Ojol Vs Dokter Angkuh

Ojol Vs Dokter Angkuh
Malam yang Indah


__ADS_3

Malam ini begitu indah, Fero duduk di pinggir jalan seorang diri menghitung perolehan rupiah hari ini. Belum terlalu malam orderan dari pagi mengalir bagai air liur anak bayi terus dan terus. "Baru jam 9 sudah tutup poin, lumayan rame juga seragam baru ku ini."


Di seberang jalan nampak gerai mkanan cepat saji mulai kehilangan pelanggan, satu demi satu pelanggan bisa Fero lihat mulai meninggalkan tempat itu karena memang jam 10 malam tutup. Terlihat satu dua pasangan duduk satu di dalam ruangan ber AC satu lagi memilih duduk di teras depannya.


Fero nampak menyipitkan mata memandang salah satu pasangan yang duduk di depan teras. "Karin!?". Meskipun samar jelas dua sejoli itu sedang tidak baik karena nampak yang wanita seperti sedang menangis sedangkan laki-lakinya terlihat cuek dan hendak meninggalkan tempat duduknya.


Fero terus memandang laki-laki itu pergi meninggalkan wanita itu sendirian dan tetap duduk di atas motornya sampai wanita itu keluar dari resto dan berdiri di pinggir jalan.


Karin bertemu pandang memandang Fero sebelum sempat memencet tombol order di hpnya. Fero melambaikan tangan dan segera menghampiri dan tersenyum lembut." Kalau berkenan saya antarkan mbak ke rumah, gratis, anggap sebagai permintaan saya kemarin".


Tanpa membalas kata-kata Fero Karin tersenyum semanis mungkin menutupi kesedihan yang baru saja dia rasakan dan segera naik ke motor setelah menerima helm yang Fero berikan.


Sepanjang perjalanan keduanya hanya diam. Fero hanya sekali bertanya soal alamat rumah Karin dan Karin hanya berkata sekali memberi tahu alamatnya.

__ADS_1


"Bosmu itu sifatnya kok lucu ya mbak?" Fero mencoba memecahkan suasana.


"Ah, ya mas memang orangnya begitu. Mungkin sudah terbiasa kaya dari lahir jadi kurang mengerti perasaan dan kehidupan orang di bawahnya."


Fero berhasil memancing obrolan yang membuat Karin sedikit melupakan masalah yang baru saja terjadi.


"Bruakkk,,sitttttt!!!"


"Astagaaa massssss!!!!!"Spontan Karin memeluk Fero. Sementara Fero berusaha mengendalikan motornya karena baru saja melewati jalan yang berlubang cukup dalam yang tak dilihatnya karena asik mengobrol sehingga sesekali kepalanya harus menoleh ke belakang agar suara Karin terdengar jelas.


"Eeeeh, maaf mas aku dak sengaja."


Karin melepas pelukannya dengan wajah malu tapi tidak memungkiri perasaan nyaman sesaat yang dia rasakan.

__ADS_1


Fero hanya mengangguk pelan tapi pikirannya bercampur aduk karena ini adalah pengalaman pertama ada lawan jenis yang memeluknya meskipun itu tentu tidak sengaja. Dan Fero baru mengetahui ternyata badan wanita selain adik dan ibunya mampu membuat dirinya seperti terkena aliran listrik voltage rendah. Semacam ada kekenyalan yang nyata.


Seluruh aliran darah Fero dari kepala sampai kaki menjadi cepat sehingga membuat suhu tubuhnya terasa panas. Fero berusaha mengendalikan pertengkaran dalam batinnya.


"Ah!itu rumahku mas ada gapura belok ke kiri." Kata-kata Karin seketika mampu meredam gejolak yang terus terjadi di batin Fero.


"Siap mbak."


"Mas mampir dulu biar badannya hangat."


Karin berusaha mempersilahkan Fero masuk sambil berusaha menutupi rasa canggung diantara keduanya ketika bertatap mata.


"Makasih mbak,lain kali saya mampir, sekarang saya balik saja dak baik sudah malam." Dari balik penutup wajah mata Fero berusaha menunjukkan dirinya tersenyum. '...Wanita ini menurutku manis sekali, Ah tahan-tahan kamu ini bukan suka tapi nafsu!fuihhhh...'

__ADS_1


"Masss!!" hardik Karin sambil memegang bahu Fero karena dari tadi Fero menggeleng-gelengkan kepala.


__ADS_2