Ojol Vs Dokter Angkuh

Ojol Vs Dokter Angkuh
Masih di Klinik


__ADS_3

Hari mulai larut namun Marsella masih berbaring kesepian di klinik. Kata-kata Friska memanggil Fero 'Kakakku' berulang diotaknya hampir ribuan kali. Salah satu pegawai klinik naik ke atas tempat istirahat Marsella dan mulai mengetuk pintu.


"Dokter maaf ada orang mencari dokter laki-laki dan sekarang masih menunggu dokter di bawah."


Marsella terdiam sesaat sebelum menjawab, "Siapa Nell?"


Masih berdiri di depan pintu yang tertutup Nella nama karyawati itu mulai bingung menjawab karena merupakan karyawan baru dan takut salah bersikap, " Kurang tau dokter hanya saja dari tadi bersikeras menunggu dan katanya sudah menghubungi dokter dari tadi. Kak Emma juga sudah telpon atau Wa ke dokter sih tadi."


Marsella segera mengambil ponselnya dan melihat pesan maupun telpon yang masuk ke ponselnya.


"Oh oke Nell aku segera turun, kamu turun saja dulu!"


Marsella segera menuju ke kamar mandi dan mulai membersihkan diri.

__ADS_1


Fero masih setia termenung sambil sesekali tersenyum menjawab pertanyaan ojolers yang hilir mudik nongkrong di warung yang buka 24 jam dan bisa dikatakan menjadi salah satu base camp ojol di daerah tersebut. Fero enggan beranjak, lusinan pesan masuk maupun panggilan telpon dari Friska tak dihiraukannya. Fero hanya beranjak sebentar saat menjemput ibunya dan mengantarkannya pulang. Pusing melihat kegaduhan adiknya melalui rentetan WA baik pesan maupun panggilan membuat Fero memilih menjawab satu kalimat tanpa peduli respon adiknya setelah itu.


'Nanti kakak ceritakan kalau kamu sudah pulang.'


Friska hanya bisa menghela nafas panjang membaca pesan kakaknya. Friska sangat hafal dengan karakter kakaknya jika dia kecewa terhadap sesuatu maka dia cenderung diam bahkan tidak akan mau lagi bicara apapun terkait hal yang mengecewakan itu. Friska menyadari kakaknya merupakan seseorang yang sangat sabar, artinya jika dia kecewa maka kesalahan itu merupakan batas ujung kesabarannya. Friska kemudian menduga-duga hubungan antara kakaknya dengan wanita itu, serangkaian kata-kata wanita itu tiba-tiba terngiang jelas kembali di ingatan Friska yang membuat Friska tercengang.


"Hah!!!Apakah dia? Tapi dia dokter....?"


Marsella duduk tersenyum memandang ke arah Rendi. Masih di ruang tunggu klinik Rendi merasa bingung dengan tatapan Marsella. Jelas terlihat bekas air mata dan kesedihan di wajahnya tapi kenapa bisa demikian apa gara-gara dikira pikir Rendi.


"Maaf ya Sell tadi aku terlambat karena..."


Belum selesai Rendi menjelaskan Marsella memotong, " Dak papa Rend santai saja."

__ADS_1


Marsella mengambil duduk sambil menawarkan minuman yang tersedia di klinik yang biasanya diperuntukkan bagi pengunjung klinik tersebut.


Karin dan Emma yang sekarang berada di garis depan karena kebetulan gantian teman-teman yang lain sedang melakukan treatment kepada pasien.


"Rin kamu hutang cerita kali ini." bisik Emma dengan muka nyengir


Karin segera memberi tanda kepada Emma agar tidak meneruskan pembicaraan ini. Mereka berdua sekarang menunduk seolah tidak memperhatikan dokter dan tamunya itu. Namun telinga mereka tidak demikian, telinga kedua wanita itu membesar siap menangkap suara sekecil apapun.


Rendi masih terdiam melihat wajah sedih Marsella yang dipaksa untuk tersenyum. Rendi tidak habis pikir apa gara-gara dia terlambat Marsella sampai menangis atau ada hal lain yang dia tidak ketahui. Melihat Rendi kebingungan Marsella membuka mulutnya.


"Jangan kuatir Rend ini bukan karena dirimu."


Rendi hanya bisa terpaku melihat kata-kata Marsella. Rasanya kurang pas juga menanyakan sebab yang membuat Marsella sedih kalau itu bukan karena dirinya.

__ADS_1


__ADS_2