
Fero termenung sejenak di depan tempat kerja ibunya. Dipandangnya ponsel di tangan setelah punggung tua wanita paling dihormati nya berbaur dengan sesama pekerja.
Fero menatap ponsel beberapa saat, sudut pandangnya fokus pada kolom Wa bernama Marsella. Masih belum ada pesan atau panggilan sejak tadi pagi.
"Pacar?Sayang? Kok ada orang semaunya seperti ini. Sekarang berubah jadi apalagi coba?!"
Masih asik-asiknya berbincang dengan pikirannya, nampak Ibundanya berjalan pelan mendekatinya dengan membawa sesuatu.
"Buat apa ini Mi?"
Bu Rosida tersenyum tipis ke arah Fero.
"Bekal."
"Lah! Tadi kan udah sarapan di rumah?!"
"Buat calon menantu Mami." Kata Bu Rosida sambil menahan tawa.
__ADS_1
"Hahahahahaha!! Apalagi coba ini? Menantu?!"
'Ya,ya,ya!!! Pacar, sayang, menantu. Hahahahaha.'
Setelah bercanda dengan diri sendiri, Fero akhirnya pamit untuk kedua kali kepada ibunya yang masih bengong melihat tingkah laku aneh putranya. Bu Rosida merasa iba terhadap anaknya itu.
Fero melaju santai menyisir jalan menuju ke arah klinik Marsella. Sesekali Fero bersenandung beberapa lagu yang tiba-tiba muncul di benaknya. Dalam hati Fero tertawa melihat tingkahnya. Teringat saat-saat dirinya yang masih bocah bersepeda seorang diri berteman sepi dan sering bernyanyi dalam hati melintasi jalan kampung yang tak pernah peduli.
Namun berbeda kali ini, sepasang mata lentik dengan ekspresi berubah-ubah mengawasi dari mobil mungil. Beberapa saat lalu Marsella yang mampu melepaskan diri dari Rendi dengan berbagai siasat dan alasan. Sementara emosi dirinya belum stabil mengingat pertama Fero tidak kunjung menghubunginya. Kedua kedatangan Rendi justru memperkeruh suasana hatinya. Dan Ketiga ternyata orang yang sejak tadi ditunggu justru malah dengan santainya geleng-geleng kepala sepanjang jalan. Dengan emosi tertahan Marsella terus membuntuti Fero sementara Fero masih belum sadar dan semakin asik dengan musik tersenandung setengah berbisik.
Kerutan di dahi Marsella semakin bertambah, sementara otaknya dipenuhi diskusi antara duplikasi.
'Tidak..tidak! Apa karena? Seperti katanya belum pernah pacaran? Jadi kurang peka?'
'Halah!!! Mana mungkin wajah begitu kagak pernah pacaran?'
'Tapi.....Kalau dipikir lagi ciumannya masih buruk?! Hemmmm.'
__ADS_1
Fero berbelok pelan ke kiri menaiki trotoar deretan ruko yang mulai menunjukkan aktifitasnya. Marsella terkejut dan mengerem mendadak saat tak terduga melewati Fero yang tiba-tiba berbelok.
Fero tidak memperdulikan suara gaduh rem maupun marah orang di belakang. Mata dan pikirannya hanya fokus memandang ke arah klinik di depannya. Kepalanya celingak-celinguk melihat mobil pemilik klinik yang belum berada di tempat.
"Baik!Kalau bapak mau ganti rugi mari ke klinik saya kita bicara. Dak usah pake nyolot!"
Laki-laki berjenggot besar itu melotot ke arah Marsella. "Nyolot!! Sudah salah malah KAU yang galak. Dasar Betina tidak tau aturan. Untung kau wanita kalau tidak sudah Hancur rahangmu... Cuihhhhhhh!"
Ludah itu hampir mengenai Marsella sontak membuatnya jijik dan menyulut emosi padahal dia sadar kali ini sebenarnya dia yang salah. Saat bersiap-siap menyusun kata terkotor dan terburuk yang pernah dia pelajari. Seseorang dari belakang meremas pelan pundak kanan tertutup Blazer berwarna navy.
"Appa...appaaa....an..."
Emosi Marsella seakan sirna melihat wajah orang yang memegang pundaknya. Fero tersenyum memandang Marsella sambil menggeleng kemudian menunduk ke arah bapak berjenggot lebat menunjukkan permintaan maaf.
"Mohon maafkan pacar saya sudah menabrak motor Bapak. Bisakah kita minggir dulu Pak? Kita selesaikan secara kekeluargaan."
Entah mengapa ucapan dan ekspresi Fero membuat orang tua itu malas berdebat dan memilih pergi tanpa peduli bagian belakang motornya yang peyok lagi.
__ADS_1
"Ajari pacarmu SOPAN SANTUN!" Katanya untuk terakhir kali sebelum benar-benar pergi.