
Rasa lelah karena kurang tidur seolah menghilang dari diri Marsella. Sehabis pertemuannya dengan Fero kini dirinya disibukkan dengan banyaknya pasien di kliniknya. Perasaan bahagia ternyata mampu memberikan tenaga baru yang tiba-tiba saja muncul. Selain itu, Marsella juga merasa kasihan melihat Karin dan kawan-kawan sehingga pikirannya akan Fero sesaat teralihkan.
"Dokter nanti pulang apa diantar kak Fero?" Celetuk Karin tiba-tiba membuyarkan fokus Marsella mempelajari kartu pasien."Kalau memang iya, saya nanti biar pesan ojek lain."
Marsella diam memandang Karin, bingung harus menjawab bagaimana. Marsella juga wanita jadi paham betul arti pertanyaan Karin.
" Begini saja Rin,kamu nanti kan pulang jam 4. Kamu seperti biasa sama mas nanti aku bisa minta tolong mas habis mengantar kamu."
"Eh!jangan dokter dak papa saya bisa kok pesan ojek lain!"
"Kamu duduk lah dulu!"Marsella memasang wajah serius kali ini seperti biasanya. "Aku sudah tidak muda lagi Rin. Terus terang hatiku saat ini milik mas. Setiap saat hanya wajahnya dipikiranku. Kuharap kamu memahami. Andai mas tidak menunjukkan perasaan yang sama tentu kamu mengerti sebagai wanita, aku juga tak akan sejujur ini padamu. Meskipun kami tidak saling mengucapkan tapi apa yang kusampaikan ini bukan karena perasaan sebelah pihak saja."
Karin mematung mendengar ucapan Marsella, tidak disangka orang di depannya begitu saja menyampaikan perasaannya.
"Aku juga minta maaf. Aku bukan tipe wanita perebut, sebelum kupastikan perasaanku pada seseorang, aku selalu memastikan bahwa orang itu tidak memiliki hubungan dengan wanita lain."
Karin masih dengan ekspresi diam karena kesulitan menjawab pertanyaan Marsella.
"Kamu bisa memastikan sendiri ke Mas. Apabila yang kusampaikan ini ternyata salah karena mungkin aku terlalu kepedean kamu bisa sampaikan kepadaku dan aku akan menghapus perasaanku." Marsella diam sejenak mengamati Karin yang sedari tadi diam." Kuharap hal ini tidak mempengaruhi hubungan kita di pekerjaan, karena kamu juga harusnya menunggu seseorang yang sedang berjuang untukmu bukan?"
__ADS_1
Karin terperangah mendengar pernyataan terakhir Marsella. Kata-kata itu seperti seolah menyadarkannya dan sesaat wajah pria yang selama ini selalu menemaninya melintas di pikirannya. " Baik dokter!Sepertinya benar apa yang dokter katakan. Kalau begitu saya siap-siap untuk pulang."
Marsella tersenyum memandang ke Karin, " Mungkin Mas sudah di depan menunggumu."
Karin mengangguk tersenyum, " Iya dokter, saya pamit dulu."
"Oke Rin"
Marsella kemudian mengambil Hp di depannya. Terlihat beberapa kali panggilan tak terjawab maupun wa dari Rendi maupun ayahnya.
" Hallo Pi! Aku di klinik."
"Sudah dak papa sudah baikan klinik rame banget soalnya."
"Dak usah nanti aku naik ojek lagi saja. Dah dulu ya Pi."
(Pesan Wa)
" Maaf Rend aku sibuk banget klinik ramai sekali."
__ADS_1
Fero sudah menunggu di depan klinik. Sesekali dilihat Hpnya menunggu balasan wa Karin. Nampak berdering Hpnya dan segera diangkat telpon itu dengan antusias.
"Mas! nanti habis nganter Karin bisa ndak ngantar aku pulang?"
" Aku berharap setiap hari mengantarmu."
"Yaudah jangan ngegombal mas antar Karin dulu"
Di seberang telepon Marsella tersipu malu sementara Fero merasakan hal serupa saat Karin keluar dari pintu kaca.
"Maaf Kak tadi sekalian mandi di klinik jadi dak pegang Hp."
Melihat Karin masih dengan sikap ceria seperti biasanya membuat Fero merasa sedikit lega.
"Wokedoke Rin! Abang ojek siap mengantarkan nih."
Karin segera duduk namun kali ini Fero bisa melihat tangan Karin tidak seperti biasanya. Karin sekarang tidak lagi memegang pinggang Fero. Sikap Karin ini justru membuat beban hati Fero merasa plong. Tentu berat baginya jika harus menyampaikan penolakan.
"Siap Rin?"
__ADS_1
"Gasss Kak!"