
Marsella sudah tiba di kliniknya, masih sepi pengunjung hanya ada 1 pasien sedang facial. Karin terlihat di ruangan Marsella sedang berbincang dengan atasannya itu. Terlihat sesekali senyum tipis di antara keduanya. Setelah kejadian tersebut Marsella merasa lebih membutuhkan Karin bukan hanya sebagai karyawan tapi teman. Seingat Marsella sekarang dirinya memang tidak memiliki teman dekat karena teman sejawatnya sudah berumahtangga sehingga sulit untuk bertemu atau bertatap muka langsung seperti dulu, meskipun masih ada satu dua teman masih sering menanyakan kabar padanya melalui pesan Wa.
"Oiya dokter gimana kencannya sama...."
Muka Marsella terlihat bingung mendengar perkataan Karin yang tiba-tiba keluar dari tema, "La itu Rin, (menghela nafas) Si mas tadi pagi Wa menanyakan sesuatu..."
Karin terlihat antusias walau juga ada sedikit perasaan was was melihat ekspresi bosnya, maklum darah pergunjingan wanitanya mulai mencium bau-bau keseruan, " Menanyakan apa dok?"
Rona wajah Marsella bertambah lesu dengan pertanyaan Karin, "Itu si mas tanya aku menghina adiknya..."
Karin sekarang terdiam seperti berpikir, "Trus dokter balas apa?"
"Belum Rin, masih bingung mau balas apa yang jelas kamu kemarin juga dengar sendiri kan gimana aku sama adik si mas."
__ADS_1
'Yah dokter sendiri jadi orang juga bocor alus mulutnya.' Karin kembali seperti berpikir sementara Marsella menelungkupkan tubuhnya di atas meja.
Di lain tempat Fero sekarang duduk menunggu tukang tambal ban mengotak-atik motornya. Sesekali dilihat ponsel dan sesekali dilirik motornya. Wajahnya agak cemberut melihat pesannya ke Marsella telah dibaca namun tidak nampak balasan atas pertanyaan tersebut. Fero hendak menelepon tapi diurungkan niatnya.
'Sella, Sella!'
Tidak tahu mengapa meskipun kesal atas sikapnya begitu terbayang wajah pemilik sikap mengesalkan itu, emosi Fero seperti meredup.
'Jangan-jangan wanita itu main pelet? Pasti ini sekarang lagi ke dukun supaya aku dak marah. Oh jangan harap bisa memeletku kali ini, Fero laki-laki antipelet hahahahahaha.'
Kemudian Marsella kembali duduk dengan tenang, " Dak papa Rin cuma tiba-tiba aku seperti melihat wajah mas yang tertawa seperti mengatakan sesuatu padaku."
Sehabis berkata demikian Marsell bertingkah manja yang membuat Karin agak merinding melihatnya.
__ADS_1
"Kau tau Rin si mas selain ganteng sabarrr banget. Kemarin kupikir dia akan marah seperti laki-laki lain atau bahkan mungkin memakai kekerasan. Eh justru.....sempurna banget Rin buatku hihihihi."
"Kalau begitu Wa nya cepat dibalas donk dokt!"
"Eh...!"
Muka ceria berubah menjadi kusut kembali, "La itu Rin mau dibalas apa bingung, kalau melihat sifat si Mas dia pasti marah besar kalau adiknya yang dihina dibandingkan dirinya. Dari tadi mikir kata-kata yang tepat susah banget, bantuin apa Rin!"
Karin menggosok dagunya seolah seperti orang yang sedang berpikir keras, " Begini saja dokter bilang kalau dokter mengira itu pacar baru mas Fero, dan dokter mengira mas Fero telah mengkhianatinya. Jadi..."
"Cukup Rin aku sudah mengerti harus menjawab bagaimana, thanks." Marsella terlihat antusias mengetik sesuatu di ponselnya. Setelah menunduk beberapa menit dan meneliti serta melalui proses editing yang begitu meneganggkan, akhirnya terkirimlah pesan tersebut. Belum sampai disitu ketegangan itu berlalu, kini Marsella langsung menutup aplikasi Wa namun jantungnya berdetak kencang memastikan telinganya mendengar nada notifikasi Wa yang masuk.
"Dokter tegang amat?"
__ADS_1
Marsella hanya tersenyum menyengir mendengar pertanyaan Karin.