
Marsella dan Karin meninggalkan tempat makan tersebut. Pesanan telah mereka bungkus dan kini Marsella dengan wajah pucat dan lemas mengarahkan mobilnya menuju ke klinik. Sementara itu Rendi yang baru datang terlambat karena beberapa halangan hanya celingukan mencari Marsella di lokasi mereka janjian bertemu.
Karin hanya diam tak berani berbicara. Pikirannya merasa iba kepada Fero. Sosok laki-laki itu menjadi sesuatu yang sangat berkesan didirinya meskipun dia tau Fero tidak menaruh hati padanya. Seorang lelaki yang begitu rupawan dan masih bisa tersenyum atas hinaan yang dia tidak lakukan adalah sesuatu yang sungguh sangat jarang terjadi.
Karin menoleh ke Marsella karena sayup-sayup mendengar dokternya seperti memanggil namanya.
"Dokter?"
__ADS_1
Terlihat senyum sedih di wajahnya dan tanpa menoleh ke Karin, bibir tipis itu mulai terbuka, " Rin aku benar-benar mencintainya Rin kamu tau?"
Suara pelan itu entah mengapa terdengar begitu menyayat hati. Karin bisa melihat bagaimana air mata mulai mengalir pelan dari sudut mata Marsella. Sebagai wanita Karin mengerti perasaan itu tapi sifat bos nya tadi rasanya sulit untuk bisa dimaafkan apalagi untuk kembali merajut sebuah hubungan.
"Aku sangat mencintainya Rin, aku menyesal..."
Marsella tidak mampu lagi menahan derasnya air mata yang tak henti mengalir dari kepedihan dan penyesalan atas perbuatannya. Rasanya kaca mobil di depannya nampak seperti wajah Fero yang tersenyum saat dirinya menghinanya di depan umum. Tangan itu sekarang seperti auto pilot yang otomatis bergerak mengoperasikan mobil mini tersebut sementara mata dan pikirannya benar-benar di tempat lain.
__ADS_1
Di lain tempat kini Fero sedang asik duduk bersama teman-teman ojol yang lain. Moment tadi merupakan sesuatu yang tentu menyedihkan tapi tidak tau mengapa Fero justru merasa lega. Perasaan ini kurang lebih sama saat Annisa dulu tidak memilihnya dan sekarang berulang orang yang kemarin di hatinya namun melihat sikap tidak senang orang tuanya tentu hubungan itu akan menjadi kesia-siaan. Dan sekarang Fero merasa beban atas perasaan itu hilang.
Memang sekilas masih terbayang saat-saat romantis menurut Fero bersama Marsella yang tidak lama. Tapi memberikan ciuman ke seorang wanita dan pertama kali dia lakukan bukan sesuatu hal yang bisa dengan mudahnya dia obral. Hatinya sungguh mengharapkan seandainya boleh dia ingin bersama wanita tersebut, sikap kasarnya memang bermasalah tapi Fero justru ingin semakin dekat dengannya. Saat Fero terhenti memikirkan Marsella karena muncul wajah tidak senang orang tuanya yang kaya raya itu seseorang dari kerumunan ojek itu menyarankan sesuatu.
"Mumpung orderan lagi sepi enak kalau kita ke pantai atau kemana gitu buat ngadem otak. Ada yang mau nggak?"
Dan akhirnya sebagian dari mereka memilih untuk pergi jalan-jalan dan sebagian lagi tetap memilih untuk mencari rejeki. Dan Fero tidak memilih keduanya dia matikan hpnya dan sekarang mencoba menikmati angin sepoi di pinggiran warung dan mencoba meminum pahitnya kopi mesti dirinya bisa dikatakan amat sangat jarang dengan minuman kopi.
__ADS_1
Matanya melihat jauh ke arah persawahan yang mulai menguning dan kopi di sebelahnya cemberut karena dingin. Padi yang menguning kini melambai-lambai seakan tersenyum ke arah Fero yang memandangnya.
"Hari ini indah sekali Tuhan. Terimakasih."