
"Slurpppp,ahhh."
Mulut Fero nampak menikmati kopi buatan ibunya. Meskipun nampak di luar masih gelap karena memang jam dinding saja enggan untuk bangun, ya sekarang jam setengah 5 pagi. Tapi Fero si tamvan sudah terlihat lebih tamvan karena mandi membuat kulitnya lebih bersinar.
"Pi,mami berangkat dulu."
"Hegghhh.", jawab pria tua yang matanya masih terpejam dan masih asik bercinta dengan guling kesayangan. Fero segera beranjak keluar diikuti ibunya. Ibu Fero bekerja di salah satu katering di kota tersebut, tapi hari ini berangkat lebih pagi karena ada pesanan dalam jumlah banyak sehingga mau dak mau pekerjaan harus dimulai lebih awal. Dan Fero berencana narik pagi demi membalas kan dendam orderan kemaren yang sepi.
Sehabis mengantar ibunya Fero segera menghidupkan aplikasi di hpnya. Matanya terbelalak kaget melihat tulisan Putus Mitra(PM) yang nampak jelas di layar hpnya. Satu detik pertama masih melihat layar hp, dua detik kemudian masih melihat layar hp dan detik ketiga nampak kebingungan yang amat sangat di otaknya.
"Jancikkkk!!Kok bisa kena PM kenapa ini???"
"...Fiuhhh tenang Fero tenang, berpikir dengan kepala dingin...", batin Fero sambil seolah dirinya mengumpulkan tenaga dalam seperti ahli beladiri. Kemudian kembali ke laptop eh ke HP. Diamatinya satu persatu tools di aplikasi tersebut. Ketika matanya jatuh pada kolom komentar seketika amarah yang mungkin pernah dia keluarkan tak kala dulu adiknya Friska digoda dan dilecehkan laki-laki kurang ajar, muncul kembali. Dalam komentar sekaligus berbintang satu itu tertulis bahwa, "Driver kurang sopan santun, lama dalam mengantar pesanan, sekaligus bersikap melecehkan wanita."
__ADS_1
"Kurang sopan?Melecehkan wanita??"
"Kurang sopan???Melecehkan wanita???Hahhh????"
Kurang aja siapa ini yang komen asal nyeplos kayak gini?"
Fero langsung mengamati petunjuk waktu kapan komen itu dikirim. Terlihat di pojok bawah komentar ada tulisan dikirim 11 jam yang lalu.
"Shittttt...Masih tutup lupa kalau masih pagi, assemm bener."
Sekilas sebelum berbelok pergi Fero melihat klinik tersebut dengan emosi.
"Pagi bener lu narik bro?", Sapa Joko salah satu penghuni rusun yang juga berprofesi menjadi ojol. "Eh!!Mas Joko, iy mas rencana tadi nganterin nyokap tapi apes mas Jok ane kena PM."
__ADS_1
"Lah kok bisa?"
"Iy mas Jok ada yang kasih bintang satu plus komen kayak gini nih!"
Sambil menunjukkan ke Joko.
"Sabar,sabar daftar aplikator sebelah dulu biar segera dapet pemasukan buat dapur cuy, trus kalau lu tau kira-kira yang kasih komen kayak gitu siapa ntar anak-anak biar bantuin lu ngadepin tu orang."
"Iya bang ini rencana juga balik mau ngambil keperluan buat daftar, masalah ngadepin tu orang biar saya sendiri bang makasih...Naik dulu bang."
Langkah kaki Fero begitu berat meski hanya menaiki anak tangga yang biasanya sering di lewati.
Pintu rumah sudah dibuka nampak papinya sudah bangun dan sibuk mengurus burung peliharaanya. Kedua orang tua dan anak ini memang jarang berkomunikasi, bisa dikatakan saat ini bahkan tidak pernah. Sebagai anak Fero selalu berdoa tentang kesehatan dan hal baik lain untuk ayahnya, meski bagaimanapun dia ayahnya. Tapi untuk berkomunikasi bisa dikatakan Fero sudah malas, mengingat perangai ayahnya yang keras dan seringkalai berkata kotor apabila berdebat dengannya dahulu kala. Usia ayahnya telah senja dan kemungkinan berkata kasar tidak seperti dulu, karena ayahnya juga tahu bahwa dirinya sekarang hidup dari hasil kerja anak laki-laki dan istrinya, namun demikian Fero tetap memilih diam.
__ADS_1