
Wuuusshhhhh!
Rambut Karin yang tebal melambai-lambai diterjang hembusan angin laut. Karin berdiri diam memandang jauh ke arah lautan lepas sementara Fero duduk di samping belakang Karin di pasir pantai. Fero mengamati Karin mulai dari atas sampai bawah. Jiwa lelaki-lakian Fero bergetar melihat betapa sempurnanya baik paras maupun tubuh Karin. Celana jeans menunjukkan lekuk tubuh yang membuat Fero bergidik nikmat. Ukuran,diameter bentuk kepadatan antara pantat dan belahan dada Karin sungguh imbang,dan Fero bisa melihat bulu2 hitam di lengan Karin yang seputih susu.
Perasaan baru bernama nafsu rupanya telah muncul pada penyendiri yang tak lagi bisa dianggap muda ini.
"Lihat apa sih kak?Malu tahu diliatin kayak begitu." hardik Karin membuyarkan imajinasi liar yang baru tumbuh di dirinya itu.
Menanggapi hal itu Fero hanya tersenyum hangat ke arah Karin sambil menggelengkan kepala.
Karin berjalan mendekati Fero dan kemudian duduk di sebelah Fero, " Kak boleh ndak aku..?". Karin memandang ke arah Fero begitu dekat dan kedua wajah lawan jenis itu hanya terpisah beberapa cm.
__ADS_1
"Rin,sebaiknya kamu coba ceritakan apa yang ada benakmu. Siapa tau bisa sedikit meringankan beban hatimu" Fero mencoba mengalihkan suasana yang walaupun Fero belum pernah melakukannya tapi pasti akan terjadi jika dia mengikuti setan di hatinya.
Mendengar pernyataan itu Karin menoleh memandang ke laut lagi dan tersenyum,"Kak Fero sepertinya mengerti ya?"
"Sedikit mengerti, hanya saja tidak tahu pastinya,tapi sepertinya kamu terlihat sedih meskipun berusaha sebisa mungkin tersenyum".Fero menjawab pertanyaan Karin dengan tetap memandang wajah Karin.
Dalam hati Fero begejolak sisi iblis yang baru muncul seperti mendorongnya untuk mengambil kesempatan di depan mata ini namun sisi baiknya menahan dan menegaskan bahwa dia butuh seseorang yang benar-benar mampu menggoyahkan hatinya untuk sekali dan selamanya bukan seperti saat ini yang didominasi nafsu.
"Trus masalahnya apa" jawab Fero sambil mengontrol tekanan di bawah celananya yang mulai gelisah.
"Masalahnya cita-citanya bekerja di pelayaran dan kerja di tempat seperti itu memang bear pendapatannya tapi waktu untuk bersama jelas tidak lagi seperti dulu. Apalagi temanku yang juga teman Johni yang lebih dulu berlayar setelah setahun berlayar rumah tangga mereka berakhir dengan perceraian." Karin bercerita tanpa dia sadari air matanya mengalir dan membasahi pundak Fero.
__ADS_1
Fero merasa pundaknya tiba-tiba hangat dan secara reflek tangannya mulai membelai rambut Karin seperti saat dirinya menenangkan Friska adiknya saat menangis.
Diperlakukan seperti itu Karin mendongakkan kepalanya ke arah Fero. Fero langsung menelan ludahnya secara berlahan saat wajah cantik berlinang air mata dan terlihat manja itu menatapnya. Sangat sulit karena selain ini pengalaman baru,tapi begitu membuat tubuhnya panas membara. Saat bibir Karin sedikit demi sedikit naik mendekati bibirnya tiba-tiba terlintas wajah seseorang yang meskipun terkesan angkuh namun membuat Fero merasa rindu dan bersalah dengan kondisinya saat ini. Fero kemudian memegang kedua bahu Karin dan dengan lembut mendorong menjauh" Rin,kasian kekasihmu. Kamu harus sabar menunggu meski bagaimana dia juga baru saja pergi itu juga demi masa depan kalian. Jadi bersabarlah."
Fero kemudian berdiri dan Karin tetap duduk memandang ke arah laki-laki tinggi itu.
"Ayok kita pulang."
Fero menunduk dan tersenyum hangat memandang Karin yang masih diam membatu.
Kemudian Karin membalas senyuman itu seperti mengerti dan menghormati tindakan Fero.
__ADS_1