
Marsella tersenyum hangat seorang diri di depan cermin. Memandang dirinya sendiri meskipun bangun kesiangan karena tidur terlalu pagi, nampaknya tidak membuatnya segera menuju kamar mandi.
" Aku tidak lagi muda"
Marsella terdiam sejenak kemudian menundukkan kepalanya. Samar terlihat senyum sendu di wajah yang tertunduk lesu.
(Bunyi dering telpon)
"Ya Rin!Ada apa?"
"Dok!Banyak pasien ingin konsul dokter tidak ke klinik hari ini?"
"Emmm,aku kurang enak badan Rin coba reschedule yang mau konsul besok saja"
"Baik dok"
" Eh Rin!!" Marsella berhenti sejenak merasa ragu.
" Ya dokter ada apa??"
"dokter???"
__ADS_1
"Eh,iya Rin aku minta kontak si abang ojol yang biasanya ngantar kamu" Marcella mengatakan dengan sangat cepat karena merasa malu yang amat sangat meminta hal tersebut pada Karin. Sedangkan Karin di seberang telpon merasa kebingungan.
Setelah sepersekian detik yang terasa begitu lama. Rongga dada Marsella terasa hangat. Senyumnya begitu lebar memandang layar HP terpampang no Hp Fero yang telah dikirim oleh Karin.
Setelah memandang begitu lama no itu akhirnya tangannya bergerak menyimpan nomer tersebut di kontaknya.
Fero duduk di sebuah warung kopi di pinggiran kota bersama kawan ojol yang lainnya. Jika dilihat dari jauh nampak Fero seperti cahaya lampu di gelapnya malam. Mau gimana lagi wajah Fero memang nampak putih bersih sedangkan ojol-ojol yang lain terlihat lusuh,kucel,kotor dan sejenisnya.
"Bro lu kagak ngrokok? Kata salah seorang ojol yang terlihat sok jantan dan galak.
"Laki-laki merokoklah!!", katanya lagi
Beberapa ojol menanggapi itu ada yang membela keputusan Fero terutama ojol wanita sementara beberapa tertawa dan beberapa memilih mengamati Hp mereka sambil sesekali menyeruput kopi di depannya.
(Bunyi nada dering telpon)
"Orderan akhirnya bang,rejeki orang dibully tuh". Fero tersenyum hangat pada ojol wanita tersebut," Bukan mbak ada telpon masuk"
Wanita tersebut membalas senyum Fero sebaik mungkin. 2 Tahun sudah hidup tanpa pasangan dan melihat seonggok berlian di tengah kubangan seperti Fero membuat tubuhnya kembali merindukan dekapan laki-laki.
Fero berjalan menjauh mengamati nomer di hp tersebut tanpa memperdulikan bahwa wanita di belakangnya sedang berfantasi indah tentang dirinya.
__ADS_1
"Hallo,maaf dengan siapa ya?"
Setelah beberapa detik Fero menunggu dan hendak menutup telpon terdengar suara yang terkesan sedikit malu dan tidak percaya diri.
"Sella,..."
Marsella hendak menjelaskan siapa dirinya namun Fero menjawab sesuatu yang membuatnya sedikit terkejut. "Iya dokter ada yang bisa saya bantu?"
'Bagaimana dia tahu kalau aku adalah aku yang meneleponnya apa Karin bilang atau?'
"Dokter Sella,Hallo"
"Eh iya mas kok tahu kalau saya dokter Sella yang telpon apa Karin memberitahu mas nya kalau saya minta telpon?".
" Tidak, Karin tidak memberi tahu. Hanya saja selama ini orang bernama Sella yang saya kenal dan pernah berkomunikasi hanya dokter. Selain itu suara dokter sama persis baik langsung atau di telpon"
Entah mengapa jawaban Fero membuat Marsella merasakan getaran hebat. Rasa bangga dan merasa diperhatikan oleh seseorang yang dia harapkan membuat air matanya menetes.
Fero merasa kebingungan setelah sekian lama menunggu jawaban Marsella, "Maaf jika saya berkata kurang sopan bukan maksut saya berlaku demikian."
Mendengar perkataan kedua Fero, Marsella sadar telah membuat Fero salah sangka karena dirinya tidak langsung menjawab pernyataan Fero sebelumnya, "Eh,tidak mas bukan begitu tadi saya". Marsella berhenti sejenak, "Mas Fero repot tidak?saya ingin menggunakan jasa ojek mas buat nganter saya dari rumah ke klinik soalnya saya kurang enak badan".
__ADS_1