Ojol Vs Dokter Angkuh

Ojol Vs Dokter Angkuh
Sendiri


__ADS_3

Marsella yang telah sampai di rumah sekarang duduk termenung di ruang tamu rumah berukuran besar itu. Bisa dibayangkan betapa sepi rumah itu karena ayah dan ibunya menjenguk adiknya Aldi yang sedang kuliah kedokteran di kota lain. Dalam 2-3 hari Marsella tentu akan sendiri ditambah sekarang hatinya terasa sepi orang yang dia cintai menghilang bak ditelan bumi.


'Kemana kamu mas!'


Emosinya yang meledak ledak di rumah makan tadi sekarang berangsur menjadi perasaan sedih. Kembali dirinya terkenang masa lalu. Seperti saat-saat SMA, kenapa dirinya yang selalu jatuh hati dulu ke setiap lelaki dan kenapa setiap lelaki yang di sukai tidak ada satu pun yang membalasa rasa cintanya. Mengingat itu Marsella merasa bodoh, bahkan dengan status dan kekayaan ayahnya setidaknya minimal ada lelaki matre yang berpura-pura mencintainya. Namun faktanya semua laki-laki itu seolah justru hanya seperti lalat yang hinggap sesaat dikotoran. Bahkan jika sekarang dirinya mencintai seorang tukang ojek bukan berarti dirinya merendahkan profesi itu, memang secara fisik dia merasakan rasa yang sangat berdebar-debar yang dia yakini itu cinta. Namun ada alasan tersembunyi lain yang membuat dirinya lebih percaya diri karena tentu ketidaksuciannya akan menjadi masalah saat dirinya bertemu dan menjalin hubungan dengan pria berstatus sama atau ketakutan akan diungkit oleh pasangannya dikemudian hari. Dan ketika bertemu Fero, Marsella menjadi percaya diri setidaknya ketidaksuciannya bisa dia tukar dan tutupi dengan kekayaannya melihat Fero yang hanya tukang ojek.


Tapi sekarang saat Fero tiba-tiba menghilang rasanya seperti ada yang salah dengan dirinya. Teringat bagaimana Fero memperlakukannya, bagaimana Fero bersikap atau bahkan saat menyentuh bibirnya, rasanya seperti itulah cinta seharusnya dan baru kali ini Marsella merasakan begitu lembut seorang lelaki memperlakukan dirinya.


Saat pikirannya terbang kemana-mana sebuah pesan masuk mengejutkannya dan segera diraih ponsel di atas meja yang sedari tadi rindu dipegang pemiliknya. Agak sedikit rautan kecewa nampak di wajah namun kemudian tersenyum tipis dan segera membalas pesan masuk tersebut.


'Mungkin besok Rend, nanti ku wa kalau sudah selesai dengan kerjaan ya!"

__ADS_1


Kemudian Marsella kembali meletakkan ponselnya dan merebahkan tubuhnya di sofa.


Fero dengan santai merebahkan diri memandang ke arah televisi sementara adiknya duduk di kursi tepat dibelakangnya sambil sesekali mengomentari sinetron yang ditontonnya. Sementara ibu Rosida menggoreng camilan untuk anak-anaknya.


"Kak!Besok trus gimana kakak ngojeknya?"


Masih dengan tangan di belakang kepala Fero dengan santai menjawab pertanyaan adiknya, "Yah besok beli hp baru lah gitu aja repot!"


Fero masih dalam posisi semula, "Itukan uang buat bayar semestermu kakak pakai dulu saja wkwkwkwkw."


Muka Friska seketika menjadi pucat mendengar jawaban santai kakaknya.

__ADS_1


"Lo lo lo Kak! Kan Friska minggu depan bayar semester trus gimana?


"Adik tenang mami kan ada tabungan. Jangan kuatir soal uang semester."


Friska menoleh ke arah ibunya yang berjalan ke arah kamar tidur memberikan camilan ke suaminya terlebih dahulu kemudian berjalan ke arah Friska dan meletakkan camilan hasil kreasinya di lantai di belakang kepala Fero. Fero yang mencium aroma sedap memutar kepala dan masih dalam posisi tidur mengambil camilan tersebut. Sambil makan Fero melihat adiknya yang memiliki wajah begitu indah.


"Si bawel emang selalu mikirin dirinya sendiri tu mi hahahaha. Kakak sama mami berusaha memikirkan biayamu kuliahmu sampai sekarang baru dengar kakak mau beli hp sudah kebakaran tu mulut. Sifatmu seperti Mar...Eh!"


Fero tidak meneruskan ucapannya dan kembali menoleh ke arah televisi di depannya.


Sementara Friska dan ibunya saling pandang.

__ADS_1


__ADS_2