
"Papiii!!"melihat ayahnya duduk di depan teras Friska berlari kecil menghampiri dan segera mencium tangannya. Friska entah bagaimanapun sangat menyayangi keluarganya. Meskipun apa yang terjadi kedua orang tua dan kakaknya adalah rumah dan hidupnya. Fero pun demikian hanya saja dia memilih diam karena harga diri sesama lelaki tak mungkin bermanja ria dengan sesama laki-laki.
"Anak papi yang paling cantik,gimana kuliahmu?". Mata tua itu melihat anak gadisnya sedangkan tangan kanannya dia jauhkan sebisa mungkin, dia tau Friska tidak tahan dengan asap rokok."Dikit lagi Pi,wisuda nanti papi n mami wajib datang!mami mana pi?".
"Masih kerja mamimu,makan dulu sana papi mau ngabisin rokok dulu". Pria tua yang biasa dipanggil Pak Jo, segera berdiri menjauh 4 langkah dari anak gadisnya, dan segera menghisap rokok yang hampir habis itu. Matanya memandang ke atas terlihat sendu,dia tahu anak laki-lakinya masih berdiri tidak jauh dari adiknya. Ada perasaan rindu berbincang-bincang dengan putrany tersebut, tapi dia sadar semua ini salahnya.
Ingatannya kembali saat dia memukul anak pertamanya. Fero berniat mengajak ayahnya pulang takkala sedang asik mabuk-mabukan dan berjudi. Karena suasana hatinya buruk akibat kekalahan berjudi sehingga membuatnya naik pitam menghajar Fero di depan orang-orang. Sejak itu Fero tak pernah sekalipun berbincang dengan ayahnya. Lima tahun sudah kejadian itu berlalu.
__ADS_1
Fero kemudian turun ke baseman setelah bilang ke Friska untuk beristirahat. Dia mengambil atribut jaket dan helm barunya. "Woiiii driver baru nihhh!!"
"Eh,mas Jok ngagetin saja". Fero berbalik terkejut melihat sumber suara tersebut. Joko tersenyum hangat ke Fero dan pamit ke atas dulu mau makan dan istirahat, " Habis magrib ntar aku jalan lagi, ngopi di warkop Mak Rah bro kukenalin sama temen2 biar lu jangan sendiri trus sekali-kali kumpullah!"." Oke mas Jok ntar WA."
Fero naik ke motornya,bibirnya tersenyum tipis saat bayangan wajah itu terlintas sesaat seolah tepat di depan matanya.
Pukul 4 sore Marsella segera meluncur ke Kaepci sebuah restoran cepat saji. Mantan orang yang dulu dia sukai saat SMA tiba-tiba menyapanya saat Marsella sedang membuka salah satu Sosmed. Mereka janjian di kedai cepat saji itu. Marsella seolah lupa dengan saat-saatnya tadi bagaimana Fero membuat hatinya bergetar ketika Rendi mantan cinta monyetnya mengajaknya bertemu.
__ADS_1
"Ren aku hampir sampai". Marsella menelpon Rendi saat dirinya berbelok di bundaran arah putar balik menuju restoran. Jam pulang kantor memang hal menyebalkan terutama kalau naik mobil,selain macet yang membuat mobil berjalan lambat, watak Marsella yang tidak sabaran membuat AC mobil menjadi terasa panas.
Saat dirinya trus mengumpat tentang lalu lintas, pengendara mobil atau motor yang tentu mereka tidak mendengar dan bahkan sebenarnya tidak salah hanya demi memuaskan kekesalannya, melintas pelan babang ojol yang hendak berputar dan melewati celah kecil antara mobil dan pembatas taman berbentuk lingkaran dan terdapat air mancur di tengahnya.
"Marsella merasakan atmosfer hatinya berubah mendadak bahkan lebih cepat bereaksi daripada otaknya. '...Helm,motor itu...,tapi seragamny?...' Batin Marsella bergemuruh. Masih jelas di ingatan Marsella bentuk punggung pria yang membuat hatinya terasa aneh. Matanya terus mengamati pria di atas sepeda motor itu, Marsella juga melihat plat motor dan otaknya seperti menghafal angka-angka di plat berwarna hitam itu.
"Dasar macet sialan!" Dengan kesal Marsella memencet klakson karena melihat bang ojol berlalu sedangkan dirinya masih terjebak antrian yang bernama macet.
__ADS_1