
Andai jalanan tidak sepi mungkin Fero akan mati tertabrak sebanyak 9 kali. Bagaimana tidak, di mata dan pikirannya hanya terbayang adegan ciumannya dengan Marsella. Diputarnya berulang-ulang adegan itu sambil tertawa cekikikan sepanjang jalan. Kepalanya kadang miring ke kanan kadang ke kiri. Mencoba mempelajari tiap inci kesalahannya tadi. Mereka ulang tiap adegan dalam fantasi. Agar kelak jika terjadi lagi semakin ahli.
"YA TUHAN SUNGGUH INDAH KEHIDUPANMUUUUU!!!", teriak lantang Fero dengan kedua tangan membentang menyebabkan motor hampir terlentang di jalan yang sepi dan tenang.
Sesampai di rusunawa Fero segera berlari menapaki anak tangga yang tidak pernah dikejutkan dengan hentakkan langkah kaki penuh nada, seperti kali ini. Biasanya hanya langkah lesu yang bahkan tak mampu mengusir debu yang terbaring dulu di situ.
Setelah ritual pembersihan diri dan meneliti sela gigi lidah dan gusi, Fero mengulang kembali mengamati salah satu aset tertinggi yang dia miliki yaitu pancaran sinar kemilau gigi yang baru pertama kali bersilat-turahmi.
"Hah!Haaahhh!Hahhh.Xixixixixixi", tawa Fero setelah mengecek kondisi bau mulutnya.
Fero segera menggelar kasur multifungsi dan melucuti pakaian dinas berganti kolor tim sepakbola juara 5 kali piala dunia. Dinginnya malam ternyata belum mampu memadamkan kobaran api asmara di tubuhnya. Fero tidur tanpa kaos kali ini. Setelah terbaring sempurna diambilnya ponsel buatan Cina. Terpampang nyata rentetan Wa ucapan cinta dari dokter SpKK.
"Kalau udah sampai jangan lupa WA ya"
"Met Bobo Sayangku"
__ADS_1
"Terimakasih atas kebahagiaan yang kau berikan padaku hari ini"
"Bla..bla
blaaa.. dst.
Setengah jam Fero berpikir kata apa yang pantas dia kirimkan tapi pada akhirnya hanya emoticon senyum yang dia pilih sebelum matanya semakin pipih.
Marsella bangun pagi kali ini. Tanpa peduli bekas liur di pipi diambil ponsel berteknologi tinggi. Sederetan pesan WA saling mengantri mulai dari Mami,Papi,Aldi sampai Rendi. Namun hanya satu nama mata tertuju, kepada dia yang dalam beberapa hari berganti profesi, Abang Ojol->Mas Fero->CintaQ.
Marsella mengerutkan dahi dan segera memberondong Fero dengan rententan WA penuh tanda tanya. Dikala serangan WA ponsel Amerika menyerang hp Cina, si empu ponsel masih terlelap dalam indah mimpinya. Tiba-tiba matanya terpaksa dibuka takkala terasa sesuatu membasahi kolornya.
"Emmm!!."
Fero bergidik nikmat, rasa yang baru pertama kali dikenal nya.
__ADS_1
'Apa ini?",batinnya masih dalam kondisi setengah sadar.
Fero meraba selakangannya saat dirasa sesuatu berlendir dan seketika pikirannya tersadar dan melonjak cepat ke arah kamar mandi.
Mendengar suara orang mandi Bu Rosida terbangun dari tidurnya. Di buka nya pintu kamar tidur yang hanya berjarak satu meter dari kamar mandi. Tangan tua itu secara insting langsung menuju dapur membuat sesuatu yang hangat untuk putranya.
"Mau berangkat pagi Kak?"Tumben pagi banget?Nanti mami berangkat jam 7 seperti biasanya."
"Ummmm,,yhaa mmmii. Akhu narik hhbbis nggannter mmmami. Harrggg cccuhhh. Seperti biasa, ini cuma pengen mandi pagi saja Mi." Fero meletakkan sikat giginya dan sambil tertawa dalam hati menatap wajahnya di cermin.
Bu Rosida menatap pintu kamar mandi dan sekarang matanya beralih ke sumber suara di atas kasur setebal 5 centimeter.
"Siapa Kak pagi-pagi begini telepon?Jangan-jangan adikmu?Mami angkat ya takutnya Friska ada apa-apa?"
Baru saja Bu Rosida melangkah Fero seperti orang kesetanan keluar kamar mandi hanya memakai handuk sambil menatap cengengesan ke arah ibunya yang di kejutkan tingkah putranya.
__ADS_1
"Biar aku saja Mi?Mana mungkin si Bawel telpon pagi begini. Hahahahaha."