Ojol Vs Dokter Angkuh

Ojol Vs Dokter Angkuh
Mencari


__ADS_3

Rendi duduk termenung menikmati alunan lagu melow dari penyanyi lokal di cafe yang dia singgahi. Suaranya tidak bagus-bagus amat tapi suasana hati dan lagunya begitu pas. Rendi masih termenung memikirkan kata-kata terakhir Marsella. Alasan Marsella begitu sedih dan ekspresi Marsella saat mengucapkan kata-kata itu begitu menyentuh dirinya.


Rendi bukan pria lugu, puluhan wanita dari berbagai usia telah dia tiduri pengalaman nya berubah saat pertama kali menapaki dunia kerja dan merambah ke belantara gelapnya dunia malam. Hanya saja dirinya pada suatu titik merasa bosan dan berusaha menggapai kembali jati dirinya yang telah lama dia tinggalkan. Meskipun dia tidak merasa kekurangan wanita jujur dia merasa bahwa Marsella adalah wanita pertama yang dia cintai terlepas dirinya dahulu masih begitu malu saat Marsella mengejarnya namun itu adalah saat pertama Rendi merasa kesederhanaan sebuah cinta.


Ketika Marsella mengatakan sangat mencintai seseorang dan itu bukan dirinya, pikirannya selain kecewa juga bingung. Rendi merasa Marsella selama ini tidak bersama dengan laki-laki lain. Lagipula apa yang membuat pria itu sangat istimewa di hati wanita yang rela mengalirkan air matanya.


"Cinta memang aneh", gumam Rendi sebelum menghisap rokok yang sesekali mencium bibirnya.


Fero terbaring di sebuah bangku di trotoar taman kota di bawah hembusan angin malam rindangnya pohon beringin. Suasana warung tadi agak sedikit merusak ketenangan hatinya. 5 deretan bangku terisi beberapa pasangan, hanya Fero yang nampak egois menguasai bangku dan bisa dimaklumi terkadang nampak ojol melepas penat di situ.

__ADS_1


Karin menemani Marsella berkeliling kota mengamati setiap laki-laki berjaket hijau, berharap menemukan orang yang telah tersakiti. Mau bagaimana lagi Karin juga tidak mengetahui dimana alamat tempat tinggal Fero maupun kontak hp Fero yang aktif. Di tengah penerangan lampu taman yang terkesan redup, Marsella yang menjalankan pelan mobilnya melihat sekilas warna hijau di deretan bangku taman yang terisi berbagai warna dan jelas dia satu-satunya yang berbeda.


Fero yang masih memejamkan mata meskipun tidak benar-benar tertidur dan tidak menyadari sebuah mobil yang berhenti dan mengamatinya dari seberang jalan.


"Rin! Kamu bawa pulang dulu mobilku." Tanpa menunggu jawaban Karin, Marsella segera keluar dan menyeberangi jalan yang tidak terlalu ramai. Beberapa pasang mata yang tadi tidak peduli dengan pria berbaju ojol yang kini terbaring dengan wajah dan mulut tertutup sekarang melihat karena wanita itu sedang berdiri di depannya.


"Mas...."


Fero segera membenahi posisinya menjadi duduk, tangan Marsella masih memegang tangannya namun kali tangan kiri Fero. Fero hanya bisa menundukkan kepala karena rasanya begitu berat untuk dipikirkan.

__ADS_1


"Maafkan Sella mas! Sella tidak tahu kalau dia adikmu...."


Fero bisa mendengar suara itu makin serak dan berat. Fero yang masih dalam posisi menunduk tanpa memandang ke arah Marsella merasakan dilema dalam hatinya. Susah bagi orang seperti dirinya mendengarkan seorang wanita menangis meskipun sakit jika mengingat kejadian yang telah dia lakukan.


'Orang ini....hahhh. Akibat salah berdoa ya begini'


Fero menoleh ke arah Marsella dan berusaha tidak menghiraukan hanya saja air mata itu sangat mengganggunya.


"Kamu sebaikknya pulang!"

__ADS_1


__ADS_2