
Mobil mungil telah terparkir pada tempatnya, tapi Marsella tak kunjung keluar membuat Fero semakin bingung. Marsella tertawa cekikian dalam hati, tangannya meremas kemudi. Kemudian pikirannya kembali sadar diambilnya beberapa alat ritual wanita dari dalam tasnya.
'Kenapa lagi ini?Kapan cari uangnya kalau begini?'
Fero menunduk lesu merasakan dilema hubungan ini. Sesaat terlintas penyesalan dan rasa syukur akan nikmatnya sendiri. Tetapi pikiran itu berubah saat dilihatnya wanita pemilik klinik berdiri dengan wajah tersenyum bahagia.
'Ya Tuhan cantik nyaaaaa....'
Belum sempat Fero menyampaikan ingin memberikan bekal titipan ibunya, Marsella menarik tangan Fero mengajaknya masuk ke klinik.
"Dokter! Eh!"
Mulut Emma tertahan saat dilihatnya tangan Bosnya menarik manja pengemudi online berwajah rupawan itu. Emma menoleh ke arah Karin yang lebih memilih berpura-pura tidak melihat kejadian tersebut. Karin memang baru sebentar mengenal Fero dan pernyataan Fero tentang hubungannya kemarin juga sempat dia pertimbangkan mengingat kenangan yang sudah banyak tercipta. Namun ketika Karin berusaha menghubungi pacarnya Johni nampaknya hanya nada datar seakan memberitahu Karin bahwa laki-laki itu telah memiliki wanita lain. Sehingga ketika Karin melihat kembali Fero hatinya terasa nyeri berselubung rasa cemburu.
Fero menoleh sesaat ke arah Karin yang sedang berpura-pura menyibukkan diri di meja resepsionis dan kembali menoleh Marsella saat genggaman tangan Marsella meremas pelan tangannya.
__ADS_1
"Mas!"
Marsella menatap manja laki-laki yang berdiri 10 cm darinya, begitu dekat kepalanya mendongak memastikan betapa simetris dan sempurna wajah berjaket ojol ini. Hidungnya yang mancul menghembuskan nafas yang mendebarkan hatinya, matanya yang lebar dengan berwarna coklat begitu syahdu dan penuh kelembutan saat dipandang, dan tak satu pun jerawat menempel di pipi yang setiap hari terkena polusi.
'Sungguh indah dan sempurna kamu Mas.'
Fero yang masih merasa bingung kini menatap balik Marsella. Hatinya tidak jauh berbeda dengan wanita di depannya. Saling mengagumi keduanya terpancar dari mata mereka seolah mata itu masing-masing memberitahu bahwa mereka memiliki perasaan yang sama.
Marsella memeluk Fero dengan perasaan begitu dalam seolah hubungan itu telah lama berlangsung.
Diperlakukan seperti itu Fero merasa terkejut. Hanya dua wanita yang seumur hidupnya pernah memeluknya dan dia peluk yaitu ibu dan adiknya. Dan Marsella adalah wanita pertama selain keluarganya dan ini menimbulkan sensasi begitu berbeda meski beberapa hal ada kesamaan. Seperti perasaan nyaman,damai, sayang dan hangat, namun tidak Fero pungkiri tubuh Marsella sekarang begitu terasa setiap bagian pribadi dan intim berbusana itu seakan Fero mampu melihat dan merasakan dalam imajinasinya.
Fero membalas pelukan Marsella diciumnya rambut beraroma elegan itu. Entah mengapa setitik air mata muncul di penghujung mata Fero.
'Rasa bahagia ini'
__ADS_1
"Mas juga demikian."
Kepala yang tersandar di dada mendongak pelan ke arah sumber suara yang membuat hatinya bahagia. Marsella memandang kembali ke arah Fero, wajahnya semakin mendongak memberi tanda bahwa bibir berbalut lipstik tipis siap untuk diberikan sentuhan. Fero memahami dan mengerti sikap Marsella disambutnya bibir tipis yang sekarang lebih sering terbayang.
"Masss."
Desahan pelan Marsella membuat gairah Fero melonjak. Celana jeans terasa amat sesak, Marsella yang lebih banyak memiliki pengalaman merasakan sesuatu mendesak perut bawahnya. Pikirannya kembali diarahkan ke bagian atas, harum nafas Fero membuat Marsella kembali ke saat kenangannya bersama Yansen. Memang Yansen seorang dokter, sama-sama kaya namun bau nafas Yansen agak kurang sedap, Marsella tahu itu karena Yansen tipe orang yang malas untuk gosok gigi. Hanya penampilan luar Yansen terkesan keren karena ditunjang modal tapi untuk bau mulut Marsella begitu kagum pada laki-laki yang sekarang telah menjamah seluruh isi mulutnya begitu segar sehingga Marsella merasa betah berlama-lama, bahkan seharian pun Marsella rela melakukan jika bersama Fero. Namun belum selesai Marsella berandai-andai sebuah ketukan pintu membuat bibir yang saling mengenal lebih dalam itu terpaksa harus kembali terpisah.
"Dokter!"
"Eh! Iya Emm sebentar!"
Marsella tertawa tertahan sambil menatap Fero yang menggaruk kepala dan ikut tertawa melihat tingkah Marsella.
"Oiya! Mas lupa tadi bawa bekal dari ibu untukmu. Mas ambil di motor dulu ya?"
__ADS_1
Marsella menggangguk tersenyum dan meminta sedikit kecupan samar untuk bibirnya sebelum orang terkasihnya membuka pintu.