Ojol Vs Dokter Angkuh

Ojol Vs Dokter Angkuh
Tamu tak Diundang


__ADS_3

Marsella duduk termenung di ujung kasur. Dirinya merasa seolah kembali ke masa SMA begitu manja,ceria mudah percaya namun setia. Benar Marsella adalah wanita yang memegang teguh prinsip kesetiaan dia tidak mentolerir apapun bentuk pengkhianatan. Padahal kalau di pikir pikir bukankah usianya sudah tidak lagi sama. Memang begitulah sikapnya yang dulu sebelum kenangan buruk dengan Yansen merubahnya menjadi dirinya seperti sekarang. Meledak-ledak, penuh kecurigaan kasar dan sejenisnya.


"Terserahlah!"


Marsella dengan wajah bersungut-sungut menuju ke kamar mandi. Dirinya yang sekarang tanpa busana menikmati guyuran air dari shower yang mulai membasahi rambut hingga ujung kakinya. Kepalanya menengadah menghadang air yang datang tangannya yang penuh busa menyapu tubuh rampingnya. Tiba-tiba terlintas kenangan bersama Yansen bagaimana dirinya yang tidak lagi suci dan kemarahannya sebelumnya pada Fero berubah menjadi penyesalan dan permintaan maaf yang dalam.


"Mas seandainya dirimu tahu aku tidak suci lagi apa kamu sudi bersamaku"


Suara parau Marsella semakin samar ditelan air pancuran.


Marsella berdiri di depan cermin. Dirinya berdandan begitu cantik berbeda seperti hari biasanya. Diamatinya ponsel di depan matanya menunggu pesan atau telpon Fero tentu saja. Namun kesedihan nampak di wajah yang baru berias.


"Kok dak Wa??"


Marsella berdiri menggenggam ponselnya.


"Hemm!Nanti saja di klinik."


Marsella membuka pintu kamar saat ibunya yang andai berusia sama dengannya lebih cantik ibunya.

__ADS_1


"Sayang ada temenmu di teras depan lagi ngobrol sama Papimu. Laki-laki ganteng."


Wajah Marsella berubah ceria dan segera menuju teras sementara dokter Laksmi menuju dapur hendak membuat minuman untuk tamu dan suaminya.


Nampak kekecewaan Marsella saat melihat tamu yang datang ternyata bukan seperti yang dia harapkan.


"Eh Ren!"


Laki2 berbadan dempal memakai kaos ketat itu menoleh ke arah Marsella bersamaan dengan pria tua di sebelahnya.


"Hai Sell apa kabar?"


Marsella menuju kursi dari pohon jati berukir bunga Lotus berhadapan dengan Rendi.


"Papi minggu depan mau ke rumah Bapaknya Rendi kamu mau ikut?"


Marsella memandang bingung ke arah ayahnya.


"Ngapain Pi?"

__ADS_1


"Loh dulu Pak Broto itu sama Papi semasa muda...Kamu belum lahir seingat papi, kami sering berburu barang antik. Trus karena kesibukan masing-masing jadi putus kontak. Lagian rencana papi, klinik di kota sebelah nanti pembukaan sebaiknya ngundang bapaknya Rendi saja buat pertunjukkan Wayang."


Rendi mendengar dokter Kusbandono dengan seksama seakan murid memperhatikan gurunya, sementara pikiran Marsella ingin segera beranjak pergi. Meski sifat Marsella pada beberapa hal berubah tapi satu hal yang tidak akan berubah jika hatinya sudah menjadi milik seseorang maka tertutup sudah untuk laki-laki lain.


"Nanti Rendi sampaikan ke Bapak perihal kedatangan Om..."


"Tumben ke sini


Rend?", kata Marsella memotong pembicaraan Rendi


Rendi tersenyum lebar ke arah Marsella, " Iya Sell!Sengaja ke rumahmu kukira kamu sakit soalnya beberapa kali ku Wa tidak kamu balas."


"Aduhhhh,sorii banget Rendd klinik 2-3 hari ini rame sekali jadi aku bantu anak-anak di klinik kasihan kuwalahan. Ini tadi rencana pingin segera ke klinik takutnya rame seperti kemarin"


Rendi menghentikan niatnya menjawab Marsella saat dokter Laksmi membawakan minuman.


"Tidak usah repot-repot Tantee."


"Cuma air nak Rendi, Tante tidak repot."

__ADS_1


Memang Marsella dan orang tuanya kaya raya dan tinggal di rumah mewah tapi meski begitu dokter Laksmi memilih menangani sendiri urusan dapur dan rumah. Selain tidak nyaman jika ada orang bukan keluarga yang masuk rumah, dokter Laksmi memiliki kesibukan dengan segala hal di dalam rumah karena suaminya melarang nya bekerja sehingga gelar dokternya hanya sekedar gelar saja.


__ADS_2