Ojol Vs Dokter Angkuh

Ojol Vs Dokter Angkuh
Nongkrong


__ADS_3

Rendi berjalan dengan gagah ke arah wanita yang begitu cantik di matanya. Lampu tempat tongkrongan yang menyajikan berbagai macam jenis kopi menambah nuansa romantis agak gelap tapi serasi dengan wanita yang sekarang ditatapnya. Marsella selama 3 hari mendapat ajakan Rendi dan dirinya merasa tidak tega lagi menolak sementara selama 3 hari ini pula orang yang dia harapkan tak kunjung menemuinya bahkan ponselnya masih tetap tidak menunjukkan tanda-tanda kehidupan.


Rendi memakai kaos santai namun justru semakin menunjukkan guratan otot yang jelas terukir jelas di kaos yang dia gunakan.


Malam itu Rendi begitu dominan berbicara dan entah karena rasa kecewa nya terhadap Fero atau memang Rendi begitu menarik hari ini sehingga setiap kata yang keluar dari mulut Rendi begitu menghibur Marsella yang selama 3 hari ini yang merasa sepi. Marsella begitu fokus mendengarkan Rendi sampai pada titik sudut matanya seolah melihat sekilas sosok yang sangat dikenalnya berbaju ojol membawa bungkusan minuman dari kasir dan berjalan agak cepat keluar tempat tersebut.


Rendi hanya terbengong saat Marsella yang sedari tadi tersenyum memandangnya tiba-tiba berlari ke arah pintu keluar. Meskipun hari telah malam Marsella yang masih berdiri memandang sosok di atas motor yang sudah menjauh sangat yakin siapa yang dia lihat. Hatinya benar-benar merasa kecewa saat air mata hendak mengalir keluar Rendi tiba-tiba sudah berdiri di sebelahnya dengan kebingungan.


"Ada apa Sell?"

__ADS_1


Marsella yang terkejut sehingga air mata yang tadi hampir tumpah seperti tertarik kembali, "Ah! Tidak Rend kukira tadi seseorang yang kukenal ternyata bukan."


Rendi celingukan memandang ke arah jalan atau tempat parkir mengira orang yang dilihat Marsella mungkin juga temannya namun tak ditemukannya. Kemudian Rendi segera menyusul Marsella yang sudah kembali ke mejanya.


Kembali Rendi mulai membuat suasana hidup dengan ocehannya namun kali ini Marsella terlihat tidak seperti sebelumnya yang antusias dengan ceritanya.


Fero telah mengantar pesanan minuman ke lokasi tujuan. Terlihat beberapa kali dirinya menghela nafas. Sebenarnya bukannya Fero tidak melihat Marsella tadi. Sebelum masuk dirinya memandang Marsella yang sedang tersenyum mendengar dan memperhatikan Rendi. Mata itu terlihat bahagia dengan sosok yang memang Fero akui lebih pantas bersanding dengan Marsella. Ada rasa sakit entah sakit kenapa saat melihat kebersamaan mereka, namun Fero berusaha menyadari posisinya.


Kembali ke Rendi dan Marsella yang masih duduk menikmati merdunya lantunan suara artis ibukota. Marsella sebenarnya ingin segera pulang namun mulut Rendi tak hentj henti memborbardir telinganya dengan serangkaian kata yang susah untuk diambil jedanya.

__ADS_1


"Ohya Sell yuk kita pulang sudah larut dan kamu baru pulang kerja tadi. Lebih baik kamu segera istirahat."


Marsella yang sedari tadi berpikir untuk menyudahi ocehan Rendi serasa tak percaya dengan kata-kata yang baru didengarnya.


"Iya Rend, makasih ya perhatiannya. Baik besok dilanjut lagi kalau ada waktu."


"Oh aku selalu ada waktu untukmu Sell. Besok kalau mau nongkrong lagi aku siap kabari saja!"


"Hahahahaha iya Rend ntar aku kabari." Marsella merasa kepalanya pening sepertinya ucapannya tadi tidak seharusnya dia katakan.

__ADS_1


Marsella mengikut langkah Rendi menuju kasir diamatinya punggung lebar berotot itu. Dulu Rendi memiliki pembawaan seperti Fero, pemalu tidak banyak bicara tapi Marsella menyukainya meskipun badannya kurus kerempeng. Sekarang entah mengapa dengan badan atletis dada bidang yang sebenarnya bisa dikatakan tubuh lelaki ideal bagi kebanyakan kaum hawa, Marsella justru jijik melihatnya. Mungkin karena Rendi terlihat seperti dibuat-buat dan seolah memarmerkan badan kekarnya.


__ADS_2