
Rendi dan Marsella masih berada di resto, sementara Fero telah pergi menuju pelanggan. Sempat mata Marsella memandang jauh begitu sendu ke arah Fero memarkirkan motornya dan Fero tidak melihat ke arahnya sekalipun.
"Kebetulan sekali bisa ketemu di sini." Berdiri laki-laki berwajah putih bening tinggi menjulang lebih tinggi dari Fero maupun Rendi. Badannya tidak terlalu kekar namun namun wajah oriental ditambah senyum manisnya mirip wajah personil boyband Korea.
Marsella melihat sesaat ke laki-laki yang berdiri di sampingnya dan kemudian membuang mukanya, " Ngapain kamu ke sini!"
"Ketus sekali kamu Sell mentang-mentang dapat gebetan baru." Melirik sebentar ke arah Rendi, dan kemudian pergi sambil tertawa tipis.
Dengan pandangan mata tajam Rendi memandang ke arah pria yang baru saja pergi lalu menoleh ke arah Marsella, "Siapa itu Sell?".
__ADS_1
Marsella menunduk memilih diam dan kemudian berdiri, " Maaf Rend, kalau ada waktu disambung lagi obrolan kita, aku pamit dulu,,Trimakasih atas traktirannya."
Rendi hanya diam melongo melihat Marsella yang tiba-tiba berubah dan pergi meninggalkannya begitu saja.
"Hai bung! lain kali jaga etikamu kalau kau dak mau merasakan ini menghajar wajah lembekmu itu." Dengan mengepalkan tangan kanan dan tangan kiri memegang pundak pria yang lagi asik dengan makanannya.
"Egh!sabar-sabar bos." Berusaha menelan makanan dan terlihat perasaan takut di wajah yang kulitnya lebih bening dari wanita itu.
"Berani beraninya si ******* itu menghampiri!!" Marsella memukul setir mobilnya dengan keras sementara mulutnya tak henti-henti mengumpat. Ya,lelaki itu memang mantan pacar Marsella. Jika Rendi adalah cinta pertama namun bukan pacar pertama karena Rendi waktu itu belum berani membalas perasaan Marsella. Beda dengan Yansen, teman satu angkatan kuliah kedokteran dan bahkan sama-sama mengambil spesialis dokter Kulit dan Kelamin, merupakan mantan pacar Marsella dan orang pertama yang mengambil kesuciannya.
__ADS_1
Sering bertemu selama kuliah membuat Marsella jatuh hati pada Yansen waktu itu, Yansen merupakan keturunan orang kaya keluarganya adalah salah satu dinasti keluarga dokter spesialis Kulit dan Kelamin di kota besar, ayahnya juga teman lama ayah Marsella.
Berkenalan dengan Yansen membuat Marsella yang merupakan gadis rumahan menjadi liar, dunia malam minum-minuman telah Yansen kenalkan ke Marsella. Cinta buta membuat Marsella remaja begitu tergila-gila dengan Yansen dan apapun yang Yansen lakukan adalah hal benar dan indah baginya.
Sehingga rayuan dan ajakan Yansen untuk tinggal dan tidur bersama pun dia iyakan.
Semakin dalam cinta dan sayang Marsella ke Yansen karena dia laki-laki yang pertama menyentuh dan mengambil kesuciannya ternyata tidak berbanding lurus dengan apa yang Yansen perbuat. Yansen lebih liar mengumbar nafsu birahinya, setelah mengetahui nikmatnya surga dunia bernama wanita. Setiap wanita dia kencani dan tiduri bahkan menyewa beberapa pelacur untuk memuaskan fantasi sexnya.
Karena hal tersebut Yansen pernah terkena salah satu PMS atau penyakit menular sex dan dia tularkan ke Marsella. Saat itulah Marsella sadar bahwa Yansen adalah laki-laki ********, namun karena mereka berdua mendalami tentang penyakit kelamin dan cara mengobati sehingga membuat mereka mengambil tindakan lebih cepat dan berhasil menyembuhkan.
__ADS_1
"Kalau kuingat-ingat lagi wajah ******** itu ingin rasanya menghajar wajahnya tadi. ******** Yansen!" Pada saat Marsella disulut api amarah di arah berlawanan dari mobilnya terlihat seseorang yang begitu menyejukkan Marsella saat itu juga. Marsella memelankan kendaraannya demi mengamati laki-laki yang membuat hatinya merasakan kedamaian.
Fero dengan santai menyisir jalanan demi memancing orderan tidak mengerti dari dalam mobil yang baru saja melewatinya ada sepasang mata penuh harap memandang dirinya.