Ojol Vs Dokter Angkuh

Ojol Vs Dokter Angkuh
Mengantar Pulang 2


__ADS_3

Setelah berpamitan dengan Karin Fero segera melesat kencang. Selama perjalanan mengantar pulang, Karin tetap ceria seperti biasanya hanya saja Karin sudah menyadari posisinya sehingga candaan dan obrolan keduanya sekarang berbatas dan tidak terkait perasaan.


Sebelum berpisah Karin sempat menyampaikan sesuatu yang membuat Fero berkecil hati. Dan meskipun pernyataan Karin terdengar pahit tapi memang benar seperti apa yang menjadi kekhawatiran Fero bahkan sebelum hubungan ini benar-benar melangkah.


Fero berhenti sebentar untuk mengisi bahan bakar di sebuah pom bensin. Setelah mengisi bahan bakar Fero tidak langsung menuju ke klinik. Fero membersihkan diri sebentar di toilet dan kemudian duduk merenung di lantai musholla POM tersebut.


"Kak!Aku senang dokterku yang galak akhirnya menemukan tambatan hatinya. Aku juga bahagia kurasa pilihan nya laki-laki ganteng,sopan pokoknya sip dah. Tapi kuharap kak Fero harus siap dan jangan terlalu berharap lebih. Dokter mungkin menyukaimu,mencintaimu atau apalah itu. Kakak harus melihat keluarganya. Aku bukan menghina tapi kakak tentu paham maksutku?"


Fero termenung memikirkan kata-kata Karin.


'Kenapa sulit sekali menemukan hubungan yang sederhana..."


Tak lama kemudian Hp Fero berbunyi tanda WA masuk. Marsella menyampaikan dirinya sudah siap untuk dijemput.


Fero tersenyum datar membaca WA tersebut. Kata-kata Karin benar-benar membuat hatinya menjadi ciut.


"Yah!Jalani saja mau jadi apa nasibku nanti terserah. Bukannya kalau gagal sendiri lagi dan sendiri bukannya sudah menjadi sahabatku?Kenapa sekarang harus takut?"

__ADS_1


Setelah membalas WA Marsella Fero bergegas menuju ke klinik kali ini.


Fero duduk di kursi tukang parkir. Setelah beberapa kali bertemu muka dengan tukang parkir yang menguasai ruko-ruko di situ, Fero bisa mengetahui jika ada 5 orang yang


bergantian parkir di situ mungkin orang kampung sekitar. Hanya saja yang selalu Fero temui memarkir di depan klinik hanya Pak Eko itulah namanya setelah Fero berkenalan dan berbincang sesaat.


"Duduk saja mas di situ!Santai sama-sama cari rejeki di jalan. Nunggu siapa lagi?" Kata Pak Eko penasaran karena Fero terlihat sering mengantar Karin dan setelah mengantar Karin baru ini balik ke klinik lagi.


"Dokter Pak." jawab Fero santai dan datar.


Belum sempat Pak Eko bertanya balik dirinya segera berdiri memberikan arahan pada sebuah mobil Taft lama namun sangat terawat berwarna merah. Fero melihat sekilas tingkah Pak Eko ketika memberi arahan sebelum kemudian menunduk mengamati Hpnya memberi tahu Marsella bahwa dia sudah berada di depan.


Fero mendongak melihat Pak Eko yang berdiri di depannya hendak duduk kembali sehabis memarkirkan mobil yang disebut tadi.


"Siapa itu Pak?Dokter Kusbandono?"


"Ayah yang punya ini klinik. Ayahnya dokter Marsella."

__ADS_1


Mendengar jawaban Pak Eko entah kenapa jantung Fero berdetak sangat cepat dan tidak karuan. Rasanya jantungnya ingin meledak dan segera berlari pulang ke rumah.


Pak Eko yang sedang asik menyalakan rokoknya mengamati wajah dan ekspresi Fero, " Hidup itu kadang lucu. Dokter Kusbandono kalau orang tidak tahu dirinya dokter senior di kota ini, punya rumah sakit sendiri intinya wong sugeh(orang kaya). Pasti banyak yang mengira penjual bakso keliling. Sama saya saja paling muda nya gantengan saya."


Fero hanya cengar-cengir mendengar kata-kata tukang parkir songong ini.


"Samean tidak percaya?Mudaku persis kayak samean wajah konglomerat tapi nasib melarat. Akhirnya lama-lama wajah ganteng mengikuti nasib jadi wajah melarat begini. Hahahahaha!"


Mendengar celoteh Pak Eko Fero sedikit terhibur. Ketika hendak mau merespon celoteh Pak Eko yang dirasa lucu terdengar suara dari depan klinik.


"Pi lihat! Mas nya sudah nunggu dan aku terlanjur pesan." Marsella terlihat berdebat dengan pria tua,botak dan sedikit lebih pendek dari Marsella. Marsella menatap dan berjalan ke arah Fero.


Fero segera berdiri namun dengan perasaan bingung kali ini dan dirinya memilih diam karena pria tua di sebelah Marsella juga menatapnya dengan pandangan yang membuat Fero merasa ingin buang air kecil.


Pria tua itu mendekati Fero dengan ekspresi datar tapi tetap menunjukkan kesopanan berkelas ala dokter, " Mas!Mohon maaf anak saya memang sudah pesan ojek. Saya hendak mengantarkan nya pulang. Berapa ongkos di aplikasi nya?"


"Anu Pak."

__ADS_1


"Jangan kuatir saya tetap bayar. Jadi mas tidak perlu mengantar, jalan kan saja aplikasi nya saya tetap membayar biaya nya.Tidak perlu kuatir!"


__ADS_2