
Langit begitu biru, sepasang mata syahdu memandang tak jemu. Sesekali tersenyum bibir menahan pilu. Tak nampak angan dalam benak. Mata itu sekarang menatap ponsel yang terbaring lemah di pinggiran sungai, berkali-kali bergetar tapi tidak menggoyahkan hati untuk mengambilnya.
Namun pada akhirnya tangan yang merasa lelah mengalah.
"Mas....! Mas dimana....? Tadi katanya mau ambil bekal titipan ibu?"
Fero tersenyum mendengar suara itu, meski sebagian hatinya merasa sedih.
"Mas tadi kelupaan soalnya tiba-tiba ada orderan masuk.... Maaf ya mungkin lain kali..."
'Mungkin'
Sella hanya bisa diam mendengar jawaban itu. Dikuatkan hatinya sebelum berbicara, "Mas.... Sella boleh tanya...?"
"....Iya Sell. Tanya apa?"
"Bagi Mas, Sella ini apa...?"
Fero kembali mendongak menatap awan. Sementara di seberang telpon duduk dengan pilu seorang wanita menunggu suara merdu pria lugu.
"Apakah hanya teman?Atau hanya pengisi waktumu? Atau mungkin hanya pemuas nafsumu?"
__ADS_1
Fero yang hendak membuka suara kembali menutup bibirnya dan tersenyum. Agak lama dikuatkan hatinya untuk mengatakan bahwa kamu seseorang yang mengisi hatiku. Akan tetapi pikiran tersebut tidak jadi diucapkannya ketika mendengar ketidaksabaran wanitanya.
"Kamu itu bagiku orang yang menjengkelkan, semaunya sendiri. Apa-apa harus sesuai keinginanmu. Apa kamu pernah memikirkan perasaan orang lain kalau bicara atau bertindak? Hahahahahaha benar-benar wanita menyebalkan sejujurnya."
Marsella hanya terbengong mendengar jawaban Fero. Karakter Marsella yang menurun dari ayahnya memang agak sukar memahami kalimat maupun perasaan orang lain. Marsella yang selalu berkecukupan dan selalu terpenuhi semua nya merasa kadang bahwa apapun itu, semua keputusan ada di tangannya dan apapun yang dia inginkan harus dia dapatkan.
Sedikit kalimat Fero menyadarkan dirinya bahwa tanpa dia sadari dirinya adalah cerminan sikap ayahnya.
"Mas jangan marah dulu! Sella kan hanya bertanya?"
Fero merasa kehabisan kata-kata seolah memang perbedaan cara pikir sukar untuk disatukan.
Entah mengapa Fero merasa sangat lelah padahal belum sekalipun mengantar penumpang hari ini. Tubuhnya merasa lemas dan ingin rasanya merebahkan diri.
" Bukan begitu maksut Sella mas. Jangan marah ya.....?"
"Hahahahaha! Mas marah kenapa juga Sella?"
Marsella merasa kegirangan seperti anak kecil, "Benarkah? Kalau begitu Sella boleh dong ketemu lagi sama mas? Sekarang?"
Fero hanya bisa melongo digaruknya kepalanya yang dirasa gatal dalam otaknya.
__ADS_1
"Ya.. ya .. ya boleh sih. Hanya saja kan tadi baru ketemu, mas kapan kerjanya kalau ketemu lagi?"
Sella mencibirkan bibirnya, " Mas dak usah kerja hari ini temani Sella ya mas? Mau ya, mau ya?"
Fero menghela nafas berkali-kali, dadanya terasa sesak seakan tidak ada oksigen yang masuk ke paru-parunya. Mungkin hanya ibunya, satu-satunya manusia di bumi yang tidak membuat kepalanya berat saat berbicara. Ayahnya, adiknya yang bawel dan sekarang wanita yang baru hadir di hidupnya ini. Fero merasa jika dia berbincang dengan mereka kepalanya tambah pusing.
"Sella, dengarkan baik-baik! Mas bukan orang seperti Sella, sudah 2 hari mas hampir tidak maksimal bekerja sementara mas perlu mendapatkan penghasilan setiap hari demi kebutuhan keluarga di rumah. Mas harap Sella bisa mengerti!"
Sekali lagi Fero merasakan berat di dada saat ditunggu suara yang tak kunjung terdengar.
"Lagipula Sella juga harus fokus ke pekerjaanmu kan? Nanti kalau sudah sama-sama selesai bekerja bisa saling bertemu lagi."
"Yaudah kalau begitu..."
"Nah gitu dong....ong...Hallo Sell!?"
"Dimatiin.....???"
"Arghhhhhhh!!!!"
Fero merasa geram ingin rasanya memakan batang pohon di sebelahnya. Direbahkan dirinya di atas tanah tak peduli lagi kotor jaket dan rambutnya. Fero merasa amat lelah sangat lelah.
__ADS_1