
Langit di atas 3 bangunan tinggi buatan pemerintah kota nampak telah petang. Terlihat wanita tua bersama anak gadisnya yang sedang asik menikmati semangkuk bakso berbincang tak kalah asik. Sesekali melirik mang bakso yang sedari tadi menahan liur mencuri pandang ke arah si gadis. Dan terlihat beberapa kepala dari beberapa jendela yang juga berusaha mengambil dokumentasi dan berfantasi akan paras gadis itu.
Fero berhenti tepat di depan mamang bakso dan masih diam membisu di atas motor menatap ke arah dua wanita di depannya.
"Eh! Kak, kemana saja sih kakak di telpon di wa dari tadi suruh jemput malah kagak aktif hpnya?"
Friska meletakkan mangkuk baksonya dan seketika wajah manis dan cantik itu berubah menjadi sesuatu yang menakutkan bagi Fero meskipun bagi mang bakso malah terlihat menggemaskan.
"Darimana kak?"
Wanita tua itu melihat Fero dengan wajah santai seperti biasanya.
Fero tidak segera menjawab namun segera turun dan melepas helmnya.
"Bang campur!"
__ADS_1
Babang Bakso segera meracik bakso pesanan meskipun hatinya sebagai lelaki terluka. Bagaimana tidak dirinya hanya sebahu Fero, selain itu ketampanan wajah orang yang baru pesan menyadarkan kembali betapa tidak adilnya Tuhan akan hidupnya.
'Sudah miskin jelek lagi diriku ini'
Begitulah lubuk hati terdalamnya bicara.
Fero duduk di sebelah Friska yang hendak memberondongnya dari ketidakpuasan sikap kakaknya. Namun sebelum Friksa sempat bicara, Fero segera mencowel dua pipi Friksa sehingga tampak lucu wajahnya.
"Dasar bawellllllllll! Hp kaka hilang wel bawel."
Friska yang sudah kembali ke wujud cantiknya setelah kakaknya melepaskan cubitannya berusaha menenangkan emosinya.
"Ya tadi kakak lelah trus baring di tepi sungai. Bangun-bangun hp udah hilang, untung kunci motor kutaruh di saku dalam jaket kalau tidak mungkin bisa hilang juga tu motor. Sama helm untuk penumpang juga hilang."
Friska dan bu Rosida hanya memandang bingung ke arah Fero yang malah santai, seolah tak peduli dengan masalahnya dan malah asik dengan semangkuk bakso di tangannya.
__ADS_1
Sementara itu duduk dengan amarah tak tentu seorang wanita di sebuah tempat makan di tengah kota. Masih dipandangi hp di tangan yang tak mungkin pergi kemana -mana. Puluhan kata-kata dan panggilan keluar ke nomer yang sama. Tapi nomer tersebut tidak menunjukkan keaktifannya. Makanan yang telah dipesan kini telah dingin dimakan angin yang hilir mudik dari tadi. Tanpa sedikitpun tersentuh makanan itu sekarang ditinggalkan pemesannya menuju kasir. Melihat dari jauh makanan masih utuh pegawai di kasir menawarkan untuk membungkus makanan tersebut.
"Kak apa makanannya mau dibungkus?"
Senyum ramah pegawai kasir tak mampu mengusir wajah masam kecewa sang pemesan.
Pegawai itu tetap tersenyum ramah meski wanita yang memesan tersebut hanya menggelengkan kepala tanpa sepatah kata keluar dari mulutnya.
"Baik kak terimakasih sudah memesan makanan di sini."
Marsella tersenyum sekilas ke arah pegawai tersebut sebelum kembali berwajah masam keluar dari tempat itu.
Pegawai yang bertugas membersihkan meja hanya melihat sekilas ke arah wanita yang keluar dengan langkah lesu dan mengamati banyaknya makanan yang terhidang di meja masih utuh seperti saat di sajikan dan melambaikan tangan ke temannya untuk meminta bantuan tentunya.
"Bro ini nih kalau masalah Cinta. Bahkan makanan yang tak bersalah jadi korban. Makanya aku malas kalau pacaran mending langsung nikah saja."
__ADS_1
"Halah alasan lu aja kagak laku jon jon."
Kedua pegawai itu tertawa sambil segera membereskan makanan yang mungkin bisa mereka makan di bekakang nanti.