Ojol Vs Dokter Angkuh

Ojol Vs Dokter Angkuh
Ketahuan


__ADS_3

Bu Rosida menatap punggung telanjang anaknya yang tinggi menjulang. Fero memang tinggi jelas bukan DNA ibunya jika mengenai tinggi badannya. Fero mendapatkan DNA tinggi badan dari silsilah ayahnya yang katanya kakek buyutnya ada yang pernah dititipi benih sama kompeni. Makanya selain tinggi badan Fero memiliki kelebihan lain pada selang pompanya yang besar tebal serta kemungkinan memiliki kelincahan ala Asia.


Fero menunduk seperti berbisik, "Iya!


maaf mas baru mandi."


"Mas sayang aku tidak sebenarnya?"


Fero makin mengecilkan suaranya, "Iyah."


"Kok cuma iya saja dari tadi?Jadi semalam Sella mas anggap apa?"


'Ya Tuhan.... Orang iniiii...' Bathin Fero meronta. Fero tersenyum sebelum kembali menjawab telepon Sella.


"Seseorang yang telah mengisi hatiku."


"Kalau begitu mas sayang kan sama Sella?"


Suara itu makin meninggi membuat Fero menggaruk kepalanya, "Iya"


"Iya,iya,iya dari tadi iya,iya terus. Sekarang kalau mas benar-benar sayang mas bilang sayang ke Sella!"


"Hah!"


"Kenapa?ndak mau?Yaudah kalau dak mau Sella anggap mas cuma mempermainkan Sella. Sella gak akan ganggu mas lagi!"


'Ini orang sebenarnya lebih tua dariku beneran apa tidak. Tingkahnya lebih buruk dari Friska, semaunya sendiri'

__ADS_1


"Sekarang malah diam?Baik!maaf menggangu, Sella pamit"


"Eh!Iya sayangku. Mas Sayangggggg."


"Siapa itu Kak?Kok sayang sayang?"


Fero terkejut dan segera menoleh ke arah ibunya sementara tangannya mendekap ponsel dengan kedua tangannya.


"Mammmm!!! Hahahahahaha kok mami di belakangku??Hahahahahaha."


Bu Rosida dengan muka polos padahal dalam hati tertawa melihat tingkah anaknya.


"Mami kira adikmu telpon. Kuatir kalau-kalau Friska dapat masalah makanya mami coba dengar telpon nya. Malah kamu sayang-sayangan."


Melihat ibunya sekarang berlalu ke dapur tapi terlihat senyum nyengir sekilas yang nampak justru membuat Fero tertawa lepas.


"Oh!", kata Bu Rosida pendek sambil berusaha menyabun beberapa piring habis makan tadi malam."Coba jelasin ke temanmu siapa tahu dengar omonganmu tadi kalau cuma teman", kata Bu Rosida lagi dengan santai namun masih dalam posisi membelakangi Fero.


Fero segera meletakkan Hp kembali ke telinga dan seperti Fero duga suara di seberang makin menjadi jadi apalagi Fero tidak segera menjawab pertanyaannya.


"Jadi mas anggap aku cuma teman. Bahkan mas malu punya pacar Sella?"


'Pacar?Kapan juga aku ngomong pacar'


Fero berusaha memutar otak menyusun kata-kata, "Bu..bukan begitu. Tadi ibuku jadi..."


"Jadi mas malu punya pasangan seperti Sella bahkan tidak mau mengakui di depan ibumu?"

__ADS_1


'Ya Tuhan bisa tidak permintaan tadi malam dibatalkan?"


"Begi...ni....Yahhhhhhh!Mati."


Bu Rosida menoleh ke Fero, nampak senyuman tipis di bibir berkeriput itu?


"Siapa dia Kak?"


Fero sekarang sudah dalam posisi duduk hanya berbalut handuk. Terlihat lesu dan bingung menatap langit-langit.


"Yahh!!Ndak tahu mi."


"Kok dak tahu?Cantik anaknya?"


Fero sekarang menoleh ke arah ibunya yang tersenyum penuh makna sindiran.


"Mamiii ini malah nyindir trus."


"Mami bukan nyindir justru mami senang kalau anak mami memiliki pasangan. Usiamu sudah waktunya selain itu..."


Fero kembali menoleh ke arah ibunya yang menunjuk ke arah kamar tidur dan mengucapkan sesuatu namun tanpa suara.


'Papimu pingin cucu'


Mata Fero terbelalak merasa konyol.


"Buahahahahahahahahahahahaha."

__ADS_1


Fero meletakkan ponselnya dan segera mengambil baju di kamar ibunya karena hanya ada satu almari di rumah tersebut. Dilihat ayahnya masih dalam tidur nyenyaknya padahal tanpa Fero sadari ayahnya sudah bangun dan menguping pembicaraan nya tadi. Dalam ke pura-puraan nya yang seolah tidur nampak senyum tipis bahagia dan berharap yang terbaik untuk putranya.


__ADS_2