
Waktu seakan berhenti saat Fero mulai keluar dari kegelapan. Warung nasi goreng yang sudah terang karena lampu kini semakin terang saat wajah Fero mulai jelas tergambar di setiap mata dan hati khususnya wanita, baik muda maupun tua yang mudah tergoda oleh keindahan.
Fero memang sengaja membuka penutup mulutnya, hatinya dia kuatkan otaknya dia matikan seolah pandangan mereka bukan lagi menjadi masalah. Tapi tetap saja meskipun sekuat-kuatnya berpura-pura dan seakan tak melihat hatinya tetap tergetar saat samar satu wajah yang terbiasa tegar kini mulai nampak mengalir lembut cairan hangat dari ujung matanya.
Fero mengalihkan fokusnya ke arah karyawan yang masih memegang bungkusan pesanan untuknya.
"Pesanan Fero ya mas?Makasih ya!"
Setelah mengucapkan terimakasih Fero segera berpaling dan tetap berpura-pura seolah tidak mengetahui kehadiran Marsella. Dirinya bersikap seolah tergesa-gesa segera mengantarkan pesanan makanan ke pelanggan.
Saat sosok Fero telah menghilang seakan waktu di dalam warung kembali seperti semula.
__ADS_1
"Biuh,biuh dik lihat ojol tadi wajahnya bener-bener cocok sama kamu."
Istri Mas Didik mengiyakan pernyataan Mas Didik, "Ganteng mirip artis korea Lee Min Ho hehehe."
Mas Didik hanya setuju dengan kata-kata istrinya mengingat dirinya juga dak kenal siapa Lee Min Ho.
Mau kamu tak doain berjodoh sama si ojol tadi?Ingat doa masmu mujarab lo soal perjodohan tapi itu kalau kamu suka orangnya dan kalau dia belum punya pasangn juga lo." kata mas Didik sembari berbalik ke arah Marsella dengan muka cengengesan tapi segera terdiam saat melihat air mata Marsella yang berlinang.
Dokter Laksmi memberi kode tangan di bibir yang segera dipahami mas Didik dan terlihat dokter Kusbandono membuang muka menanggapi hal tersebut.
Rengek Marsella pelan saat tangan dokter Laksmi menahannya untuk pergi dan dokter Laksmi tidak lagi mampu melihat wajah sedih anaknya melepaskan pegangannya.
__ADS_1
"Mas punyaku di bungkus saja biar dibawa mami."
Mas Didik hanya celingukan memandang ke Marsella kemudian istrinya kemudian ke arah dokter Laksmi. Sambil menggaruk perut tambunnya mas Didik bisa sedikit memahami ke arah mana kisah ini.
Fero begitu pelan menjalankan motornya, pikirannya masih terbayang wajah samar Marsella. Meskipun tidak secara langsung menatap titik sudut matanya masih menangkap kesedihan di wajah wanita itu.
'Kuatkan hatimu kawan dia bukan untukmu."
Marsella segera melaju dengan cepat berharap bisa mengejar laki-laki yang tiba-tiba menghilang dari hidupnya. Dua kali dia melihat Fero namun Fero seolah tidak mengetahui keberadaan dirinya. Marsella menginginkan penjelasan darinya.
"Kenapa kamu mas, apa salahku coba?"
__ADS_1
Menyusuri jalan yang mulai sepi Marsella mengelilingi hampir semua sudut kota tersebut. Tiap ojol baik yang sedang nongkrong maupun yang ada di jalan dilihatnya berharap orang tersebut adalah kekasihnya. Pikirannya semakin kacau, rasa letih karena belum beristirahat selepas kerja ditambah beban pikirannya yang semakin berat membuatnya menyerah dan memilih untuk pulang saat dilihat waktu menunjukkan pukul 12 malam lewat.
Marsella berhenti karena lampu lalu lintas berwarna merah. Dirinya tersenyum melihat beberapa pengendara motor terlihat berpasangan. Iri dalam hatinya memandang kondisi tersebut, dirinya yang berkecukupan ternyata tidak sebahagia mereka dalam memiliki sebuah hubungan. Angannya teringat bagaimana saat pertama naik motor bersama Fero dan pipi yang mengering kembali berair.