
Fero sekarang berusaha tidak lagi menggunakan helm maupun penutup wajah ketika masuk ke sebuah ruangan. Perkataan Marsella membuatnya memang seharusnya dia harus mempunyai etika dalam bertingkah apalagi ketika masuk tempat orang lain. Namun begitu pandangan dan tatapan orang-orang kepadanya tentu membuat Fero risih.
Sepanjang dirinya mengantri lebih banyak dia menunduk dan berpura-pura melihat hpnya agar mengalihkan rasa canggung dan malunya dilihat orang lain."Fuuhhh!" desah Fero berkali-kali saat mendengar bisik-bisik pengunjung rumah makan cepat saji itu.
"Ini untuk wanita cantik yang katanya tadi lapar.",Rendi datang membawa nampan yang berisi makanan dan minuman yang membuat lengan bajunya tertarik sehingga otot biseps nya semakin jelas terlihat urat-uratnya. Marsella yang dari tadi memikirkan laki-laki yang satunya dibuat terkejut," Ah!kamu Rend jangan bilang kayak itu malu didengar orang".
"Emang kenapa?biar semua orang tau hari ini aku sedang duduk dengan seorang putri,biar mereka iri,hahahaha". Rendi tertawa dengan bangganya, sedangkan Marsella memandang Rendi dengan tersenyum.
__ADS_1
'...Rendi begitu sempurna, dan dulu aku sangat menyukainya,,tapi dibanding laki-laki itu...'
Marsella menoleh sejenak ke arah Fero kemudian menatap Rendi yang masih asik dengan rasa bangganya.
"Eh Sell lihat tu abang ojol yang badannya paling tinggi, busyet wajahnya dak pantas jadi ojol tuh!" Rendi menunjuk Fero dengan kepalanya sedangkan kedua tangannya sibuk memberikan menata dan memberikan bungkusan nasi dan ayam serta minuman ke Marsella.
"Oh,biasa saja menurutku", jawab Marsella datar setelah pura-pura berputar seolah tadi tidak mengetahui keberadaan Fero dan karena posisi duduk Marsella memang membelakangi antrian.
__ADS_1
Fero segera kembali menunduk mengalihkan pandangan saat matanya jatuh ke Rendi, ada perasaan kecil yang terasa sakit, '...hehehe kamu ojol sadar diri Fero..'
Sambil menggeleng kecil Fero tersenyum, seolah mengerti apa yang ada di pikiran Fero, Marsella segera berbalik melihat Rendi, dia menatap laki-laki yang sedang asik dengan makanannya dan kemudian menoleh lagi ke arah Fero dan ditemuinya laki-laki itu tak lagi memandang ke arahnya. Ada perasaan aneh di dada Marsella seolah dia ingin lari ke arah Fero dan berkata ini bukan siapa-siapaku selain teman.
"Katamu biasa Sell kok trus noleh ke arahnya, jadi cemburu, ternyata aku diduain sama tukang ojek" Marsella langsung menoleh ke arah Rendi dan seolah berusaha menutupi rasa malunya dan menjaga perasaan Rendi. " Ah, itu si brengsek yang kemarin ngabter pesenan ke klinikku,udah lama kagak sopan lagi tadi cuma mastiin apa bener tu orang soalnya kemarin dia pakai helm masuk klinik makanya kumarai tu tukang ojek."
"Tapi kamu dak diapa-apain kan sama itu abang ojol?"Rendi menunjukkan wajah pedulinya."Kalau berani macam-macam sama kamu awas saja tu ojol". Dengan mengepalkan tangan dan menunjukkan betapa besarnya lengan kanannya Rendi berusaha mengambil perhatian Marsella.
__ADS_1
Tapi Marsella hanya tersenyum tipis menanggapi kata-kata Rendi,"Lupakan saja aku sudah memberinya pelajaran kok Rend,ayo makan".
Rendi segera mengiyakan ajakan makan tersebut dengan perasaan senang dan beberapa kali mulutnya tak henti bercerita serta memuji Marsella baik di masa lalu maupun sekarang. Sementara Marsella sesekali tersenyum semanis mungkin mendengar komentar Rendi tentangnya. Padahal hati dan pikirannya sekarang berada pada laki-laki di balik punggungnya.