasrah dengan akhir hidup yang akan hadir. Namun, kesadaranku masih normal dan langsung menarik tangan Lia dengan keras sampai berada di dekapanku. Kubawa pergi Lia dengan paksa meski ada pemberontakan sedikit akibat kebingungan.
"Ada apa, Tantan? Kamu terlalu kasar membawaku! Tolonglah lepaskan."
Mata ini menatapnya dengan kesal, tetapi tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Melihat Lia yang tersakiti oleh cengkraman tanganku, rasanya itu lebih baik daripada dia harus menjalani penyiksaan lebih dari sekadar tangan yang kupegang ini.
Sial, sial, sial! Dunia ini benar-benar menampakkan kebrengsekkan yang hakiki.
__ADS_1
Hanya aku yang boleh dekat dengan Lia! Tidak ada satu pun, siapa pun, bahkan hewan pun yang boleh bersamanya! Persetanan atas kemanusiaan, aku bahkan rela membunuh anak buah orang tuaku hanya kerena mereka memaksaku untuk menjauhi Lia.
"Hei, lepaskan Lia!" seru Sasha yang membuat urat-urat di pelipisku pasti menonjol akibat emosi yang membara.
Spontan, aku menjauhkan Lia dengan perlahan dan memutar tubuh 180°. Di saat bersamaan, kakiku melayangkan tendangan dengan menargetkan ujung kaki pada pelipis si sialan itu. Bagus, aku tahu titik vital yang bisa merobohkan lawan sekali serang.
"Sasha!" teriak Lia yang sontak mendekat, tetapi kuhalangi dengan menggenggam erat tangannya.
Si sialan tersebut tidak menyerah meski sudah terjatuh dengan keseimbangan yang sudah hilang. Lihatlah, bahkan dia lebih cocok disebut orang mabuk saat berusaha berdiri.
"Apa-apaan ini? Apa maksudmu?" tanya si sialan itu dengan amarah tinggi.
"Bajingan ini, tidak tahu diri rupanya," balasku seraya melayangkan tendangan tipuan yang berawal menargetkan kaki, lalu berpindah ke tengkuk leher. "Kau kira, gadis ini bisa kau nikahi seperti boneka di jalan?"
Tinju ke depan dengan cepat kulontarkan pada wajahnya sampai dia benar-benar tidak mampu melawan. Setelah itu, aku menderap ke belakangnya dan mengunci lehernya agar pingsan sampai kami berdua terjatuh.
"TANTAN, HENTIKAN!" Perintah Lia tidak bisa kugubris, sampai si sialan ini hilang kesadarannya secara total agar tidak menganggu kami lagi.
Dia kira sedang berurusan dengan siapa? Aku adalah atlet MMA yang berhasil memasuki pertandingan internasional yang tentunya memiliki kekuatan beladiri tingkat tinggi. Jika mau, aku akan mematahkan tulangnya dalam sekejap apabila dia memberontak sekali lagi.
Aku pun bangkit dan menendang si sialan tersebut sampai dia berguling tanpa sadarkan diri.
Kubawa Lia pergi dari sini dengan paksa meski dia memberontak berkali-kali, sayangnya kali ini perintahnya membuatku tuli sementara.
"Lepaskan, Tantan! Ada apa denganmu ini!"
Sial, ada apa denganku? Tentu saja aku mengamuk karena dirinya telah melalui kesusahan tanpa meminta tolong padaku sama sekali!
Sejak dulu, Lia selalu saja memendam masalahnya sendiri, seakan-akan aku tidak berguna untuk menyelesaikan masalah. Jika aku menawarkan bantuan, dia menolak dengan paksa dengan berbagai alasan yang membuatku kecewa. Sebegitu tidak bergunanya diriku di matanya?
Sebuah ponsel kukeluarkan dari saku celana, menekan panggilan pada kontak sopir dan langsung diangkatnya dalam sekejap.
"Jemput aku secepatnya di sekolah," perintahku, lalu mematikan telepon tanpa mendengar balasan.
__ADS_1
Benar-benar ingin menggila dan meneriakkan banyak kalimat kasar pada dunia atas hal menjijikkan yang sudah kudapatkan. Begitu menyakitkan mendengar pujaan hatiku tertimpa kesialan tanpa kuketahui. Aku merasa gagal menjadi pelindungnya. Kacau, benar-benar kacau.
- ♧ -