
Fero sudah berada di depan pagar sebuah rumah, istana mungkin tepatnya jika dilihat dari sudut pandang Fero. Melihat betapa megah dan mewah rumah tersebut membuat perasaan yang setengah jam lalu begitu berdebar dan penuh kehangatan menjadi perasaan malu,minder dan bodoh.
'Hahahahahaha Fero fero, jangan kepedean'
(Mengambil nafas panjang)
"Hahhhhhh semangat kerja jangan mikir hal konyol. Oke!"
Sambil menyemangati dirinya sendiri Fero mengambil hp di saku jaket nya.
"Hallo dokter, saya sudah di depan gerbang rumah dokter sepertinya".
"Tunggu sebentar mas saya keluar"
Mendengar suara Marsella begitu bersemangat sebenarnya membuat Fero merasa bahagia namun ketika matanya kembali menengok kondisi rumah Marsella hatinya kembali menjadi kecil. Terdengar beberapa kali Fero menghela nafas.
__ADS_1
Entah karena sibuk dengan pikirannya atau bagaimana Fero tidak menyadari Marsella sudah berdiri di sampingnya. Karena sedari tadi Fero sibuk menunduk berperang dalam hatinya.
"Hahhh,dokter kaget saya kok bisa tiba-tiba dokter lewat mana...???
Marsella juga sama terkejutnya ketika Fero menunjukkan reflek terkejut yang tiba-tiba dan secara refleks menepuk pundak Fero.
"Ah!!!mas saya jadi kaget juga. Mas ini mikir apa dari saya buka gerbang sampai berdiri di di depan mas tetep nunduk sambil menghela nafas terus?"
Fero segera berdiri sambil menggaruk helmnya yang jelas tidak mungkin gatal."Hahahaha miker apa ya dok?"
Setelah tertawa karena malu mata Fero uang menyipit karena tertawa menatap Marsella dengan jelas. Hatinya bergetar terasa hangat namun ada sedikit rasa nyeri. Fero batuk pelan saat Marsella menunjukkan ekspresi malu karena ditatap begitu dalam oleh Fero.
Marsella adalah wanita kaya tidak terbiasa dengan barang bekas orang lain apalagi jika belum tahu orang yang memakainya bersih apa tidak. Dan sayangnya meskipun Marsella dan keluarganya adalah orang kaya akan tetapi helm merupakan salah satu benda yang tidak dipunyai keluarga Marsella, karena baik orangtua dan Marsella tidak memiliki dan tidak suka naik sepeda motor.
Fero merasa kebingungan ketika Marsella tidak segera mengambil helm tersebut.
__ADS_1
"Mas boleh tidak saya pakai helmnya mas saja. Bukan maksut saya menghina cuma helm itu kan dipakai banyak orang sedangkan punya mas kan cuma dipakai mas saja"
Fero segera melepas helmnya dan ketika menyerahkan helm tersebut sekarang ganti Marsella menatap Fero dengan tatapan penuh makna dan begitu dalam.
Fero tersenyum mengerti perasaan yang disampaikan Marsella melalui tatapan itu karena Fero yakin Marsella memiliki perasaan yang sama dengan dirinya. Namun Fero melirik sekilas ke arah rumah Marsella yang membuat hatinya lebih sadar dan mengerti posisinya. "Dokter silahkan helmnya".
Marsella segera mengambil helm tersebut dan seperti yang Marsella duga helm itu harum. Marsella bisa melihat Fero adalah pria yang sangat menjaga kebersihan.
Fero yang sudah bersiap-siap merasa kebingungan kenapa si dokter tidak segera duduk. Ketika menoleh Fero melihat dokter yang dulu terlihat sangat judes galak dan arogan, sekarang seperti anak kecil yang merasa kebingungan dan malu hanya gara-gara bingung mau duduk di atas motor.
"Dokter belum pernah naik motor?.
Marsella menggangguk sambil menunduk malu.
"Karena dokter memakai rok,dokter harus duduk menyamping susah kalau posisi duduknya seperti saya".
__ADS_1
Marsella kembali menggangguk dan berusaha duduk menyamping. Entah karena malu,grogi ketika menginjak pijakan kaki Marsella tergelincir dan secara refleks berusaha mencari pegangan untuk menyeimbangkan badannya. Fero menahan motor yang bergoncang dan tangan kirinya secara refleks memegang tangan Marsella yang merangkulnya dari belakang.
Ketika kondisi sudah stabil dan Marsella berhasil duduk di atas motor dengan posisi menyamping jantungnya berpacu begitu cepat demikian juga sesosok pria di depannya. Kedua anak manusia di atas dua roda meski di balut kain di tubuhnya, namun semuanya begitu menempel satu sama lain.